PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Pemilihan Umum (Pemilu) yang berkualitas tidak mungkin terwujud tanpa pembangunan manusia yang mendudukkan perempuan dan laki-laki secara berkeadilan dan kesetaraan tanpa ada sedikitpun diskriminasi.

Anggota Komite I DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief, mengungkapkan, keadilan dan kesetaraan masih belum terwujud bilamana di dalam masyarakat perempuan dan anak masih belum mendapatkan perlindungan yang maksimal dan menyeluruh.

“Bahkan di Bengkulu dan di banyak tempat perempuan dan anak-anak masih sering mengalami kekerasan. Hal itu mencerminkan masih banyak diskriminasi dan menjadi persoalan bersama yang membutuhkan peran semua pihak dalam menyelesaikannya,” kata Riri Damayanti kepada awak media, Senin (11/3/2019).

Anggota Kaukus Perempuan Parlemen RI ini menjelaskan, selama ini masih banyak persoalan perempuan dan anak yang kurang mendapatkan dukungan dari anggota legislatif.

“Kualitas Pemilu 2019 harus didasarkan kepada calon-calon yang peduli dengan kenyataan ini. Peduli bahwa peran perempuan harus dioptimalkan. Memang tidak akan mudah, tapi tidak ada kata terlambat,” ungkap Riri Damayanti.

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini berharap para pemilih dapat menggunakan akal dan nuraninya untuk menjawab tantangan ini dengan menggali dan mencari informasi mengenai kandidat yang responsif terhadap persoalan gender.

“Tantangan untuk menjadi anggota legislatif sekarang semakin kompleks. Tapi saya yakin dari sekian banyak calon yang ada pasti terdapat mereka yang memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan pembangunan yang peka terhadap hak-hak perempuan dan anak,” tutur Riri Damayanti.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana BKKBN Provinsi Bengkulu ini optimis, pada Pemilu 2019 perempuan memiliki animo yang tinggi untuk mendudukkan sesamanya dalam kursi legislatif.

“Ini bisa jadi momentum untuk menghadirkan keterwakilan yang cukup di Parlemen dan dengan demikian kita bisa sama-sama mengawal kebijakan yang berpihak kepada perempuan serta menjadi langkah strategis untuk mendorong pembangunan yang berorientasi kepada upaya membangun generasi emas dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak terhadap anak,” demikian Riri Damayanti.

Data terhimpun, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat jumlah caleg perempuan untuk tahun 2018 sebanyak 3.330 orang dari 8775 caleg atau 40 persen dari total keselurluhan.

Pun demikian, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mencatat meski sudah melewati ambang batas 30 persen, mayoritas nomor urut teratas yang memiliki peluang keterpilihan yang tinggi masih didominasi caleg laki-laki.

Pada Pemilu 2014 lalu, dari total 560 kursi DPR, hanya menghasilkan 97 anggota DPR perempuan. Jumlah tersebut turun dari Pemilu 2009 yang mencapai 103 orang. Pada Pemilihan Presiden 2019 calon Presiden dan Wakil Presiden semuanya merupakan lelaki. [Eva De]