PedomanBengkulu.com, Jakarta – Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan kesempatan untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sangat kecil. Sekitar 3 persen hingga 4 persen dibandingkan lulusan sarjana yang ada, sehingga dibutuhkan gerakan semangat untuk berwirausaha.

“Kesempatan menjadi PNS sangat kecil, untuk itu sekarang ada dua pilihan menjadi profesional atau menjadi pengusaha sendiri,” katanya dalam kuliah umum di Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Yogyakarta, dilansir CNN Indonesia, Minggu, (4/11).

Wapres JK mengatakan dengan kesempatan yang begitu kecil, maka diperlukan semangat gerakan memperkuat kewirausahawan.

Melalui wirausaha muda itulah, maka kesempatan dalam membangun ekonomi bangsa menjadi semakin lebih besar. Melalui wirausahawan pula maka kesenjangan dapat dikurangi, dan lapangan pekerjaan dapat diciptakan.

JK pun menjelaskan kesenjangan yang menciptakan ketidakadilan ekonomi adalah salah satu pemicu konflik dan disintegrasi bangsa.

“Dari 15 konflik besar sepanjang Indonesia merdeka, 10 diantaranya diakibatkan karena ketidakadilan,” katanya.

JK mengatakan perkembangan teknologi kini telah menciptakan peluang yang luar biasa dalam kewirausahaan. Kemampuan melihat peluang untuk dijadikan komoditas dan dapat meraih keuntungan merupakan jiwa kewirausahaan yang dibutuhkan.

Bila di masa lalu, bekerja membutuhkan kantor atau tempat fisik, saat ini, yang dibutuhkan adalah tempat kerja. Semua orang dapat bekerja di mana saja. Bahkan di rumah sekalipun.

JK mencontohkan, saat ini tanpa memiliki tokopun orang bisa berjualan melalui internet (e-commerce), bahkan bisa menjangkau seluruh dunia.

Selain itu, Gojek misalnya, meski mampu melayani pelanggan ojek terbesar di Indonesia namun tidak memiliki motor.

Untuk itu, JK mendorong para pemuda untuk berani berwirausaha, guna membangun perekonomian bangsa, mengatasi kesenjangan dan menjadikan perekonomian yang lebih berkeadilan.

Untuk diketahui, pelaksanaan tes CPNS dengan sistem CAT telah dilaksanakan dalam beberapa hari terakhir meski masih ada beberapa daerah yang belum melaksanakannya sebab terkait dengan jadwal.

Dari hasil seleksi SKD sendiri, mirisnya ribuan peserta tes CPNS tidak dapat melampaui passing grade. Hal yang sama pun terjadi di Bengkulu.

Adapun perhitungan lulus tidaknya peserta dalam tes SKD mengacu pada passing grade atau nilai ambang batas.

Saat tes SKD, para peserta harus mengerjakan 100 soal yang terbagi dalam tiga bidang.

Rinciannya, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 35 soal, Tes Intelegensia Umum (TIU) 30 soal, dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 35 soal.

Dikutip dari penjelasan di akun Twitter resmi Kemenpan RB, passing grade atau nilai ambang batas adalah nilai minimal untuk dapat lolos ke tahap berikutnya. Jadi, peserta harus mendapat nilai di atas passing grade.

Passing grade CPNS 2018 ini diatur dalam Peraturan Menteri PANRB No. 37/2018 tentang Nilai Ambang Batas SKD Pengadaan CPNS 2018.

Cara menghitung passing grade cukup mudah. Pertama, Anda harus mengetahui passing grade setiap formasi dan skor jawaban soal yang benar.

*) Passing Grade Formasi

– Jalur Umum: 143 untuk TKP, 80 untuk TIU dan 75 untuk TWK.

– Jalur Formasi Khusus: Akumulasi nilai paling sedikit 298 dengan nilai TIU minimal 85.

– Putra-putri Papua/Papua Barat: nilai akumulatif 260 dengan TIU minimal 60.

– Penyandang disabilitas: nilai kumulatif 260 dan TIU minimal 70.

– Eks tenaga honorer K-II: nilai akumulatif minimal 260 dan TIU minimal 60.

– Dokter spesialis dan instruktur penerbang: nilai kumulatif minimal 298, dengan nilai TIU 80.

– Juru ukur, rescuer, ABK, pengamat gunung api, penjaga mercusuar, pawang hewan, dan penjaga tahanan: akumulasi nilainya paling sedikit 260 dengan nilai TIU minimal 70.
Ha

– Olahragawan berprestasi internasional: nilai terendah merupakan nilai ambang batas hasil SKD

Seperti yang dikatakan Wapres JK, bahwa untuk menjadi PNS kesempatannya sangat kecil oleh karena itu para pemuda dituntut berani untuk berwirausaha.

Bagi peserta yang belum lulus tes CPNS 2018 tidak boleh berkecil hati, Tuhan sedang mengarahkan pada sesuatu yang lebih besar untuk masa depan yang lebih baik. [Ivana]