Sepekan ke depan, malam tahun baru 2019 masehi diperingati di seluruh dunia.

Pada malam jelang pergantian tahun telah menjadi kebiasaan adanya bakar-bakar, pesta minuman keras, maraknya tongkrongan anak muda yang memainkan musik, meningkatnya angka penjualan kondom, dan maraknya kasus kriminalitas.

Kebiasan-kebiasaan tersebut sebenarnya bukan kebiasaan umat-umat beragama, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau bahkan Kong Hu Cu.

Mayoritas umat Kristiani memang berkumpul pada malam tahun baru ini, namun bukan untuk bermaksiat, melainkan mendatangi rumah ibadahnya dengan khidmat dan menyanyikan lagu-lagu yang mengandung pesan-pesan kebaikan.

Untuk itu menjadi aneh bila perayaan malam tahun baru ini disikapi dengan bermabuk-mabukkan, ketawa-ketiwi tanpa arti, bakar-bakar kembang api, singkatnya bermaksiat kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

Malam tahun baru seharusnya menjadi pengingat bahwa umur manusia semakin mendekati kematian.

Bagi orang Indonesia, malam tahun baru harusnya menjadi islah diri, maraknya bencana-bencana alam yang terjadi mesti membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan memperbanyak berbuat baik dan berdoa, bukan dengan semakin gila dengan kemaksiatan dan kenikmatan dunia yang fana.

Gempa bumi, pesawat jatuh dan tsunami yang terjadi baru saja terjadi pada Sabtu 22 Desember 2018 kemarin semakin menegaskan kepada kita bahwa Tuhan tengah menguji kita dengan banyak musibah.

Di Bengkulu sendiri kita baru dirundung duka dengan adanya sebagian warga yang menjadi korban banjir dan kebakaran Pasar Tradisional Modern (PTM).

Di tengah kesedihan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, tidak pantas kita ketawa-ketiwi.

Bila kita sudah memiliki niat untuk membelanjakan duit untuk membeli kembang api, kondom, minuman keras, dan sebagainya, lebih baik niat tersebut kita ubah dengan memberikan uangnya kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.

Jangan biarkan gunung, laut dan bumi menjadi musuh yang meluluhlantakkan rumah dan harta benda karena bosan melihat tingkah laku kita.

Apa yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Bengkulu menjadikan peringatan malam tahun baru sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memenuhi rumah-rumah ibadah umat beragama masing-masing layak untuk diapresiasi dengan mengikuti imbauan tersebut.

Sudah semestinya kita mengikuti kegiatan yang dapat mengingatkan kita ketika tahun baru datang berarti ajal kita semakin dekat, kita semakin dekat dengan pintu kubur.

Sudah semestinya kita mengikuti kegiatan yang dapat mengingatkan kita bahwa tahun baru adalah sarana untuk mengubah kebiasaan kita dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari gelap kepada cahaya, dari fitnah, gibah dan benci kepada sikap saling mencintai dan saling menolong.

Mari kita Kubur kemaksiatan malam tahun baru dalam-dalam.