Andri Pratama

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Sejumlah aktivis yang berasal dari Kabupaten Bengkulu Utara menyoroti kondisi jalan lintas yang berada di Desa Urai.

Pasalnya, jalan poros yang terletak di Desa Urai di Bengkulu Utara tersebut sekarang kondisinya semakin parah dan hampir putus, dari lebar jalan yang semula 6 meter, sekarang hanya tersisa sekitar setengah meter.

“Jalan ini dulunya adalah jalan lintas barat Bengkulu – Mukomuko, sekarang sudah habis dimakan abrasi, parahnya, bukan hanya satu titik itu saja yang rusak parah,” kata Andri Pratama Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Bengkulu Utara (Himabu) kepada Pedoman Bengkulu, Selasa pagi (13/11/2018).

Andri menyayangkan lambatnya tindakan dari pemerintah terkait kerusakan jalan tersebut karena sampai saat ini belum memberikan solusi kongkrit kepada masyarakatnya.

Menurutnya, walaupun saat ini jalan lintas sudah dialihkan ke Batiknau, pemerintah tidak boleh berlaku diskriminasi terhadap kondisi jalan pesisir tersebut. Memang benar, anggaran pembangunan fisik jalan itu bukanlah tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten, namun seluruh elemen pemerintah tetap harus bertanggung jawab terhadap keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kemaslahatan masyarakat sekitar situ.

“Memang sekarang jalan lintas sudah dipindah lewat Kecamatan Batiknau, tapi yang perlu diingat adalah disitu masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses jalan untuk beraktivitas sehari-hari dan jalan itu adalah satu-satunya akses mereka,” tegas Andri yang juga merupakan masyarakat Desa Urai.

Adapun beberapa desa sekitar yang sangat membutuhkan jalan tersebut antara lain, Desa Air Simpang, Desa Urai, Desa Serangai, Desa Selolong dan Desa Air Lakok.

“Di dekat situ ada sekolah juga, ada anak-anak yang setiap hari mau ke sekolah, ada juga masyarakat yang mau bekerja, ke pasar, ke kecamatan dan lain sebagainya. Saat ini mereka memaksakan lewat situ walaupun membahayakan nyawa mereka, menurut mereka, lebih baik lewat situ dari pada harus memutar ke Batiknau yang terpaut waktu hingga 1,5 jam,” jelasnya.

Diketahui sebelumnya, karena lambannya respon pemerintah terhadap kondisi jalan tersebut yang sudah berlarut-larut, Senin kemarin (12/11/2018) perangkat Desa Urai melakukan hearing dengan Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.

“Memang infonya kemarin warga Desa Urai sudah menemui Plt Gubernur, namun kita lihat saja apa tindakan kongkritnya, dan kapan pelaksanaannya,” pungkasnya.

Saat ini, Andri berharap kepada pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten, agar mereka dapat membantu memberikan solusi terhadap kondisi jalan yang saat ini sudah sangat membahayakan masyarakatnya.

“Jangan sampai jalan rusak ini memakan korban, dengan jurang pantai sekitar 10 meter itu jelas membahayakan masyarakat yang melintas,” pungkasnya. [Deni Dwi Cahya]