AIDS menjadi santapan telinga yang tidak asing bagi kita. Penyakit Menular ini menjadi momok di tengah masyarakat, namun masyarakat sendiri tidak menjauhi dan bahkan ikut berperan menyebarkan penyakit mematikan ini dengan cara memberanikan diri ikut andil dalam berzina.

Namun sejatinya, Allah telah melarang mendekati praktek ini dari beberapa abad yang lalu. Mendekatinya saja tidak boleh, terlebih melakukan.

Simbol Pita Merah digunakan secara internasional untuk melambangkan perang terhadap AIDS. Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Namun disayangkan, angka pengidap HIV/AIDS dari tahun ke tahun terus meningkat dan penderitanya tidak terbatas pada orang dewasa saja bahkan di kalangan remaja juga sangat memperihatinkan.

Seperti kasus di Bogor (ANTARA News 12/10/2018) – Angka penderita HIV/AIDS di Jawa Barat meningkat setiap tahun dimana kelompok pelajar dan mahasiswa makin rentan tertular penyakit mematikan itu.

Ketua Sekretariat Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Iman Teja Rachmana, Ia menjelaskan, saat ini angka pengidap HIV/AIDS sebanyak 90 persen berusia kisaran 15-49 tahun, 30 persennya berada di usia 20-24 tahun.

Hubungan seksual menjadi transmisi terbesar HIV/AIDS, disusul jarum suntik atau narkoba.

(https://www.mediaoposisi.com/2018/11/remaja-darurat-hivaids.html?m=1)

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam rangka pencegahan HIV/AIDS dimulai dari sosialisasi masyarakat tentang penyakit HIV, bahaya serta upaya pencegahannya. Selain itu pemerintah juga memberikan pendidkan seks yang sehat, sosialisasi penggunaan kondom dan menjauhi narkoba dengan memakai jarum suntik yang berulang.

Dengan adanya program-program tersebut diharapkan mata rantai penyebaran HIV bisa diputus atau dikendalikan.

Namun, pada faktanya pencegahan yang di lakukan tidak memberikan hasil yang signifikan bahkan angka para pengidap di Indonesia terus meningkat.

Seks bebas jadi penyebab terbesar dari para remaja yang mengidap HIV/AIDS. Oleh karena itu pencegahan pertama yang harus di lakukan adalah menghilangkan praktik seks bebas itu sendiri.

Dengan pemahaman Islam yang menyeluruh tentang pengaturannya hubungan laki-laki dan perempuan yang terikat pada hukum-hukum syara. Seperti larangan berzina dan menjauhi zina.

Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32).

Lalu, apakah Bengkulu terbebas dari penyakit mematikan ini?

Yayasan Kantong Informasi Kesehatan (Kipas) mencatat per Oktober 2017, jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Bengkulu mencapai 861 kasus. Artinya naik sebanyak 145 dibanding tahun 2016 yang sebanyak 716 kasus.

Disampaikan Direktur Yayasan Kipas, Merly Yuanda, peningkatan tersebut disebabkan banyak faktor. Paling banyak dikarenakan hubungan seksual tanpa kondom.

“Penyebab penularan ini banyak, misalnya seks tanpa kondom, ada juga penularan lewat transfusi darah,” jelasnya, belum lama ini.

Saat ini, ada sebanyak 158 orang dengan HIV-AIDS (Odha) yang rutin melakukan kontrol dan akses obat ke Kipas. Mereka ini diberikan antriretroviral yang berfungsi melambatkan pertumbuhan virus HIV/AIDS.

“Dalam penanggulangan kasus ini kami melakukan pendekatan komunitas melalui pendamping sebaya untuk menjangkau merek yang belum terjangkau,” ungkapnya.

Dalam perbincangan kepada wartawan Pedoman Bengkulu, Merly berharap agar Peraturan Daerah (Perda) HIV/AIDS yang telah diketok oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu bisa berjalan maksimal untuk mengurangi penyebaran penyakit ini. Regulasi tersebut dimaksimalkan oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Karena peran LSM ini terbatas. Padahal kita butuh layanan komprehensif, berkesinambungan dan terintegrasi sehingga menjawab atau bisa mengurangi epidemik ini,” paparnya.

Sejauh ini, ia nilai, Perda yang ada masih mengambang. Padahal ia berharap perda tersebut bisa mengatur secara teknis apa yang harus dilakukan oleh seluruh stakeholder.

“Ada 9 poin dalam penanganan HIV/AIDS ini yang tidak masuk dalam perda tersebut. Misalnya, edukasi, pengadaan jarum, pengadaan kondom, penjangkauan, dukungan sebaya, pendampingan, kewirausahaan,” ungkapnya.

Saat ini Yayasan Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (Kipas) Bengkulu menginiasi penanggulangan HIV/AIDS melalui tes mandiri atau periksa sendiri menggunakan alat yang diaplikasikan sederhana dan hasilnya bisa segera diketahui.

“Ini langkah kedua penanggulangan HIV/AIDS setelah skema layanan dan penjangkauan populasi kunci,” kata Direktur Kipas Bengkulu, Merly Yuanda, di Bengkulu, Jumat.

Ia mengatakan tes HIV/AIDS mandiri dapat dilakukan setiap individu yang ingin mengetahui status kesehatannya.
Dengan alat sederhana yang mirip dengan alat tes kehamilan, hasil tes dapat diketahui dengan cepat.

Selama ini, kata Merly, untuk tes HIV/AIDS, warga diharuskan mendatangi layanan kesehatan yang tersedia di rumah sakit dan tempat lain.

“Dengan alat ini setiap orang bisa melakukan tes sendiri di rumah dan mengetahui hasilnya,” ucapnya.

Jika tes menunjukkan hasil positif maka penderita dapat mendatangi layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan obat anti-retroviral atau ARV.

Merly mengatakan alat tersebut akan disediakan secara gratis, memuat petunjuk terkait dengan langkah yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan mandiri di rumah menunjukkan hasil positif.

Ia mengharapkan sistem itu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tes HIV/AIDS mengingat jumlah layanan untuk tes saat ini baru tersedia 60 persen. “Misalnya di Kota Bengkulu, dari 24 unit layanan kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit, baru 13 yang menyediakan layanan tes HIV/AIDS,” katanya.

Dengan adanya “Ritual Tahunan” dan solusi yang digulirkan dalam sistem sekuler hari ini ternyata tidak mampu menyelesaikan dan bahkan memberhentikan petualangan AIDS itu sendiri.

Karena memang apa yang dihadapkan kepada kita hari ini bukanlah suatu sistem yang mampu memberi solusi dalam setiap masalah yang dihadapi, tetapi malah ikut memberi polusi dengan melindungi praktik prostitusi. Baik itu terselubung maupun prostitusi yang berani unjuk gigi.

Hemat penulis, kita membutuhkan solusi yang membabat habis penyebab AIDS itu sendiri, tentunya solusi ini bukanlah sekedar ilusi bak seseorang yang sedang berhalusinasi.

Solusi ini tidak lain adalah kembalinya kita ke aturan agama kita yang suci dari yang Maha Suci.

Nining Tri Satria, S.Si, Praktisi Pendidikan Kota Bengkulu