Muhammad Rizki Mustafa tengah menyiapkan makanan untuk para jamaah dakwah yang tengah melaksanakan itikaf di Masjid Nurul Ihsan Kelurahan Tanjung Jaya, Minggu (4/11/2018).

Allah subhanahu wa ta’ala berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia. Hal ini tampak pada kisah Muhammad Rizki Mustafa, mantan perampok yang memilih hijrah, berpindah dari kehidupan lamanya yang suram kepada kehidupan baru yang penuh kenikmatan akan cahaya iman.

Rudi Nurdiansyah, KOTA BENGKULU

Saya kenal Muhammad Rizki Mustafa ketika bersama-sama itikaf selama tiga hari di Masjid Nuruh Ihsan Kelurahan Tanjung Jaya sejak Jumat (2/11/2018) hingga Senin (5/11/2018). Wajahnya teduh, bertolak belakang dengan tubuhnya yang penuh tato.

Rackes Agung Hutomo, demikian nama aslinya sebelum memutuskan untuk ikut serta dalam jamaah dakwah, merupakan mantan perampok. Masa lalunya penuh luka. Ia pernah menebas orang dengan pisau dan gemar menggunakan narkoba. Penjara tidak membuatnya jera.

Namun kehidupan masa lalu Rackes tak pernah membuatnya bahagia. Ketika gundah, minuman keras memang dapat menghiburnya, tapi hanya sesaat. Dalam keadaan sadar, Rackes enggan untuk keluar rumah. Ketergantungannya dengan minuman keras merampas keseharian hidupnya.

Sekira tiga bulan yang lalu, di bawah pengaruh alkohol, Rackes keluar rumah hanya dengan menggunakan celana pendek. Semua orang yang melihat Rackes mengatakannya sebagai orang gila. Rackes dibenci banyak orang. Ia bahkan merasa benci dengan kehidupannya sendiri.

Ketika pengaruh alkohol itu perlahan-lahan hilang, Rackes bertemu dengan temannya sesaat dan pulang. Ketika dua jam berikutnya keluar rumah, Rackes menemukan temannya itu telah meninggal dunia. Rackes cemas, lunglai, bingung, tak tahu kemana akan melangkah.

Di tengah kondisi seperti itu, Rezy dan Angga, dua teman lamanya dalam dunia kegelapan, mendatangi Rackes. Mereka berdua mengajak Rackes ke Masjid Akbar At-Taqwa Kelurahan Anggut Atas untuk makan satu nampan bersama para jamaah dakwah dan mendengarkan ceramah dari jamaah tersebut.

Kisah-kisah kehidupan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang didengar oleh Rackes dari para jamaah membuatnya terkesima. Rackes diberitahu bahwa kesenangan dunia ini hanya ibarat satu tetes air saja, sementara kesenangan akhirat ibarat samudera luas tanpa batas. Dakwah jamaah tepat menyentuh hatinya.

Terlebih setelah Rackes mengikuti jamaah untuk itikaf mendalami sunnah-sunnah Rasulullah selama tiga hari di Masjid Al-Azhar Kelurahan Tanjung Agung. Usai melaksanakan salat dipenghujung itikafnya, Rackes seakan menjadi manusia baru. Ia menemukan kenikmatan besar saat menjalankan ibadah bersama para jamaah.

Merasa mantap dengan pilihan hidupnya yang baru, Rackes Agung Hutomo mengganti namanya dengan Muhammad Rizki Mustafa. Ketika malam minggu tiba, ia melakukan ibadah bersama jamaah dakwah di Masjid Akbar At-Taqwa, tak lagi mencari kehidupan dunia.

“Dulu saya pikir dengan dunia saya bahagia, minuman keras bisa menyenangkan hati saya. Sekarang saya tahu, itu semua hanyalah tipu daya setan,” ungkap Rizki ketika saya ajak bicara.

Rizki menjelaskan, kenikmatan sesungguhnya bagi manusia adalah salat lima kali sehari tepat waktu dan mengamalkan agama secara sempurna. Sambil meneteskan air mata Rizki mengatakan, ia sangat bersyukur ketika mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala masih menyayangi dirinya yang hina.

“Allah kasih saya hidayah karena Allah sayang saya. Kalau Allah nggak sayang, saya nggak mungkin diberikannya hidayah. Saya ditegur untuk pulang kembali ke jalan-Nya sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi. Sekarang saya menemukan nikmat di dunia dan insyaAllah di akhirat,” ungkapnya sambil menyeka air mata.

Saat ini, Rizki senantiasa menggunakan peci agar selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memakai gamis agar badannya tak lagi ditarik oleh setan untuk berbuat maksiat.

“Sekarang orang lihat kita bingung. Dulu nggak teratur, sekarang teratur. Dulu dibilang orang gila sekarang dibilang teroris. Tapi saya bisa bersabar. Karena orang sabar, berarti dia cinta dengan Nabi. Yang cinta Nabi, sunnahnya, akan masuk dalam surga firdaus,” tegasnya.

Rizki berharap kepada semua yang membaca kesaksiannya ini dapat mendoakan agar ia dapat konsisten mengamalkan agama secara sempurna. Apalagi, lanjut Rizki, ia masih sangat jauh dari kata sempurna sebagai seorang manusia.

“Sekarang saya ngaji masih terbata-bata. Tapi saya yakin suatu saat Allah akan membantu saya lancar dalam membaca kalam-Nya. Ketika saya belum kenal agama, hidup saya nggak berarti. Dulu bejat, sekarang saya ingin taat,” imbuh Rizki.

Sehari-hari, Rizki membantu orangtuanya berjualan kue basah di Pasar Minggu. Dahulu, sebelum hijrah, Rizki selalu minta imbalan dari orangtuanya untuk setiap tenaga yang ia keluarkan.

“Sekarang saya nggak berharap apa-apa lagi dari ibu selain doa agar saya setia mengamalkan agama secara sempurna. Dulu ibu membesarkan kita tanpa berharap uang. Jasa-jasa ibu tak akan mampu kita balas. Orang yang masih berharap imbalan dari ibunya saya yakin akan dibuat Allah susah di dunia, apalagi di akhirat,” demikian Rizki menutup kesaksiannya seraya mengambil Al-Qur’an dan berpamitan. [**]