Program Studi Sosiologi Fisipol Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) bekerjasama dengan Yayasan Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Bengkulu menghadirkan Susi Handayani SP M.Si (Direktur Yayasan Pupa Bengkulu), Bentra Sarianti SH MH (LKBH UMB) dan Juniarti Boermansyah S.Ag M.Hum untuk memberikan kuliah umum di aula lantai 6 Gedung KH Ahmad Dahlan kampus IV UMB, Selasa (6/11).

Mengusung tema “Membangun Mekanisme Penanggulangan Kekerasan Terhadap Perempuan di Lingkungan Kampus”, kuliah umum ini bertujuan agar para mahasiswa mendapat pengetahuan dan wawasan untuk bersama menciptakan mekanisme penanggulangan dan perlindungan korban kekerasan khususnya dilingkungan kampus.

Ayu Wijayanti M.Si, selaku ketua panitia kegiatan mengungkapkan bahwa kuliah umum ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan.

“Pemahaman dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dilingkungan kampus belum mendapat perhatian yang signifikan oleh sektor terkait, semoga dengan terlaksana kuliah umum ini, bersama kita ciptakan kebijakan yang berpihak pada korban serta memberikan gambaran dari alur mekanisme layanan berbasis kampus,” ujar Ayu Wijayanti saat memberikan sambutan.

Lebih lanjut Ayu meminta seluruh peserta yang hadir untuk menjadikan kuliah umum ini sebagai ajang diskusi kritis antara mahasiswa dengan para pemateri, karena menurutnya selama ini tanpa disadari banyak terjadi kasus kekerasan seksual, kekerasan fisik dan kekerasan verbal dilingkungan yang bukan hanya terjadi diantara kalangan mahasiswa saja tetapi juga antara dosen terhadap mahasiswa dan sebaliknya.

Sementara itu, KaProdi Sosiologi UMB, Linda Safitra M.Si menyebutkan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan dari prodi sosiologi untuk mendukung gerakan hentikan kekerasan terhadap perempuan.

“Kuliah umum ini dilaksanakan agar dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi mahasiswa dalam upaya pencegahan dan penanganan terhadap perempuan korban kekerasan, selain itu juga memberikan gambaran penanganan seperti apa yang dapat kita lakukan dari segi psikologisnya,“ kata Linda Safitra.

Data terhimpun oleh jurnalis pedomanbengkulu.com, berdasarkan catatan yayasan PUPA sepanjang tahun 2018 ditemukan 165 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di provinsi Bengkulu dengan kasus yang paling tinggi adalah kasus pemerkosaan yang persentasenya mencapai 41 persen, disusul dengan kasus pelecehan seksual 31,5 persen kemudian kasus KDRT 17 persen dan penganiayaan 6,1 persen.[Nurhas]