Ilustrasi Banjir

PedomanBengkulu.com, Jakarta – Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman banjir, longsor dan puting beliung.

Beberapa hari lalu, ratusan rumah di Kota Padang, Sumatera Barat, terendam banjir, Jumat (2/11/2018). Di samping itu, tiga jembatan mengalami kerusakan parah. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir terjadi di sejumlah titik, seperti Kecamatan Pauh, Kecamatan Padang Utara, Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kecamatan Lubuk Begalung, dan Kecamatan Bukuk.

Sutopo mengatakan, curah hujan akan terus bertambah. Umumnya, puncak musim hujan berlangsung pada Januari sehingga ancaman bencana juga akan semakin tinggi.

“Memasuki musim penghujan, kemungkinan bencana banjir, longsor dan puting beliung akan semakin meningkat,” kata Sutopo melalui pesan tertulis, dilansir Liputan6, Kamis (8/11/2018).

Selain Padang, banjir telah terjadi di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Pangandaran. Di Tasikmalaya, 498 kepala keluarga dari enam desa di tiga kecamatan terkena dampak, sedangkan di Pangandaran melanda 602 kepala keluarga dari sembilan desa di enam kecamatan.

Lima orang dilaporkan meninggal dunia dan satu orang hilang terseret banjir di Tasikmalaya. Tim pencarian dan pertolongan masih terus mencari korban yang hilang dengan menyusuri sungai.

Banjir di Tasikmalaya juga menyebabkan jembatan Sungai Ciandum di Jalan Raya Cipatujah yang merupakan penghubung Tasikmalaya-Garut roboh akibat luapan sungai.

Sedangkan di Pangandaran, satu orang dilaporkan meninggal dunia. Empat keluarga atau 10 jiwa mengungsi akibat banjir.

Banjir dan longsor di Tasikmalaya, Jawa Barat, merenggut nyawa enam orang. Ratusan rumah juga rusak bahkan ambruk. Kini banjir mulai surut, namun menyisakan duka mendalam bagi warga setempat.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Rabu (7/11/2018), air mata tak terbendung lagi begitu sosok salah satu korban banjir yang tewas dikenali anak-anaknya di Puskesmas Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Korban bernama Aning, merupakan perempuan warga Kampung Cikondang, Kecamatan Culamega. Aning ditemukan di pinggir pantai tanpa identitas. Diduga ia hanyut terbawa derasnya air sungai di belakang rumahnya saat banjir melanda wilayah Tasikmalaya.

Selain Aning, setidaknya ada lima warga lain yang tewas akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya bagian selatan, pada Selasa, 6 November kemarin. Para korban tewas ini tersebar di beberapa lokasi, antara lain akibat banjir di Karangnunggal, Cipatujah, hingga longsor di Culamega.

Banjir dari luapan Sungai Cijalu di Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, berawal dari hujan deras. Selain banjir juga terjadi longsor. Puluhan rumah dan fasilitas umum rusak. Salah satu yang terdampak adalah Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah. Bahkan, beberapa rumah ambruk hingga rata dengan tanah, termasuk satu buah penggilingan padi.

Tak hanya itu, sekolah madrasah serta jembatan penghubung dua kampung terancam ambruk akibat pondasinya tergerus air. Walau kini banjir mulai surut, ratusan warga memilih mengungsi karena khawatir ada banjir susulan.

Rabu pagi, 7 November 2018, warga yang rumahnya terdampak banjir mulai bersih-bersih. Seperti di Kampung Jajaway, Desa Cipatujah dan Desa Ciandum. Sebelumnya ketinggian air di wilayah tersebut cukup tinggi, bahkan di beberapa titik mencapai dua meter. Hampir seluruh harta benda warga tidak ada yang bisa diselamatkan, karena air dan lumpur datang dengan cepat.

Saat kejadian, banyak warga yang mengungsi ke atas plafon dan genteng rumah, karena air begitu cepat datang sehingga tidak bisa menyelamatkan diri keluar rumah.

Sementara ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tasikmalaya, mencatat warga terdampak banjir mencapai 500 kepala keluarga, dengan enam korban meninggal dunia. Kerusakan parah menimpa 150 bangunan.

Tak hanya di Tasikmalaya, cuaca ekstrem berupa hujan di atas normal yang memicu banjir dan longsor juga terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Salah satunya terjadi di Bandara Tunggul Wulung.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan, banjir terjadi di jalan menuju Bandara Tunggul Wulung pada Selasa pagi. Secara bersamaan, terjadi longsor di area yang berdekatan dengan landasan pacu atau runway Bandara.

Komara mengaku belum menerima informasi apakah longsor tersebut berdampak pada operasional bandara. Begitu pun dengan dimensi atau ukuran longsornya.

“Di daerah menuju bandara juga banjir. Ya, karena hujan intensitas tinggi sejak semalam. Cuma itu karena kondisi tanah labil, jadi longsor,” katanya, Selasa siang.

Selain di Bandara Tunggul Wulung, akibat cuaca ekstrem banjir dan longsor juga terjadi di wilayah lainnya, yakni di Kecamatan Jeruklegi dan Kecamatan Maos. [Ivana]