Foto Tugu H Van Amstel, diambil penulis pada Senin (11/12/2018)

Perjuangan masyarakat Bengkulu terhadap keberadaan kolonial Belanda di masa penjajahan tidak dapat diragukan lagi, hal ini terlihat oleh banyaknya situs cagar budaya yang dapat banyak ditemui di wilayah Bengkulu.

Selain Benteng Marlborough, Rumah Bung Karno, Masjid Jamik yang berada di wilayah Kota Bengkulu, kita juga dapat menemukan berbagai jenis Cagar Budaya yang tersebar di delapan kabupaten lainnya.

Di Bengkulu Utara misalnya, di kabupaten ini ada banyak sekali cagar budaya, beberapa diantaranya ada kaitannya dengan seorang pejuang kemerdekaan yang bernama Mardjati atau Ratu Samban. Salah satunya adalah Tugu H Van Amstel.

Tugu H Van Amstel merupakan sebuah objek Cagar Budaya Nasional di Kabupaten Bengkulu Utara, tepatnya berada di halaman pukesmas pembantu Desa Bintunan, Kecamatan Batiknau.

Tugu tersebut dibangun untuk sebagai tanda jasa atas perjuangan Mardjati atau dikenal dengan Ratu Samban, yang berhasil membela kepentingan rakyat pada 2 September 1873.

Mardjati atau Ratu Samban bukan seorang panglima perang, dia seorang pahlawan masyarakat yang memiliki nyali melawan dua orang penguasa Belanda yaitu Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur E.E.W Castens.

Berawal dari adanya Raaden atau besaran pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah Belanda yang dibebankan kepada masyarakat sebesar 30.000 Golden. Nilai tersebut berasal dari ketentuan pemerintah kolonial Belanda di Batavia tahun 1872 dan hasil pertemuan pemuka masyarakat dengan kontroleur Castens dan Asisten Residen H.Van Amstel. Dengan beban pajak sebesar itu, tentu akan menyiksa masyarakat, khususnya yang berada di Bintunan.

Pada tanggal 2 September 1873, kontroleur Castens dan Asisten Residen H.Van Amstel sebagai pejabat penting ini mengadakan inspeksi ke wilayah perkebunan rakyat, yang terkenal banyak menghasilkan kopi, lada, kopra, emas dan batu mulia di wilayah pesisir barat pulau Sumatera, yaitu Lais, Bintunan, Ketahun di Provinsi Bengkulu.

Pada kesempatan itu, Mardjati menyerang dua petinggi kolonial Belanda itu yang disaksikan oleh ratusan warga yang menyambut kunjungan Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur Castens, yang sengaja dikerahkannya untuk menyaksikan peristiwa pembantaian tersebut oleh depati Mardjati hingga selanjutnya diangkat menjadi seorang Pasirah.

Gelar Pesirah diberikan karena Mardjati dinilai telah berjasa melindungi masyarakat dari beban pajak tersebut. Hingga akhirnya dibangun tugu H V Amstel untuk menghargai perjuangannya.[Deni Dwi Cahya]