Walikota Bengkulu H Helmi Hasan (kanan) dan Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi (kiri).

Walikota Bengkulu H Helmi Hasan berusia 39 tahun tepat pada hari ini, 29 November 2018.

Walikota fenomenal karena mendapatkan amanah dari warga Kota Bengkulu tanpa terlibat dalam kampanye Pemilihan Walikota (Pilwakot) 2018 ini dilahirkan di Lampung 29 November 1979 silam.

Di usia ke-39 tersebut, kepada Pedoman Bengkulu, pencetus APBD untuk Rakyat itu mengutarakan harapan-harapannya.

Pertama, ia menginginkan seluruh laki-laki balig melaksanakan salat berjamaah di masjid.

Kedua, seluruh kaum perempuan dapat menutup auratnya.

Ketiga, seluruh anak-anak dapat menjadi penghafal Al-Qur’an.

Keempat, ia berharap seluruh rumah tangga dapat menjadi keluarga yang tentram, diliputi rasa cinta dan kasih sayang.

“Seluruh rumah tangga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,” kata H Helmi Hasan, Kamis (29/11/2018).

Kelima dan terakhir, pria yang mendorong banyak pembangunan infrastuktur gedung, jalan, jembatan, drainase dan trotoar ini menyampaikan harapan terbesarnya untuk 300 tahun Kota Bengkulu pada tahun 2019 mendatang menjadi kota yang diberkahi karena kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya.

“Kebaikan itu cirinya adalah kebahagiaan. Apa ukurannya kebahagiaan? Kebahagiaan itu ditunjukkan melalui orang-orang yang di dalamnya hanya berbicara kebaikan, mendengar kebaikan dan melakukan kebaikan,” ujar Helmi.

Walikota yang berhasil membangun rumah sakit megah di tengah-tengah kota ini menegaskan, kebahagiaan tidak diukur melalui banyaknya pembangunan gedung pencakar langit, bukan karena kemajuan teknologinya, dan bukan karena tingginya pendapatan negeri tersebut.

“Kalau gedung pencakar langit, teknologi atau pendapatan ukurannya, berarti Jepang, Amerika dan Korea pasti adalah negeri yang bahagia. Tapi faktanya mereka tidak bahagia. Kasus bunuh diri tertinggi ada di Jepang, Amerika dan Korea,” jelas Helmi.

H Helmi Hasan berharap umat manusia dapat berbondong-bondong taat kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan bumi dan matahari.

“Orang yang taat kepada Allah, bila dia seorang suami, ia tidak akan pernah bersikap kasar dengan istrinya. Istrinya pun berkhidmat kepada suaminya, bukan karena mengharap pujian suami, melainkan karena mencari rida Allah,” kata Helmi.

Bila semua orang taat kepada Allah, Walikota yang kerap menggunakan mobil pribadinya untuk menolong masyarakat miskin berobat dengan program Jemput Sakit Pulang Sehat (JSPS) ini melanjutkan, pasti setiap orang akan berjuang keras untuk menjadikan seluruh keturunannya sebagai orang baik.

“Semua orang yang taat kepada Allah hanya menyibukkan dirinya untuk menyebarkan cinta dan kasih sayang, tidak suka dengan semua yang bersifat gibah dan fitnah. Menggunakan dirinya hanya untuk menyampaikan pesan-pesan yang baik saja, melakukan amal-amal baik,” tutur Helmi.

Helmi menambahkan, bilapun seseorang menemukan orang lain yang dalam mata banyak orang bukan manusia baik, maka ia mengajak agar orang tersebut melihat sosok yang menciptakannya, Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Baik.

“Kalau misalnya ada tetangga kita anggap buruk, tidak ada lagi baiknya, lihat yang menciptakannya, Allah Yang Maha Baik. Jangan kita berprasangka buruk. Semua akan baik kalau kita memandangnya baik, bersikap baik dari hal-hal yang terkecil dan dari kecil, apalagi dalam hal-hal besar atau ketika kita sudah besar,” demikian Helmi. [Deni Dwi Cahya]