Press Conference Kanwil Kemenkumham Bengkulu

PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Terkait dipindahkannya penahanan mantan Gubernur Provinsi Bengkulu Ridwan Mukti dan Istrinya Lily Martiani Maddari dari Lapas Bentiring ke Lapas Sukamiskin Jawa Barat, sementara untuk Lily Martiani Maddari di pindahkan dari Lapas Perempuan Bengkulu ke Lapas Perempuan Tanggerang.

Kepala Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Bengkulu, Ilham Djaya, Senin (3/12/2018) mengatakan pemindahan Mantan Gubernur Bengkulu, bersama istri berdasarkan persetujuan surat Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS. PK. 01.05.08-847 tertanggal 27 November dan surat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Bengkulu nomor W8.PK. 01.01.02-307 tertanggal 30 November.

“Pemindahan merupakan permintaan pihak keluarga narapidana, dengan melihat beberapa aspek dan pertimbangan. Lily sendiri, keluarga intinya ada di Jakarta jadi pemindahan tersebut berdasarkan permintaan keluarga,”ujar Ilham Djaya.

Selain itu, keamanan menjadi salah satu faktor Gubernur Bengkulu non aktif Ridwan Mukti (RM) dipindahkan dari Lapas Bentiring Bengkulu ke Lapas Sukamiskin, Bandung.

“Misalnya, Lapas sudah penuh, over kapasitas, sehingga harus dipindahkan ke Lapas yang lain, atau di sini kita anggap tidak aman untuk yang bersangkutan, mungkin karena ada grupnya, ada musuhnya, sehingga kita pindahkan ke lapas yang lain,” ungkap Ilham.

Lanjutnya, Ridwan dan istri akan tetap mendekam di Lapas baru selama Permenkumham belum dicabut, yang berarti ada kemungkinan keduanya dipulangkan kembali ke daerah. Namun, saat ini Kemenkumhan dan KPK mengetahui bahwa Lapas Sukamiskin masih menjadi Lapas khusus narapidana tipikor.

“Selama Permenkumham belum dicabut, mereka akan disana dulu, kita siap saja kalau seandainya mereka dipindahkan lagi ke daerah-daerah, tapi sampai detik ini Kemenkumham dan KPK mengetahui bahwa Lapas Sukamiskin itu masih ditempatkan sebagai Lembaga Pemasyarakatan khusus korupsi,” kata Ilham.

Diketahui, Ridwan Mukti dan Istri di boyong menuju jakarta mengunakan pesawat Lion Air JT-631. Keberangkatan keduanya dikawal oleh 4 orang personil Polda Bengkulu  2 orang Polwan Propam Polda dan 2 orang Sabhara Polda serta 2 orang dari Lapas Bentiring dan 2 orang dari Kanwil Kemenkumham Bengkulu.

Seperti diketahui bersama Ridwan Mukti dan istrinya Lily Martiani Maddari ditangkap KPK pada Juni 2017 lalu karena diduga terlibat suap terkait proyek peninggian jalan di Bengkulu. Mereka diduga menerima uang Rp 4,7 miliar dari kontraktor yang memenangkan tender proyek.

Keduanya dihukum 8 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Bengkulu. Vonis terhadap keduanya lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa penuntut umum KPK yang menuntut pidana kurungan selama 10 tahun. Hukuman terhadap keduanya kemudian diperberat pada tahap banding. Pengadilan Tinggi Bengkulu memperberat hukuman keduanya menjadi 9 tahun penjara. [Ardiyanto]