PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Aksi tolak bala “10 Juta Doa Umat untuk Negeri” di Masjid Agung At-Taqwa Kelurahan Anggut Atas yang digagas oleh Pemerintah Kota Bengkulu mulai menimbulkan pro dan kontra.

Sejumlah pihak menilai tidak masuk akal mengumpulkan 10 juta umat di Kota Bengkulu, terlebih penduduk se-Provinsi Bengkulu belum mencapai dua juta jiwa.

Pihak lainnya mengungkapkan sebaiknya Pemerintah Kota Bengkulu melandasi niat bagus dengan menyesuaikan kondisi dan situasi yang nyata agar tidak berbuah cemoohan.

Pun demikian, tak sedikit pula orang yang mendukung dan mengajak agar semua pihak ikut serta mensukseskan kegiatan ini karena bukan hanya positif untuk menghindari bencana, namun juga berpotensi menggeliatkan ekonomi Bengkulu dengan banyaknya tamu yang datang.

Walikota Bengkulu Helmi Hasan tak bergeming dengan pandangan-pandangan semacam itu. Menurutnya dalam agama, Tuhan menilai amalan manusia dari niatnya.

“Misal uang disaku kita ada Rp100 ribu dan Rp5 ribu. Dari rumah kita sudah berniat berinfaq Rp100 ribu tapi uang yang masuk dalam celengan masjid Rp5 ribu. Allah menghitungnya tetap Rp100 ribu. Sebaliknya kalau dari rumah niatnya Rp5 ribu namun uang yang masuk Rp100 ribu, pahalanya tetap dihitung Rp5 ribu. Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya,” kata Helmi menjelaskan, Sabtu (6/10/2018).

Helmi menjelaskan, jutaan langkah besar pasti dimulai dari satu langkah kecil. Menurutnya, sebuah kegiatan positif tidak harus langsung semarak pada awalnya.

Sama halnya dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bengkulu yang dahulunya kecil namun saat ini telah menjelma menjadi rumah sakit yang megah di pusat Kota Bengkulu.

“Ibadah haji pada awalnya tidak diikuti jutaan manusia dari seluruh dunia sebagaimana yang sering kita saksikan sekarang. Dahulu mulanya hanya Ibrahim dan keluarganya,” ungkap Helmi.

Helmi menekankan bahwa Pemerintah Kota Bengkulu akan mengundang semua pihak, termasuk pengurus masjid se-Indonesia untuk mensukseskan aksi tolak bala “10 Juta Doa Umat untuk Negeri” ini.

“Ini adalah bentuk sumbangsih kita terhadap kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan,” demikian Helmi. [Deni Dwi Cahya]