Wasekjen Partai Kebangkitan Bangsa Dita Indah Sari (pertama dari kiri) bersama sejumlah ulama dalam konfrensi pers usai acara Seminar Nasional Gerakan Da’i Berkarakter Kebangsaan dengan tajuk Strategi dan Metode Dakwah Anti Hoax, Minggu (27/1).

PedomanBengkulu.com, Medan – Seribuan alim ulama di Sumatera Utara menyatakan satu visi dan berkomitmen untuk mendukung dan memenangkan pasangan capres-cawapres nomor 01, Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019-2024 mendatang.

Hal itu diungkap Drs KH Muhiddin Masykur, Pengasuh Majelis Taklim Bustanul Arifin Sumatera Utara yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Medan dan Ketua Jaringan Amar Ma’ruf Sumut, M Ikhyar Velayati Harahap didampingi sejumlah ulama pada konfrensi pers usai acara Seminar Nasional Gerakan Da’i Berkarakter Kebangsaan dengan tajuk Strategi dan Metode Dakwah Anti Hoax, Minggu (27/1), yang dihadiri seribuan alim ulama, da’i dan ustadz dari 7 kabupaten kota di Sumut di Hotel Emerald Garden, Medan.

“Dari pertemuan dan pembicaraan di acara seminar tadi, kita menilai dan bersepakat bahwa Presiden Jokowi telah berkomitmen dan banyak memberikan kontribusi kepada bangsa Indonesia, masyarakat dan ulamanya. Maka dari itu, kita juga berkomitmen kembali mendukung Bapak Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin sebagai pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu mendatang sebagai pasangan yang mewakili umara dan ulama,” ujar KH Muhiddin.

Memang, lanjutnya, di dalam berbangsa dan bernegara, dua pasangan yang ikut dalam kontestasi, baik pasangan 01 ataupun pasangan 02, merupakan putra-putra terbaik bangsa dan sama-sama Islam. Dan siapapun yang terpilih nantinya para ulama tetap akan mendukungnya.

“Tetapi, dalam bersikap untuk kontestasi ini para ulama tentu lebih memilih pasangan yang ada ulamanya, dan itu ada di pasangan 01,” jelasnya.

Dalam konferensi pers ini diungkapkan apa yang menjadi alasan ulama mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Di kesempatan itu, KH Muhiddin Masykur juga menyampaikan kesepakatan alim ulama Sumut bahwa di dalam berdakwah dan bermasyarakat, para juru dakwah tidak menyampaikan materi-materi dakwah yang dapat merusak ukhwah Islamiah ataupun merusak ukhwah wathaniyah.

“Ukhwah Islamiayah itu lebih penting dari segala-galanya dan itu satu-satunya aset kita, karenanya harus terus dijaga. Sehingga dalam berdakwah haruskah mengutamakan kebaikan, tidak boleh memfitnah dan menjelek-jelekkan orang ataupun kelompok lain. Jangan pula dakwahnya malah mengadu domba, memprovokasi umat apalagi sampai mencaci maki ulama. Itu jelas-jelas tidak diajarkan di dalam Islam,” tegas KH Muhiddin.

Sebelumnya, Ketua Jaringan Amar Ma’ruf Sumut yang juga Ketua Panitia Seminar, Ikhyar Velayati Harahap menyatakan situasi politik saat ini tengah masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Sebab, sering bermunculan hoax atau berita bohong, fitnah yang berpotensi memecah belah sesama bahkan antar umat beragama.

Maka dari itu, kami merasa perlu para dai, alim ulama dan tuan-tuan guru untuk memberikan pandangan agar tensi politik yang terlanjur panas bisa menjadi sejuk kembali.

“Di tengah situasi politik yang saling hujat, hoax dan fitnah, dibutuhkan masukan ulama dan para dai untuk memberikan informasi yang benar serta dakwah yang sejuk untuk merekatkan umat,” kata Ikhyar.

Disebutkannya, politik identitas yang muncul saat ini telah membuat perpecahan di tengah masyarakat, mulai dari tingkat atas hingga yang paling bawah. Bahkan, polarisasi itu sudah sampai memberi cap kafir kepada sesama umat islam yang berbeda pilihan.

“Kalau ini tidak diantisipasi dan direkatkan kembali. Bisa saja 2019 Indonesia hanya tinggal nama. Yang bisa merekatkan ini semua adalah para dai, ulama dan tuan-tuan guru,” paparnya.

Lebih lanjut Ikhyar menyatakan, pasca pertemuan alim ulama, da’i, ustadz dan ustazah ini yang juga menyepakati untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres mendatang, Jaringan Amar Ma’ruf juga telah menyiapkan program lanjutan yakni Gerakan Anti Hoax 1000 Mesjid untuk mensterilkan masjid-masjid di Sumut dari berbagai hoax dan ujaran kebencian yang disinyalir dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. [Medi/Bis]