Petugas PT Pos saat menujukkan salah satu amplop yang berisi Tabloid Indonesia Barokah.

Ditujukan untuk Seluruh Masjid se-Provinsi Bengkulu

PedomanBengkulu.com Bengkulu — Baru-baru ini Kota Bengkulu sontak heboh. Keheboan terjadi karena diduga Kantor Pos Kota Bengkulu mendapat kiriman Tabloid Indonesia Barokah.

Wakil Kepala Kantor Pos Bengkulu, Sucipto, saat di temui di ruang kerjanya, Selasa (29/1/2019) membenarkan terkait adanya kiriman tabloid Indonesia Barokah tersebut.

Sementara untuk tabloid tersebut berasal dari Redaksi Tabloid Indonesia Barokah, Pondok Melati, Bekasi dan dikirim melalui jalur darat.

“Iya benar kita mendapat kiriman kiriman Tabloid Indonesia Barokah dengan tujuan ke pesantren dan masjid yang ada di Provinsi Bengkulu. Jumlah kiriman amplop yang bertuliskan pengirim Tabloid Indonesia Barokah ini harusnya 2.906 amplop, namun yang baru sampai 1.051 amplop. Pengirimannya secara bertahap dari mulai tanggal 26, tanggal 27 dan tanggal 28 Januari 2019,” terang Sucipto.

Tujuan pengiriman yang tertera di amplop tersebut, kata Sucipto, yaitu pesantren dan masjid yang ada di Provinsi Beengkulu. Sementara untuk di Kota Bengkul sebanyak 86 amplop. Namun untuk saat ini, kiriman tersebut belum di sebarkan.

“Kita mendapatkan telfon dari Kantor Pos Pusat yang ada di Bandung amplop tersebut di suruh nahan dulu jangan disebar. Sementara isi amplop tersebut kita belum bisa melihatnya,” jelas Sucipto

Terkait ini pihak Bawaslu Bengkulu dan Polda Bengkulu sudah datang ke Kantor Pos Bengkulu untuk melihat amplop tersebut.

“Pihak Polda dan Bawaslu sudah menetahui ini dan kita menunggu untuk langkah selanjutnya,” tandas Sucipto

Berdasarkan informasi terhimpun, Tabloid Indonesia Barokah ke Intansi – Instansi terkait guna mewaspadai adanya dugaan peredaran gelap hoaks menjelang Pilpres mendatang yang mana dikaitkan dengan situasi politik yang akan digunakan sebagai alat media Propaganda untuk menyudutkan salah satu Paslon Capres dan Cawapres No urut 02 Prabowo – Sandi yang berdampak adanya gesekan antar pendukung Capres dan Cawapres. [Ardiyanto]