PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Batik tidak pernah berhenti berkembang, bahkan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman dan kebudayaan masyarakat yang membuatnya. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki corak batik dengan ciri khas motif dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Batik sendiri dalam pengertian sederhananya adalah kain bergambar atau kain bermotif sesuai ciri khas suatu daerah. Batik juga melambangkan bahwa suatu daerah tersebut memiliki karakter budaya yang kuat. Lebih sederhananya lagi, Batik adalah Karakter Bangsa.

Di Bengkulu, ada beberapa jenis batik, diantaranya Batik Besurek, Batik Ka Ga Nga dari Rejang Lebong, Batik Diwo dari Kepahiang dan Batik Beremis dari Suku Serawai (Bagian Selatan Bengkulu).

Batik Diwo adalah batik yang memiliki motif inti aksara Rejang (Ka Ga Nga) yang  dikombinasikan dengan motif lain. Diantaranya motif hasil bumi, perkebunan, pertanian atau program yang sedang diunggulkan pemerintah daerah. Mengingat motif tersebut dianggap menjadi sarana promosi daerah.

“Sayang sekali, keberadaan Batik Diwo kurang diminati dulu, tapi saya selalu optimis,” ungkap Owner Batik Diwo Nurhayati.

Batik Diwo yang memiliki kualitas dan motif tak kalah dengan batik-batik lainnya. Maka dari itu, dirinya optimis, untuk nantinya batik khas Kepahiang ini akan berkembang. Dan batik diwo bisa juga digunakan sebagai souvenir untuk para tamu dan wisatawan yang akan berkunjung ke Kabupaten Kepahiang.

“Di Kepahiang bordir tidak diminati, sehingga profesi bordir ditinggalkan dan beralih ke menjahit. Ketika saya ikut pelatihan bordir di Bengkulu yang instrukturnya dari Jakarta, seolah saya mendapat tamparan sekaligus tantangan,”

Tambahnya lagi,  “Instruktur saya mengatakan bahwa Bengkulu punya ikon bunga Rafflesia, sedangkan Tasik, yang tidak punya ikon saja bisa ekspor,”

Guna memperkenalkan bordir khas Bengkulu terutama Kepahiang. Dengan Harga kisaran Rp50.000-250.000, selain kain ada tas dan dompet yang dapat dibordir di Batik Diwo Nurhayati. [Mey Borjun]