Bung Karno, nama yang terabadikan sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, sebagai Bapak Proklamator dan sebagai Presiden Pertama RI. Dikenal dengan pidatonya yang berapi-api, Sukarno juga merupakan seorang pemintal kata.

Dia sangat pantai memainkan penanya hingga terangkai kata-kata yang dapat mengobarkan semangat Rakyat Indonesia dan dapat mematikan nyali penjajah.

Melalui pena, tulisan, Bung Karno menggembleng rakyat Indonesia. Ia menulis (terutama) di dalam tiga majalah yang dipimpinnya, yaitu “Suluh Indonesia Muda”, “Persatuan Indonesia”, dan “Fikiran Rakjat”. Tokoh lama menyebutnya sebagai trio majalah, tiga tunggal.

“Suluh Indonesia Muda” terbit tiap bulan, merupakan suara dari “Indonesiche Studieclub” Surabaya dan “Algemeene Studieclub” Bandung. Majalah ini dipimpin dan diterbitkan oleh Sukarno sendiri, dengan segala biaya yang ia kumpulkan dari honorariumnya sebagai seorang arsitek. Edisi perdana “Suluh Indonesia Muda” terbit bulan Desember 1927.

Dikutip dari tulisan Roso Daras, yang menyatakan bahwa beberapa tulisan Bung Karno yang dipublikasikan melalui majalah itu antara lain, “Swadeshi dan Massa Actie dan Indonesia”, lalu “Tjatatan atas Pergerakan Lijdelijk Verzet”.

Kemudian, baru dua tahun terbit, majalah itu terhenti antara tahun 1929-1930-1931 karena Bung Karno dijebloskan penjara. Tahun 1932 terbit kembali pada bulan Mei. Kemudian, November tahun yang sama berhenti terbit lagi, karena Bung Karno kembali diringkus dan dibuang ke Ende.

Kemudian majalah “Fikiran Rakjat”, Bung Karno yang bertindak sebagai penerbit sekaligus pemimpinnya, tidak tanggung-tanggung dalam mempropagandakan. Ia dengan tulisan tangannya, dicetak dengan tinta merah, terpampang di halaman depan. Bunyinya, “Kaum Marhaen! Inilah Madjalah Kamoe! Soekarno!”

Terbit mulai 15 Juni 1932, dan terbit terakhir tercatat nomor (edisi) 52, 21 Juli 1933. Sedangkan di nomor 54, dibeslag (dibreidel) Belanda. Tulisan-tulisan Bung Karno yang menyengat di majalah ini antara lain, “Maklumat Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia”, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”, “Socio Nationalisme dan Socio Demokrasi”, “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggl Sehari”, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, “Djawaban Saja pada Sdr. M. Hatta”, “Sekali lagi, Bukan Banjak Bitjara, Bekerdjalah, tetapi Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”, “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”, “Reform Actie dan Doels Actie”, “Bolehkah Sarekat Sekerdja Berpolitik?”, “Marhaen dan Marhaeni, Satu Massa Actie”, “Membesarkan Fikiran Rakjat”, Azas-azas Perdjuangan Taktik”, “Marhaen dan Proletar”.

Lalu majalah ketiga, “Persatuan Indonesia”, terbit setengah bulanan, tersedia untuk menyokong pergerakan nasional Indonesia. Majalah ini terbit pertama kali 15 Juli 1928. Beberapa artikel Bung Karno yang dimuat di majalah ini, antara lain, “Melihat Kemuka…”, “Tempo jang tak Dapat Dikira-kirakan Habisnja”, “Indonesianisme dan pan Asiatisme”, “Kearah Persatuan, Menjambut Tulisan H.A. Salim”, “Pidato Ir Sukarno pada tanggal 15 September 1929”, “Kewajiban Kaum Intelektual terhadap kepada Pergerakan Rakjat”, “Soal Pergerakan Wanita”.

Lalu majalah itu pun terhenti karena Bung Karno dibekuk Belanda dan ditahan sejak 29 Desember 1929. Setelah mendekam di tahanan, “Persatuan Indoenesia” dioper oleh Inggit Garnasih, istrinya, dan diteruskan terbitnya dengan bantuan Mr Sartono dan teman-teman pergerakan yang lain.

Sekeluar dari penjara, Bung Karno menulis lagi, “Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Majalah “Persatuan Indonesia” nomor 177 itu pun kontan dibreidel pemerintah penjajah (Belanda).

Perjuangan yang gigih, tidak hanya dalam diplomasi, tetapi menyebarkan agitasi, propaganda, dan menyerukan semangat Indonesia Merdeka pada masa penjajah, tentu saja bukan tindakan ringan. Perlu keberanian luar biasa untuk menentang dominasi penjajah. Bukan hanya penjara taruhannya, tetapi nyawa.

Tulisan-tulisan Bung Karno adalah salah satu bentuk perlawanannya terhadap penjajah. Dia menuangkan pikiran dan menebas nyali penjajah. Namun, sekalipun Sukarno tak pernah takut. Dia dan sahabat-sahabatnya hanya ingin Indonesia lepas dari belenggu kolonial, dan perjuangan itulah yang diwariskan pada generasi milenial saat ini. Jas Merah! [Eva De]