Oleh : Aditya Candra Utama,S.Kom.I

Penulis adalah Penyuluh Agama Non PNS Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong dan Mahasiswa Pascasarjana (S2) Jurusan Aqidah Filsafat IAIN BENGKULU

Indonesia adalah negara majemuk (Pluralisme), artinya terdiri dari berbagai kelompok, suku budaya, adat-istiadat, ras dan agama. Menerima kemajemukan berarti menerima adanya perbedaan, namun bukan berarti menyamaratakan, tetapi mengakui bahwa ada hal yang berbeda, di dalam pluralisme atau kemajemukan, kekhasan membedakan satu dengan yang lain tetap ada dan tetap harus mutlak dipertahankan akan hakikat toleran ummat beragamanya.

Salah satu dari kemajemukan Indonesia adalah memiliki warga etnis tionghoa, dimana pada tanggal 05 Februari 2019 kemarin warga Tionghoa khususnya di Provinsi Bengkulu merayakan hari raya besarnya yakni Perayaan Tahun Baru Imlek ”GONG XI FAT CAI 2570”.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi ummat Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek di tahun 2019 ini merupakan tahunnya Ayam Api, yang dimulai dari tanggal 28 Januari 2019 sampai dengan tanggal 15 Februari 2019 atau yang lebih dikenal dengan Festival Musim Semi China. Secara epistimologi Imlek tahun 2019 adalah Elemen Api (Yin) ini menjadi unsur dominan di tahun ini, yang menunjukkan kehangatan serta ketenangan batin di dalam menjalin hubungan antar pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kesadaran bertoleransi agama sangat dibutuhkan di setiap elemen masyarakat di seluruh wilayah di Indonesia, dari berbagai macam suku bangsa, adat budaya, ras dan agama yang berbeda-beda kita bisa menciptakan dan membina kerukunan yang menjadikan kekuatan tak terbantahkan dan itu hanya dimiliki bangsa Indonesia yakni rasa ke-Bhinnekaan.

Hakikat “Bhineka Tunggal Ika” inilah menjadi landasan yang kokoh bagi bangsa Indonesia dikenal dimata dunia sebagai negara yang majemuk namun memiliki persatuan dan kesatuan yang melekat kuat hingga Negara di luar sana bangga dengan NKRI tercinta kita ini.

Potensi keharmonisan tersebut tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam suasana hidup kekeluargaan dan hidup bergotong royong. Di dalam sejarah bangsa Indonesia hubungan kerjasama antar ummat beragama terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling tolong-menolong, toleran yang tinggi akan ibadah agamanya, menghormati keyakinan/kepercayaan agama lainnya dan cinta akan keharmonisan untuk membangun peradaban bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kokoh.

Namun, fenomena yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia pada tahun 2016 dan 2017 belakangan ini adalah masih dibayang-bayangi oleh ancaman terorisme dan krisis kebhinnekaan. Seperti yang kita ketahui bersama pada bom yang baru terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur (13/11/2016) kemarinnya, merupakan salah satu bukti dari eksistensi kelompok Garis Keras yang berupaya mengkonstruksi permasalahan SARA baru dengan melakukan provokasi antar ummat beragama di Indonesia.

Kemudian terjadi konflik SARA di Indonesia pasca pidato yang disampaikan Mantan Gubernur DKI Jakarta Batsuki Tchajaya Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu DKI tersebut yang diduga terdapat unsur penistaan agama terhadap agama Islam hingga berujung pada aksi damai unjuk rasa besar – besaran pada aksi 411 dan 212 oleh ummat muslim se–Indonesia kemarinnya.

Adapun salah satu penyebab terjadinya ketegangan atau konflik dalam kehidupan beragama adalah akibat politik pecah belah (devide et impera) peninggalan masa penjajahan. Dalam kasus politik tersebut penjajah memanfaatkan perbedaan agama atau paham agama untuk menumbuh kembangkan atau mempertajam konflik-konflik sebagai bahan propaganda dan adu domba bagi bangsa Indonesia pada saat itu. Berikut hal-hal yang memiliki potensi besar terjadinya konflik SARA antara lain:

Pertama adalah salah memahami makna dari perbedaan. Kedua adalah tidak bisa memahami secara baik dan positif dalam konteks kemajemukan. Ketiga, Fanatisme yang keliru. Keempat, Penganut agama tertentu menganggap bahwa hanya agama-nyalah yang paling benar, mau “menang sendiri” dan tidak mau menghargai satu dengan lainnya. Kelima adalah Ummat beragama yang over fanatik (negatif) dan yang terlibat dalam konflik ataupun yang menciptakan konflik adalah orang-orang yang pada dasarnya kurang memahami makna dan fungsi agama pada umumnya, kurang matang iman dan taqwanya, tidak paham tentang toleransi ummat beragama, tidak memahami dan menghargai hakekat hak manusia, tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan, terutama hati nurani dan cinta kasih, kurang memahami wawasan kebangsaan dan kemasyarakatan Indonesia yaitu kerukunan, toleransi dan persatuan dalam kemajemukan. Namun, kebiasaan tersebut terbawa hingga sekarang dan digunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab sebagai senjata utama untuk memecah belah kesatuan dan persatuan, biasanya demi mengincar status politik atau tujuan tertentu.

Sekarang sudah selayaknya kita semua warga bangsa Indonesia membuka lembaran baru, mulai bersikap cerdas dalam memahami permasalahan-permasalahan ini secara dewasa. Hilangkan sentimen saling benci membenci antar ummat beragama, karena hal demikian hanya akan memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Karena perbedaan adalah suatu kekuatan, bukan untuk perpecahan. Untuk itulah, mari di momentum Imlek 2570 ini kita perkokoh kembali rasa persatuan dan kesatuan bangsa diantara ummat beragama untuk meningkatkan keharmonisan dalam menjaga kerukunan ummat beragama.

Selamat Tahun Baru Imlek ”GONG XI FAT CAI 2570” di Tahun 2019 bagi Ummat Konghucu yang merayakannya. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa yang cinta akan kedamaian dan keharmonisan ini. Rasa Nasionalisme dan Ke – Bhinnekaan sebagai warga Bangsa Indonesia harus kita junjung tinggi demi terciptanya stabilitas kemajemukan bangsa yang kokoh dan berdaulat…!!!