Belum berubah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kejadian-kejadian kriminal yang memilukan hati masih mendominasi dunia pemberitaan di Bengkulu. Kejadian-kejadian kriminal ini hampir merata terjadi di sejumlah daerah di tanah kelahiran Fatmawati Sukarno ini.

Sebagaimana statistik yang tercatat di Google Analytic dari situs www.pedomanbengkulu.com sejak 1 Januari hingga 5 Desember 2018, dari total 2.920.296 pengunjung sepanjang periode tersebut, berita-berita kriminal mengambil porsi pembaca terbesar.

Misalnya berita tentang pembacokan bidan desa di Seluma yang dilihat hingga 50.058 pengunjung dan tertangkapnya oknum calon legislatif karena menjambret di Kota Bengkulu yang dilihat hingga 24.513 pengunjung.

Lalu ada juga siswi SMA yang nekat gantung diri sambil video call dengan pacarnya di Bengkulu Selatan yang dilihat hingga 22.436 pengunjung, pemerkosaan mahasiswi KKN di Bengkulu Tengah serta ayah yang tega memperkosa anak kandungnya hingga hamil di Kepahiang yang juga dilihat oleh puluhan ribu pengunjung.

Semua ini menjadi bukti kongkret betapa nilai-nilai agama agar setiap umat manusia dapat memuliakan sesama, tidak mengambil hak orang lain dan tidak melakukan zina telah nampak luntur dari kehidupan warga masyarakat Bengkulu.

Hal itu juga menjadi bukti betapa tontonan-tontonan dunia tanpa isian agama yang marak saat ini telah menjadi tuntunan hidup, memicu orang-orang berbuat kriminal atau menjadi korban bagi para pelaku kriminal.

Sementara tuntunan-tuntunan hidup yang diajarkan agama hanya menjadi tontonan, tidak mendorong orang untuk menolong dan memuliakan sesama, tidak membuat orang-orang mendekatkan diri kepada amalan-amalan baik dan dekat pada rumah-rumah ibadah.

Setiap hari bahkan setiap menit, kesadaran setiap orang disuntik dengan iklan-iklan tentang kecantikan yang mempertontonkan aurat, tentang kehidupan para artis yang penuh gemerlap, dan tentang kenikmatan hidup di dunia yang sementara saja.

Sedangkan kesadaran akan pentingnya amalan agama secara sempurna sebagai sarana meraih kebahagiaan di dunia yang sementara dan di akhirat yang selama-lamanya hanya dikampanyekan oleh segelintir orang dan dengan pengorbanan yang sedikit saja.

Dari sini, imbauan Walikota Bengkulu H Helmi Hasan yang mengajak 300 ribu mudi muda berhijrah dari kehidupan dunia yang fana menuju kebahagiaan yang nyata pada puncak perayaan 300 tahun Kota Bengkulu Maret 2019 kelak sangat tepat untuk didukung dengan sekuat tenaga.

Hijrahnya ratusan ribu mudi muda harus menjadi momentum mengembalikan kehidupan yang baik bagi seluruh warga Bengkulu, warga yang sehari-hari berbicara baik, berbuat baik, beramal baik, mulai meninggalkan tontonan-tontonan dunia dan melaksanakan tuntunan-tuntunan agama.

Hijrahnya ratusan ribu mudi muda Bengkulu harus menjadi momentum bersatunya pekerja dakwah atau da’iyah dan da’i yang mengajak mudi muda memakmurkan rumah-rumah ibadah dengan para ulama, pastor, pendeta, ustazah dan ustaz yang mengajarkan tuntunan-tuntunan agama.

Hijrahnya ratusan ribu mudi muda tersebut harus menjadi momentum Bengkulu bertaubat untuk kemudian membangun sebuah provinsi yang bahagia dan religius, dimana setiap pemudi menutup auratnya dan setiap pemuda mengamalkan agama secara sempurna, meninggalkan semua kemaksiatan dan kemungkaran yang kenimatannya hanya seperti air setetes saja agar mendapatkan kenikmatan yang sejati, yang banyaknya ibarat air seluas Samudera.