Bung Karno, presiden pertama RI itu namanya tak pernah lekang oleh waktu. Kisahnya terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Sukarno ibarat Singa mengaum di podium, pidato-pidatonya sangatlah membakar semangat hingga berkobar.

Mengutip dari Roso Daras, ia mengatakan bahwa Bung Karno adalah manusia ekspresif. Bung Karno sangatlah pandai menyuarakan kata hati, jerit hati, seruan hati. Tidaklah mengherankan jika semua pidato yang menggelegar, semua orasi yang memukau, semua kata sambutan yang membahana, berasal dari hati. Ekspresi jiwa yang dibungkus kekayaan kata, menjadikan Bung Karno seorang pembicara yang jaya.

Salah seorang yang dekat dengannya, yakni Dr. Soeharto, dokter pribadinya, termasuk yang sangat menikmati setiap Bung Karno berbicara. Yang ia rasakan, khasanah hati dan pikirannya menjadi lebih kaya. Usai mendengar pidato Bung Karno, selalu saja tumbuh tunas semangat baru dalam hidupnya.

Kebetulan, sebagai seorang dokter yang terbiasa mengobservasi detail keluhan pasien, ia pun senantiasa mencermati kata demi kata, serta struktur kalimat dan alunan birama saat berbicara. Bung Karno, dengan penguasaan sedikitnya tujuh bahasa asing dengan baik itu, sesungguhnya adalah manusia dengan amunisi kata-kata tak terhingga.

I am speaking to you in a language, which is not mine nor yours, but I am speaking with the language of my heart,” begitu kalimat yang cukup sering dipakai Bung Karno dalam pidato-pidato di manca negara. “I am speaking with language of my heart”… bahasa hati. Atau yang beliau maksud adalah “Aku berbicara padamu dengan bahasa, bukan bahasaku atau bahasmu, tetapi aku berbicara dengan bahasa hatiku.”

Kalimat yang juga termasuk sering diselipkan dalam pidato-pidato Bung Karno, adalah semangat persamaan derajat antarmanusia. Dan itu sungguh mengena, di saat dunia masih ada yang memberlakukan sistem apartheid, kasta, kelas, golongan, dan ras. “Men all over the world, under the skin, is one,” kata Bung Karno. Tak ada perbedaan antara satu manusia dengan manusia yang lain, kecuali sekadar kulit. Jadi sesungguhnya, di balik kulit putih, kuning, sawo matang, atau hitam, hanya ada satu nama: Manusia.

Mungkin karena itu pula, Bung Karno begitu cepat lebur di mana pun ia berada. Sebutir debu kuku, Bung Karno tak berasa rendah di hadapan bangsa bule yang lebih putih, lebih tinggi, lebih besar fisiknya. Demikian pula, tak sebutir debu di udara, Bung Karno merasa lebih dibanding bangsa berkulit hitam pekat, sawo matang, atau kuning.

Terhadap semua bangsa, Bung Karno menaruh respek yang sama. Terhadap semua bangsa, Bung Karno mengulur persahabatan yang sama. Bahkan sebelum mengakhiri pidato di depan bangsa-bangsa lain di dunia, ada kutipan Perancis yang nyaris tak pernah lupa ia ungkapkan… “Au revoir. Partir est une peu mourir dans mon coeur…” (Sampai jumpa lagi. Perpisahan menyebabkan sedikit kematian dalam hati saya).

Ah, Bung Karno memang amatlah pandai merangkai kata dan menaklukkan hati pendengarnya. Kalimat-kalimat dalam pidatonya sangatlah kaya akan makna. Benar bahwa Bung Karno sangatlah ekspresif. [Eva De]