Pedomanbengkulu.com, Seluma – Makam merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi manusia yang tidak bernyawa lagi, disamping itu makam sering kali dianggap mistis bagi sebagian orang yang meyakininya, terutama keberadaan makam tua yang berada ditepian sungai Sindur, tepatnya diKelurahan Sukaraja Kabupaten Seluma.

Disamping itu, keberadaan makam tua tersebut, hingga Sabtu ini (9/2/2019) makam tersebut masih menyisakan sejumlah cerita misteri makam tua tersebut, selain makam tua, terdapat sebuah meriam yang lokasinya tak jauh dari lokasi pemakaman.

Ali Brahmada, tak lain adalah ahli waris makam dari keturunan Puyang Ulak Semano ke 5, yang berhasil kami temui pada Sabtu Pagi (9/2/2019) pukul 10.00 wib menuturkan, bahwa makam tersebut merupakan ahli waris dan dikenal sebagai makam leluhur dari warga Desa Lubuk Sahung, Talang Alai, serta Kelurahan Sukaraja.

“Pada tahun 1982, yang dulunya PTPN 23, namun saat ini menjadi PTPN 7 unit usaha Padang Pelawi, saat membuka sejumlah lahan guna penanaman produksi karet dengan alat berat, namun alamat tersebut tidak dapat bergerak,” tutur Ali Brahmada.

Dijelaskan pula bahwa di lokasi tersebut, terdapat ratusan makam, namun dari ratusan makam yang ada, hanya ada empat buah makam yang terawat.

“Untuk makam yang paling tua adalah makam puyang Ulak Semano, puyang Jago Bayo, puyang Tumenggung dan puyang Senano Dewo,” jelasnya.

Untuk ke-4 makam tersebut diyakini sebagai leluhur bagi masyarakat yang bermukim di daerah Sukaraja.

“Makam yang paling tua adalah makam puyang Ulak Semano, puyang Jago Bayo, puyang Tumenggung dan puyang Senano Dewo,” jelas Buyung panggilan akrab Ali Brahmada.

Selain makam, meriam bersejarah yang berada dilokasi itu sering kali mengeluarkan bunyi dentuman yang didengar oleh warga sekitar.

“Sebelum terjadinya gempa besar diBengkulu pada tahun 2000 silam, warga mendengar bunyi letusan yang diyakini berasal dari meriam, namun bunyi tersebut setelah tiga hari gempa terjadi,” ujar Ali Brahmada.

Warga juga meyakini, jika mendengar dentuman meriam, hal tersebut diyakini sebagai suatu pertanda untuk keturunan puyang Ulak Semano lebih berhati-hati, agar tetap selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta akan melestarikan leluhurnya.

“Kami akan menjaga peninggalan leluhur kami, agar tetap terjaga sampai kegenerasi berikutnya.” pungkas Ali Brahmada. [Wahyu70]