Masjid Akbar At-Taqwa Anggut Atas semakin hari semakin ramai jamaahnya. Hal ini dikarenakan banyaknya kegiatan menarik yang rutin digelar di masjid yang diresmikan oleh mantan Presiden Soeharto tersebut.

Sabtu malam (15/12/2018) atau setelah salat magrib berjamaah, hadir mengisi tausiah Ustaz Ibnuhajar Asshidiqi Basalamah yang baru saja pulang keluar berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala┬áselama empat bulan di Tengger, sebuah kota atau desa yang berada di bawah kaki Gunung Bromo Jawa Timur.

Mengusung tema ‘Kemuliaan Umat Akhir Zaman,” dakwah yang disampaikan Ustaz Ibnuhajar menjadi tema yang menarik bagi jamaah masjid yang rata-rata adalah dari kalangan pemuda dan pemudi masyarakat Bengkulu.

“Dakwah itu seperti menambang bumi untuk mencari kemuliaan di dalam isinya. Menambang emas itu pasti menggali ke bawah. Emas itu adanya di bawah. Dan emas sangat berharga. Begitu juga berdakwah. Banyak pemuda yang tadinya memakai anting dan bertato bisa datang ke masjid karena dakwah telah menyentuh hati mereka yang paling dalam. Layaknya kita menggali emas, kita pisahkan dulu, yang tadinya pakai tato, pakai anting dilepas dulu antingnya, kita ajak ke masjid, dan digembleng dalam dakwah. Maka dia yang tadinya manusia hina menjadi manusia mulia,” kata Ustaz Ibnuhajar Asshidiqi Basalamah saat mengisi ceramah.

Dalam penyampaiannya, ia mengajak jamaah untuk mendakwah, karena dakwah adalah usaha yang memiliki banyak sekali manfaat. Para Nabi, ujar Ustaz Ibnuhajar, meminta kepada Allah untuk dijadikan sebagai umat akhir zaman karena keutamaannya dalam dakwah.

“Allah subhanahu wa ta’ala adalah zat yang menciptakan, semuanya yang tampak ataupun tak nampak, semuanya ini datang dari Allah. Syukurilah semua yang datang dari Allah dengan menjadi makhluk beriman,” imbuhnya.

Ustaz ibnu menjelaskan, punya mata tapi tidak punya iman itu masalah, karena matanya akan selalu digunakan untuk melihat kemaksiatan. Demikian pula orang yang punya mulut namun tidak beriman itu bermasalah, karena akan selalu digunakan untuk mengeluarkan fitnah dan gibah.

“Orang beriman, kalau miskin akan selalu berkata alhamdulillah, karena lebih dulu masuk surga dan dikumpulkan bersama para Nabi. Dikasih kaya juga bersyukur dengan alhamdulillah, karena bisa memberi banyak manfaat untuk orang lain dan menjadi sebaik-baik manusia,” jelas Ustaz Ibnuhajar.

Pada kesempatan ini, Ustaz Ibnuhajar juga menceritakan beberapa kisahnya saat berdakwah di daerah Tengger dan Papua hingga akhirnya banyak yang mendapatkan hidayah karena kerja-kerja para jamaah.

“Karena Allah tidak memerintahkan kita masuk surga sendirian, namun memerintahkan kita untuk masuk surga beramai-ramai,” tutupnya.

Ceramah Ustaz Ibnuhajar semakin menarik karena setiap jamaah diberikan kesempatan untuk bertanya melalui secarik kertas tanpa identitas si penanya yang dijawab setelah salat isya berjamaah.

Puluhan pertanyaan mulai dari keinginan jamaah untuk istiqomah dalam amal agama hingga cara-cara efektif untuk berdakwah kepada keluarga di rumah dijawab dengan uraian yang menarik, penuh ilustrasi dan sesekali dibumbui dengan humor yang segar oleh Ustaz Ibnu.

Hanya ada satu pertanyaan yang tak dijawab, yakni adanya kefrustasian salah satu jamaah terhadap hidupnya. Ustaz Ibnuhajar menyarankan agar yang bertanya dapat menemuinya secara khusus.

Setelah ceramah, para jamaah menikmati santap malam bersama dengan menu restoran dan melanjutkan dengan salat sunnah tasbih serta itikaf di masjid untuk menunggu waktu subuh agar dapat kembali salat berjamaah. Kegiatan ini diselenggarakan secara rutin di Masjid Akbar At-Taqwa Anggut Atas setiap malam minggu. [Deni Dwi Cahya]