Komjen Pol (Purn) Anton Bahrul Alam saat memberikan kesannya mengenai tata kelola Pemerintah Kota Bengkulu di Balai Kota Bengkulu, Senin (12/11/2018).

Belum pernah terjadi sebelumnya, para purnawirawan maupun perwira aktif dari kalangan TNI dan Polri berkumpul di Kota Bengkulu untuk berdakwah, menegakkan kalimat tiada Tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala dan berkeliling berjalan kaki dari rumah ke rumah mengajak warga sekitar masjid untuk melaksanakan salat lima waktu.

Rudi Nurdiansyah, KOTA BENGKULU

Selama tiga hari sejak Jumat (9/11/2018) hingga Senin (12/11/2018), para purnawirawan maupun perwira aktif tersebut tidur dan makan di Masjid Al-Isra’ Kelurahan Anggut Atas. Sehari-hari aktifitas mereka adalah melaksanakan pengajian, membaca ayat Al-Qur’an, mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sejak mata mereka terbuka dari tidur hingga mata mereka terpenjam saat tidur.

Dipimpin oleh Komjen Pol (Purn) Anton Bahrul Alam, tampak pancaran ketenangan hati dalam wajah para jendral tersebut. Sebagian usia mereka memang tak lagi muda, namun semangat mereka menjalankan agama cukup kuat sehingga warga Bengkulu banyak yang keliru mengenai usia mereka dengan menebak puluhan tahun lebih muda dari umur mereka yang sebenarnya.

Bagaimana para purnawirawan maupun perwira aktif tersebut sampai ke Kota Bengkulu?

Komjen Pol (Purn) Anton Bahrul Alam sebagai pemimpin jamaah menjelaskan, ia bersama para abdi negara lainnya mendukung penuh upaya yang dilakukan oleh Walikota Bengkulu H Helmi Hasan dan inisiator Gerakan Memakmurkan Satu Juta Masjid di Indonesia (Gemasajid) Ustaz Saeed Kamyabi yang menggelar Gerakan Tolak Bala “Doa 10 Juta Umat untuk Kebaikan Negeri” di Masjid Akbar At-Taqwa Kelurahan Anggut Atas pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2018 kemarin.

Namun tak ingin sekedar mengisi waktunya hanya dengan mengikuti acara yang menurutnya penting tersebut, mantan Kapolda tiga provinsi ini juga mengajak rekan-rekannya yang lain untuk ikut serta dalam itikaf selama tiga hari untuk mencari dan mengejar hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang sering dilakukan oleh jamaah tablig.

“Saya terus terang tadinya curiga dengan jamaah tablig ini. Ketika saya jadi Kapolda, saya minta anggota untuk melakukan penyelidikan dengan menyamar dan ikut itikaf tiga hari. Ketika saya minta laporan, saya kaget hasilnya positif. Tidak ada yang sesat,” kata purnawiran yang berhasil memperjuangkan agar anggota TNI/Polri diperkenankan untuk menggunakan hijab ini.

Tak puas dengan laporan seorang anggotanya yang pertama, Anton Bahrul Alam kemudian kembali meminta tiga anggotanya kembali menyelidiki dengan menyamar dan ikut serta itikaf bersama jamaah tablig selama tiga hari. Ia kembali mendapatkan jawaban yang positif, tidak ada ajaran yang sesat sebagaimana ia prasangkakan.

“Saya masih belum puas. Akhirnya saya ikut sendiri program tiga hari jamaah tablig ini. Masya Allah, saya menemukan kenikmatan yang luar biasa dalam beribadah. Sejak saya ikut jamaah tablig ini, saya setiap hari berusaha menghidupkan sunnah nabi. Makanya saya sekarang tak pernah melepaskan surban dan gamis sebagaimana pakaian yang digunakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,” ungkapnya.

Tak ingin merasakan sendiri kenikmatan yang ia rasakan, Anton Bahrul Alam mengajak rekan-rekannya yang lain. Salah satunya adalah Marskal Pertama (Purn) Sugiyarto, orang yang pernah enam tahun menolak jamaah tablig karena menilainya sebagai ajaran sesat, namun sekarang berbalik sebagai orang yang kemana-mana mempromosikan agar orang-orang ikut serta merasakan kenikmatan taat kepada Allah dalam jamaah tablig.

“Jangan pernah menganggap jamaah tablig ini sesat kalau belum masuk dan ikut belajar mengenai apa yang dipelajari oleh jamaah ini. Jamaah ini adalah orang-orang yang gemar mengamalkan agama dan sunnah. Dan ada kejayaan dalam diri setiap orang yang mengamalkan agama dan sunnah,” kata Anton Bahrul Alam.

Hal lain yang memotivasi dirinya ikut dan konsen dalam jamaah tablig, Anton Bahrul Alam menjelaskan, agar Polisi dan warga masyarakat dapat hidup harmonis. Sebab, kata dia, ada kesan selama di kalangan warga negara bahwa Polisi adalah institusi yang menakutkan, bukan memberikan ketentraman.

“Hidup saya enak. Saya berkarir menjadi Polisi, enak. Jadi Kapolsek, enak. Jadi Kapolres, enak. Jadi Kapolda, tambah enak lagi. Tapi saya tak mau hanya hidup enak. Saya mau mati enak. Makanya saya amalkan agama dan sunnah agar mati dalam keadaan menyebut kebesaran Allah,” paparnya.

Anton Bahrul Alam mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang besar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Walikota Bengkulu beserta segenap jajarannya yang telah memberikan jamuan selama ia dan rekan-rekannya tinggal di Kota Bengkulu.

“Tentu jamuan yang penuh keramahan ini tidak bisa kami balas selain dengan berdoa semoga warga Kota Bengkulu senantiasa diberikan rahmat dan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala menjadi kota yang makmur dengan amalan-amalan agama dan sunnah,” demikian Anton Bahrul Alam mengakhiri sembari bersiap kembali ke Jakarta. [**]