Ilustrasi

Pembunuhan satu keluarga di Rejang Lebong yang dilakukan oleh seorang pria kepada mantan istri dan anak-anak tirinya belum lama ini membuat banyak warga masyarakat geram.

Sebelumnya, pembunuhan suami terhadap istri juga pernah terjadi di Dusun 2 Desa Suban Ayam Kecamatan Selupu Rejang pada September 2018. Sang suami cekcok dengan istrinya karena merasa kerap tidak diperhatikan.

Kemudian ada juga pembuhan suami oleh istri di Bengkulu Utara dengan ditemukannya kerangka manusia di Sungai Air Kotok Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara Januari 2018. Sang suami membunuh dengan alasan sakit hati lantaran sang istri menikah lagi secara siri dengan pria lain.

Pada tahun 2018 kemarin, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat rumah merupakan tempat yang paling berbahaya bagi perempuan karena banyak kejahatan dilakukan di rumah dan oleh anggota keluarga. Rata-rata setiap hari terdapat 137 perempuan yang dibunuh oleh anggota keluarganya di seluruh dunia, kawasan Asia menempati posisi tertinggi.

Meski banyak negara mengambil langkah penting mencegah kekerasan pada perempuan, tak ada tanda-tanda kekerasan dan pembunuhan pada perempuan akan menunjukkan penurunan di seluruh dunia, sebaliknya, jumlahnya terus meningkat.

Hal ini membuktikan bahwa agama yang amalan-amalannya menjadi jalan dalam menanamkan nilai-nilai kasih sayang pada jiwa setiap insan, mulai ditinggalkan di tengah-tengah keluarga.

Ketiadaan amal agama dalam sebuah rumah tangga membuat para suami mencintai istri atau sang istri mencintai suami tak lagi karena mengharap rida Tuhan, melainkan karena berharap pada perkara-perkara remeh temeh dunia seperti ketampanan, kecantikan, kekayaan, singkatnya, atas dasar memenuhi kehendak hawa nafsu sesaat.

Padahal hampir semua orang beragama sebetulnya sudah sering mendengar atau mengetahui bahwa remeh temeh dunia dan hawa nafsu sesaat itu tak sedikit pun memberikan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia yang sementara dan kehidupan akhirat yang abadi.

Usia pasti akan memakan ketampanan dan kecantikan setiap orang. Sama halnya mencintai karena kekayaan, pangkat dan jabatan, semua merupakan atribut dunia yang menipu, nampak mewah dan wah, tapi sedikit pun tidak memiliki nilai istimewa di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Bila seorang perempuan mencintai laki-laki karena remeh temeh dunia dan hawa nafsu sesaat, maka dia tidak akan menemukan kebahagiaan yang sejati, karena yang sejati itu tidak Allah letakkan pada ketampanan, kekayaan, pangkat dan jabatan yang tinggi, melainkan dalam iman dan ketakwaan.

Namun bila kecintaan itu dibangun atas dasar iman dan takwa, maka Allah subhahu wa ta’ala telah menjanjikan rumah tangganya akan dinaungi dengan ketenangan atau ketentraman (sakinah), cinta kasih (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah).

Hilangnya amalan agama tersebut tak hanya terjadi secara personal, namun juga secara struktural yang terbungkus dalam sistem neoliberal, memandu pemerintah menggunakan kebijakan ekonomi yang merugikan setiap keluarga, menjadi pemicu maraknya kekerasan fisik dan ekonomi antara suami dengan istrinya.

Prinsip agama yang mengatur bahwa umat manusia pada dasarnya bersaudara karena dipersatukan dengan keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa telah dicampakkan dengan masifnya penindasan manusia atas manusia di bawah regulasi-regulasi pemerintahan dan cara hidup yang sejalan dengan haluan neoliberalisme.

Neoliberisme meracuni kesadaran setiap rumah tangga di Indonesia selama 24 jam dalam satu hari agar mencintai dunia dan melupakan akhirat melalui tayangan-tayangan televisi yang mengandung konten cabul, hedon, dan glamor.

Neoliberalisme mampu menyesatkan banyak keluarga dari penyembah Tuhan menjadi penyembah harta, memindahkan tempat ibadahnya dari masjid ke pusat-pusat perbelanjaan, menyerang kaum perempuan dengan gaya hidup nan mempertontonkan aurat, dan kaum laki-laki dengan kegemaran akan kemaksiatan dan kenikmatan sesaat.

Neoliberalisme membuat manusia berbondong-bondong meninggalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menujukkan agar setiap keluarga dapat menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan mental dimana laki-laki balig mesti belajar kepada guru/ulama, lalu mengajarkan ilmunya kepada istrinya di rumah dan istri mengajarkan kepada anak-anaknya.

Agar terhindar dari kehancuran lebih lanjut tidak ada pilihan lain bagi keluarga-keluarga selain menggabungkan diri dengan ahli-ahli ibadah untuk melawan neoliberalisme dan memperjuangkan cara hidup atau sistem baru yang sesuai dengan ajaran agamanya.