Cita-cita untuk menjadikan Bengkulu sebagai daerah yang bahagia dan religius merupakan impian yang mulia. Sebab itu, semua pekerjaan untuk mendukung terwujudnya Bengkulu yang bahagia dan religius itu merupakan sebuah pekerjaan yang maha penting, jauh lebih penting dari pekerjaan apapun di tanah kelahiran Fatmawati Sukarno ini.

Misalnya Gerakan Memakmurkan Satu Juta Masjid di Indonesia (Gemasajid) yang gaungnya telah terdengar sejak kegiatan Hari Pahlawan “Doa 10 Juta Umat untuk Kebaikan Negeri” yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Bengkulu pada 10 November 2018 kemarin.

Saat itu, ribuan manusia berjejal memenuhi saf demi saf di dalam dan luar Masjid Akbar At-Taqwa Kelurahan Anggut Atas, melaksanakan salat berjamaah, meneteskan air mata serta memohon kepada Allah subhana wa ta’ala untuk dijauhkan dari segala macam bentuk bencana dan malapetaka.

Belum lagi kesan “Doa 10 Juta Umat untuk Kebaikan Negeri” itu menghilang dari ingatan, Walikota Bengkulu H Helmi Hasan kembali mencanangkan 300 ribu anak muda hijrah menjadi ahli masjid, tepat pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bengkulu ke-300 pada tanggal 17 Maret 2019 mendatang.

Gerakan ini dikemas dalam bentuk jambore hijrah massal memakmurkan satu juta masjid dengan target menghadirkan 300 ribu pemudi dan pemuda. Panitia Jambore, Dempo Xler, mengatakan, kegiatan ini melibatkan remaja masjid, organisasi kepemudaan, organisasi masyarakat, dan komunitas pemuda se-Indonesia dari sejak tanggal 14 Maret hingga 17 Maret 2019.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bengkulu, Ustaz H Yul Kamra, mengatakan, kegiatan ini juga akan melibatkan organisasi keagamaan lainnya dan menghadirkan da’i kondang Ustaz Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, Ustaz Adi Hidayat, para artis hijrah seperti Derry Sulaiman, Takaeda dan yang lainnya.

Sementara inisiator Gemasajid, Ustaz Saeed Kamyabi menuturkan, Gemasajid adalah gerakan masyarakat memakmurkan satu juta masjid di Indonesia, secara massif. Disebut secara massif karena yang bergerak bukan hanya kaum lelaki tapi juga kaum perempuan yang mendorong suaminya ke masjid, mendorong saudara lelakinya ke masjid, dan mendorong anak lelakinya ke masjid.

Bahkan, lanjut Ustaz Saeed Kamyabi, sekeluarga saling mendorong ke masjid. Ayah mengajak anaknya, anak mengajak ayahnya, mertua mengajak menantunya, menantu mengajak mertuanya, adik mengajak abangnya, abang mengajak adiknya, ipar mengajak iparnya, tetangga mengajak tetangganya, semua saling mengajak, tidak ada yang tertinggal.

Bertemu di gunung mengajak ke masjid, bertemu di lembah mengajak ke masjid, bertemu di darat mengajak ke masjid, bertemu di laut mengajak ke masjid, bertemu di kebun mengajak ke masjid, bertemu di kantor mengajak ke masjid, bertemu di pabrik mengajak ke masjid, bertemu di bengkel mengajak ke masjid, bertemu di pasar mengajak ke masjid, dan bertemu di rumah sakit mengajak ke masjid.

Yang bergerak bukan hanya rakyat biasa tapi juga para pejabat, para jendral, para kopral, para insinyur, para tukang sayur, para guru, para murid, para kyai, para santri, para jurnalis, para buruh, para petani, para nelayan, para pekerja, warga kota, warga desa, para orang miskin dan orang kaya, semua mengajak ke masjid, semua saling mengajak, tidak ada ada yang ketinggalan.

Ketika terbangun dari tidur mengajak ke masjid, ketika tidur pun mengigaunya mengajak ke masjid. Tidak cantik bila tidak ke masjid, tidak keren bila tidak ke masjid, tidak tampan bila tidak ke masjid, singkatnya, Gemasajid ingin menjadikan zaman sekarang di mana seluruh kawula muda memakmurkan masjid, melakukan kerja massif yang disukai Allah agar Allah menunaikan janji-Nya untuk menurunkan keberkahan dari langit dan bumi, menjadikan Indonesia sebagai negeri yang berbahagia dan religius.