Masih begitu hangat akan moment Reuni 212, meskipun tidak semuanya berkumpul di Jakarta suasana itu tetap membakar di dada umat Islam di setiap penjuru negeri.

Reuni yang bermula dari aksi bela Islam tersebut diwarnai kisah-kisah yang menyentuh hati. Dari mulai orang-orang yang memiliki keterbatasan namun tetap berusaha hadir, kemudian ada pula para pedagang yang dengan ikhlas memberikan barang dagangannya untuk peserta aksi, hingga pemimpin-pemimpin yang hadir seperti Gubernur DKI Jakarta.

Menengok ke belakang, pada zaman ketika negeri ini dipimpin oleh Bung Karno, beliau juga sangat mencintai Islam. Bahkan ia sangat dekat dengan para ulama.

Kala itu di depan peserta peringatan 50 tahun Muhammadiyah, pada 26 November 1962, Bung Karno pun berkisah tentang perjumpaannya dengan KH. Ahmad Dahlan.

Dalam pidatonya Bung Karno mengatakan: “Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiyai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragam Islam (tapi) berasal dari agama lain, (beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orang tua) tidak memberi pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”

Tabligh itu pun membuat Bung Karno tercerahkan, terutama berkaitan dengan pemahaman atas Islam yang berpihak pada kaum miskin (teokigi Al Ma’un) dan dorongan untuk melakukan ijtihad. Pun, sejak usia 15 tahun, Bung Karno kintil kemanapun KH. Ahmad Dahlan menggelar Tabligh.

Kemudian, disambung lagi oleh Bung Karno dalam pidatonya: “Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Kata-kata ini bukan untuk Muhammadiyah saja, tapi juga untuk saya. Saya harap kalau dibaca lagi nama-nama anggota Muhammadiyah yang 175.000 orang banyaknya, nama saya masih tercantum di dalamnya. Saya harap nama saya tidak dicoret dari daftar keanggotaan Muhammadiyah.”

Hubungan baik antara Bung Karno dan Muhammadiyah semakin erat ketika ia menjadi pengurus Muhammadiyah Bengkulu dan bahkan mempersunting Fatmawati, putri seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.

Meski demikian, Sukarno tidak hanya memiliki hubungan erat dengan Muhammadiyah, beliau juga membangun relasi yang intens dengan kiyai-kiyai NU (Nahdlatul Ulama). Bahkan, Presiden pertama RI ini mengakui bahwa ia sangat mencintai NU.

Dalam muktamar NU ke 23, pada 28 Desember 1962, Bung Karno berpidato: “Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke mukamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!”

Kecintaan Bung Karno kepada NU tidaklah berlebihan. Selama berjuang merebut kemerdekaan dan masa mempertahankan kemerdekaan, aliansi antara Bung Karno dan NU sangat dekat. Dalam bidang politik, misalnya, aliansi bung Karno dan NU terekam dalam NASAKOM, kepanjangan dari Nasionalis (PNI), Agama (NU), dan Komunis (PKI).

Ketika Muhammadiyah lebih condong pada Masyumi, memilih untuk mengambil jalan lain, NU ikut jalan Bung Karno. Pada masa-masa itu, meski berseberangan dengan Muhammadiyah, Bung Karno tetap meminta agar namanya tidak dicoret dari keanggotaan Muhammadiyah.

Dalam pidato pada muktamar NU ke 23, Bung Karno menyebutkan salah satu peran tokoh NU:

“Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara.”

Dalam pidato itu, Bung Karno menegaskan bahwa NU adalah peneguh aliansi antara agama, nasionalisme, dan sosialisme.

Dalam pangkuan Muhammadiyah, Bung Karno menemukan Islam. Pun, Bung Karno pernah berseloroh :”saya bukan santri tetapi Islam sejati.”

Bung Karno menemukan keteduhan dan teman setia dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Bersama para kiyai, Sukarno menemukan sumber inspirasi saat ia sedang butuh nasehat.

Bung Karno adalah orang Muhammadiyah yang sekaligus warga nahdiyyin. Ia memang bukan santri tapi dekat dengan kiyai.

Islam adalah Islam, yang tak patut dipecah belahkan. Seperti Bung Karno yang selalu nyaman berada di dekat para kiyai entah itu dari Muhammadiyah ataupun NU.

Tuhan yang sama, kitab yang sama, kiblat yang sama dan Nabi yang sama. Semoga umat Islam di Indonesia kuat dan bersatu, kita harus paham bahwa perpecahan hanya akan mengikis rasa persaudaraan apalagi sesama penganut agama Islam. Pun dengan agama lain kita haruslah tetap hidup rukun, dan dapat menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika. [Eva De]