Oleh : Fenti Fitriani,
SMK Negeri 1 Kota Bengkulu

Langkahku berjalan menuju kampus Cornell University. Namaku Zihara Arcane, biasa disapa Zizi. Aku kuliah di Fakultas College of Architecture, Art and Planning dan juga School Of Hotel Administration di universitas yang sama.

Aku sengaja mengambil dua fakultas sekaligus dalam lima tahun melalui beasiswa yang ku dapat. Karena hobi menulis dan bermimpi untuk mendirikan hotel adalah alasan mengapa aku mengambil kedua fakultas tersebut.

Tidak terasa, sekarang sudah lima tahun aku menjalani kuliah di sini dan besok adalah hari berharga untuk semua orang, tapi untuk itu hanya biasa saja. Besok aku akan wisuda.

“Zizi ?” panggil seorang temanku yang juga berasal dari Indonesia, namanya Clea.

Aku tersenyum tipis menyadari kedatangannya.

Lea menyenggol pundakku pelan, “Ciee yang besok bakal wisuda,” godanya.

“Biasa aja! ” jawabku datar. Mataku melirik ke arah Lea yang sekarang memanyunkan bibirnya kesal.

“Kamu gimana sih, bukannya seneng malah biasa aja,” ujarnya kecewa.

Lea memang kuliah di tempat yang sama denganku, tapi dia mengambil fakultas tentang manajemen apalah itu, aku tak terlalu mengetahui. Toh, itu juga bukan urusan ku.

“Ya emang biasa aja, cuma wisuda kok bukan hari raya” balasku ketus, kemudian berjalan cepat meninggalkan Lea.

Lea menghela nafas mendengarku, baginya sudah biasa menghadapiku. Dan entah mengapa, dia tetap mau bersamaku.

Aku mengacuhkan Lea yang menatap kepergianku. Kakiku melangkah menuju ruang dosen, Sam Smith.

“Excuse me,” ujarku dari luar sembari mengetuk pintu.

Seorang laki-laki yang sudah cukup tua membuka pintu ruangannya, dia adalah dosenku, Sam Smith.

Who is come tomorrow? Mom or dad or anyone? “ tanyanya.

Aku berdehem, “I just alone, mom and dad work, so busy. And can’t come here tomorrow,” jawabku.

Ia adalah sosok yang selalu menyemangatiku, sudah seperti kakakku sendiri, dialah yang selalu membimbingku, mengajariku dan selalu membantuku.

Sam tersenyum, “I have work for you. You can or cannot? ” tanya sam.

Aku berfikir sebentar, lalu kemudian mengangguk, “Tak ada salahnya aku mencoba yang lain,” fikirku.

Sam tersenyum senang sembari mulai menjelaskan dimana aku akan bekerja dan tempat apa yang akan memperkerjakanku langsung menjadi seorang direktur. Dari penjelasan Sam, itu adalah jawaban dari semua usaha dan doaku.

Tanganku perlahan mulai menandatangani kontrak kerja, di sana tertulis jika aku akan bekerja di perusahaan Artpar yang berada tepat disalah satu kota kecil, yaitu Bengkulu. Aku tak begitu mengenal kota itu, namun telingaku sering mendengar jika Bengkulu adalah kota yang indah. Salah satu ciri khasnya yaitu Bunga Rafflesia Arnoldi yang hanya tumbuh di daerah itu.

Setelah semua selesai, aku kembali ke apartemenku. Kemudian bersiap untuk bekerja, Meski besok aku sudah akan di wisuda dan lusa aku sudah pindah kerja di Indonesia. Setidaknya untuk sekedar menambah uang belanja untuk membeli beberapa barang atau hanya sekedar untuk berpamitan.

Langkahku mulai memasuki sebuah cafe berdesain khas negara Jepang dengan perpaduan Tiongkok dan Thailand. Frisson Espresso, itu adalah cafe tempat kerja baruku.

Ohayou Zi!” sapa Belle, salah satu pegawai di sini.

Aku berdehem menanggapinya, kemudian berjalan menuju dapur. Tanganku meraba seluruh peralatan dapur, “So perfect! ” puji ku.

Rio, lelaki bertubuh tinggi dengan wajah khas Tiongkok itu menghela nafas lega saat ku puji.

Langkahku kembali menuntunku menuju sebuah lift khusus pegawai, aku memasuki lift tersebut karna kebetulan lift itu kosong. Lift itu berhenti pada lantai 3, satu-satunya ruangan yang berdesain warna putih dengan peralatan warna hitam, “You come back?” suara lembut menyapa.

Aku berbalik, “Why you in here? ” tanya ku.

Fiola, direktur cafe ini berasal dari Indonesia, sama seperti aku.

Waiting for you! ” jawabnya.

Aku menghela nafas, “I don’t comeback, tomorrow, i go to Indonesia. I have work, and i a great to contract. So, i feel this cafe will very good with you !”

Fiola mengernyit, “Are you sure ?” tanyanya curiga.

Aku mengangguk, sedangkan Fiola kini mendekat kepadaku lalu memeluk ku erat.

“I’am soo miss you evertime ! So, when you comeback? ” tanya Fiola.

I don’t know, maybe one or two Year. But, i can believe you right ? If you make the cafe is very good ? “tanya ku,

Fiola mengangguk senang, “I promise for you! You can believe me !” tegasnya sembari melepaskan pelukannya yang membuat nafasku cukup sesak

“Ehmm, I hope back to my work now, ” ujar fiola lagi.

Aku mengangguk, diiringi kepergian Fiola dari hadapanku. Sekarang aku sendiri, aku duduk di kursi hitam ruangan kerja.

Tak kusadari, dalam suasana hening aku merenung masa lalu dan menyadari bahwa cafe ini menjadi tanggung jawabku.

Dua tahun yang lalu aku membeli cafe ini. Sebelumnya, memang saat itu cafe ini hampir gulung tikar. Namun, setelah aku membelinya, aku mengubah semua yang ada di cafe ini kecuali desain Jepangnya.

Tanganku meraih sebuah berkas, kulihat semua perkembangan cafe ku. Allhamdulillah, tahun ini aku mendapat keuntungan yang cukup besar.

Trtttt… Trrrttt… Trrtttt

Getar suara ponsel yang berada di atas meja menyadarkanku dari lamunan masa lalu. Kuraih ponsel tersebut, mataku tertuju pada keterangan nama di layar, ‘Nomor Tak Dikenal’.

“Dari kode nomornya, sepertinya dari Indonesia! “gumamku pelan.

Aku ragu untuk mengangkat telpon tersebut, sembari menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya aku menggeser tombol hijau.

Hallo, who is this? ” tanyaku.

Sebuah suara berasal dari seberang sana menjawab, “I’m Raina, and i from Indonesia! ” jawabnya menyebutkan nama.

Aku berusaha mengingat sesuatu, tapi tak ingat, aku berdehem pelan.

Why you call me Raina? Can me help you?” balasku lagi.

When you come back here? I’m waiting 5 years you know?! And you know what! Have a bad news in here. So, please come back. I need you help me Zi !” ujar Raina dengan nada kesal kemudian sedih.

Aku melihat layar ponselku, ‘Raina kenal aku? Dari mana? ‘ batin ku.

Zi ? Are you there? ” tanya Raina.

Aku mengigit bibirku pelan, ‘Demi apa pun aku benar benar gak ingat soal raina, ‘ batin ku. “Hm, I’m sorry Raina. I have a work, so. Do you call me tonight? “ pinta ku.

Of course Zi! so, have fun to day! ” tutup Raina.

Aku menghela nafas pelan, besok Aku akan wisuda dan setelah itu aku akan ke Indonesia. Pasti sangat melelahkan!

o0o

Malam ini adalah malam terakhir aku di New York, Amerika. Karna besok aku akan ke Indonesia. Tadi siang aku resmi diwisuda, tak ada yang spesial. Wajar saja, di hari penting seperti ini aku tetap saja sendiri. Biasa, aku sangat terbiasa sendiri.

Tanganku membuka lemari, lalu kemudian memasukkan pakaianku ke dalam koper. Aku tak ingin buru-buru besok, jadi akan aku siapkan semuanya malam ini. Untuk tiket, semua sudah ku beli dari tadi pagi. Aku juga sudah berpamitan dengan Sam, dosenku.

Setelah semua persiapan selesai, ku letakkan ponsel ku di atas lemari yang berada di samping ranjangku. Aku berbaring di ranjang, sekarang adalah musim semi. Dan aku benci musim semi, aku lebih suka salju dari pada matahari. Aku berfikir sebentar kemudian perlahan ku tutup mataku.

***

Kringgggg!!!! sekarang tepat pukul 3 pagi.

Alarm berbunyi tepat di telingaku, aku menggeram kesal. Tanpa sadar ku raih alarm itu lalu ku lempar ke sembarang arah. Kemudian aku berusaha menutup mata kembali, dan sialnya mataku memang tertutup tapi aku tak bisa melanjutkan mimpi ku karna aku tak bisa tidur. Aku mendengus kesal, lalu bangkit dan meraih handuk.

Aku telah siap dengan semuanya, ku lihat ponselku. Ada beberapa pesan dari Fiola, Belle dan Clea. Isi pesannya? Hanya doa-doa agar aku bertemu dengan seseorang yang mampu merubah hidup ku 360°, menyebalkan sekali.

Dering ponsel berbunyi, segera aku bergegas membawa tas mini dan koper ku. Aku masuk ke dalam taksi online yang sudah ku pesan sejak 1 jam yang lalu.

Tak berselang waktu lama, aku sudah berada di bandara. Setelah melakukan chek in dan semua yang diperlukan, aku melangkah masuk sembari mencari kursi 28 yang berada tepat di dekat kaca. Aku duduk di kursi itu, sembari melihat lihat negara Amerika tepatnya di Ithaca, New York yang telah 5 tahun aku tinggali.

Tak lama, aku tertidur.

“Pergi kamu!! ” bentak ayah. Terdengar lagi suara gelas dan piring pecah, “Tak ada guna punya anak cacat!! Hanya membuat aib keluarga! ” lanjut ayah. Ayah berhenti sejenak, kilatan api benci terlihat dimata ayah, “Kamu lihat Zahira, kembaran kamu. Dia pintar, selalu juara di setiap mata pelajaran. Sedangkan kamu, menulis saja tak bisa!!! ” bentak ayah. Ayah mengangkat tangannya hendak menamparku, tapi dicekal bunda, “Akan ku masukan dia ke asrama besok pagi! ” putus ayah lalu masuk ke kamarnya.

“Ayah, ku mohon jangan kirim aku ke asrama. Aku janji tak kan mengulangi kesalahan lagi. Aku mohon ayah.”

Aku terbangun dengan nafas terengah engah, ku kucek mataku perlahan. Aku menggernyit, mengapa tanganku basah. Aku menghela nafas pelan, ku ambil selembar tisu yang berada di tas. Ku lap mata ku yang basah, ‘Aku benci mengingat itu !’ lirih ku.

Aku berada di pesawat saat ini dan aku dalam perjalanan menuju Indonesia. Ku lihat melalui jendela, bandara Soekarno Hatta sudah di depan mata.

Aku segera turun dari pesawat tersebut, lalu mengambil koper kemudian turun menuju lantai 1, mataku menelisir semua nama di kertas yang diacungkan oleh orang-orang yang berada di tempat tunggu.

Sam bilang, dia sudah menyewa orang pribadinya untuk menjadi supirku selama di Indonesia.

Mrs Zihara ?” panggil seorang laki-laki tak jauh dariku.

Aku menoleh, wajahnya tampak asing. Aku tersenyum tipis, lalu berjalan ke arahnya.

Private driver Mr Sam? ” tanya ku.

Laki-laki itu mengangguk, “My name is Rio Anggara, you can call me Rio or Angga! ” jawabnya seraya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.

Aku membalas uluran tangan itu sembari menyebutkan namaku pula, “Zihara Arcane, you can call me Zizi! ” balasku datar namun tegas.

Rio mengangguk kemudian mempersilahkan ku untuk berjalan duluan menuju mobil yang telah dibeli Sam untukku.

Setelah perjalanan 1 jam, aku tiba di sebuah apartemen. Aku memang berencana untuk ke Bengkulu besok pagi. Aku ingin berwisata di Kota Jakarta, kota macet Indonesia, begitulah yang dibicarakan orang-orang.

Bersambung,