Oleh: Hj Dewi Coryati MSi

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan nasional Indonesia untuk memperingati pertempuran Surabaya pada tahun 1945, dimana tentara dan polisi Indonesia yang pro kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia.

Hari Pahlawan ditetapkan melalui Keppres nomor 316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Di Hari Pahlawan ini mengingatkan kita kepada kerja keras para pendahulu yang memperjuangkan dan mempertahkan kemerdekaan Indonesia. Harta bahkan nyawa mereka pertaruhkan demi kita semua.

Lalu apa yang kita bisa lakukan untuk membalas jasa para pahlawan ini?

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memaknai Hari Pahlawan salah satunya dengan melakukan kerja nyata membangun negeri. Tak sulit, bekerja sesuai dengan kapasitas masing – masing saja. Bekerja dengan sungguh–sungguh untuk kepentingan orang banyak .

Begitupun para pelajar, menimba ilmu dengan sungguh – sungguh untuk mengejar cita – cita mulia demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Tidak mengecewakan orang tua dengan berbuat sesuai dengan norma agama dan bangsa.

Di hari yang bersejarah ini saya juga ingat akan jasa kedua orang tua kepada saya. Ayah saya, Alm. Drs. Buchary Thany yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan RI dan mantan Direktur Utama BPD Bengkulu (sekarang namanya Bank Bengkulu), ditengah kesibukannya tetap fokus kepada pendidikan anaknya.

Sama halnya dengan Ibu saya alm. Dra. Rohana Fikir ditengah kesibukannya mendampingi suami mengurus rumah tangga dan sebagai Dosen di IAIN Kendari juga masih menyempatkan diri untuk menjadi guru ngaji bagi kaum ibu. Ibu saya Rohana Fikir juga aktif sebagai ustadza di Lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiah. Sementara Datuk saya KH M Fikir Daud adalah pendiri Muhammadyah di Kaur.

Sampai saat ini didikan dari kedua orang tua menjadi motivasi bagi saya untuk terus melakukan hal yg terbaik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Semasa ayah hidup, di Kesatuan Ogan/Komering Lematang Area (1945) beliau mulai menancapkan mimpinya. Terus bersemangat melanjutkan perjalanan mimpi untuk Indonesia hingga beliau ditempatkan di Batalyon Garuda Merah sub teritorium Palembang, Sumatera Selatan. Beliau tidak berhenti disana, beliau selalu menggantung tinggi cita cita untuk Indonesia hingga beliau menjadi sersan mayor di tahun 1949.

Ya…kita tahu, masa-masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah masa yang mudah, penuh perjuangan, penuh air mata dan disanalah seorang Dra Rohana Fikir berperan menjadi seorang istri dan sahabat. Mendukung dan mengkuatkan langkah suami demi Indonesia tercinta. Memotivasi ketika sang suami tercinta merasa ingin sejenak beristirahat, mendorong sekuat tenaga, menyingkirkan segala kepentingan pribadi dan keluarga demi negara tercinta.

Dan ketika Indonesia sudah benar-benar merdeka, perjuangan barulah dimulai. Selepas beliau mengangkat senjata, beliau mulai bekerja di Bank Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1954 sebagai pegawai LAAPLN/BLLD hingga juni 1987 beliau menduduki jabatan terkahir di Bank Indonesia sebagai Anggota Tim Wawancara Urusan Pengawasan dan Pembinaan Bank Swasta. Beliau mendapatkan kepercayaan menjadi Direktur Utama Bank Bengkulu sejak juni 1987 hingga tahun 1992.

Sebuah kerja nyata dari seorang Drs. Buchary Thany semasa hidupnya. Beliau mencintai negeri ini, beliau yakin akan mimpi kemerdekaan adalah harga mati, beliau yakin semua bisa didapat dengan ridho illahi.

Seorang ayah sekaligus guru kehidupan, yang membuat kami anak-anaknya terinspirasi terus mengabdi untuk negeri, terus memberikan yang terbaik dan terus memberikan manfaat untuk masyarakat.

Drs. buchary Thany mungkin sudah kembali ke pangkuan ilahi, tapi beliau ada dihati kami, dan beliau berani mengangkat senjata berteriak lantang “Merdeka”

Sebuah cinta dari putrimu Dewi Coryati, izinkan kami mengikuti jejak baktimu.

====
Piagam penghargaan Alm Drs Buchary Thany:
1. Piagam tanda jasa Pahlawan
2. Satyalantjana peristiwa Aksi Militer I
3. Satyalantjana peristiwa perang kemerdekaan II
4. Satyalantjana Penegak