Ilustrasi

Hari ini cukup ramai di linimasa media sosial (terutama Facebook) tentang hasil exit poll pemungutan suara di luar negeri. Terutama PSI yang menduduki posisi pertama. Lalu muncul pendapat – yang ngaconya datang dari pengamat politik – bilang, “Kalo selama ini PSI dianggap partai nol koma tidak terbukti. PSI justru unggul,”

Sebelumnya saya informasikan jadwal pemungutan suara di luar negeri antara tanggal 8 – 14 April 2019. Berlangsung di 130 negara. Contohnya Negara Panama telah melakukan pemungutan suara tanggal 9 April 2019. Penentuan jadwal ini disesuaikan dengan hari libur di masing-masing kota/negara. Tidak seperti di Indonesia tanggal 17 April yang jatuh hari Rabu, ditetapkan sebagai hari libur nasional, di luar negeri hari Rabu (17) tetap WNI yang disana tetap bekerja. Meskipun hari pemungutan suara lebih awal, tapi penghitungan suara dilakukakan serentak tanggal 17 April 2019 di masing-masing KBRI.

Pemungutan suarapun dilakukan dengan tiga cara: mendirikan TPS (seperti di Indonesia), TPS keliling (kalau di Indonesia dilakukan untuk pasien di rumah sakit) dan dikirim melalui pos.

Nah, terkait dengan exit poll sebenarnya hanya melingkupi koresponden yang keluar dari TPS atau bilik suara. Para koresponden yang terpilih (dengan teknik random) akan ditanya, “tadi memilih partai apa, Capres siapa atau Caleg siapa?”. Exit Poll tidak dapat menjangkau dua cara, baik TPS keliling maupun Surat suara yang dikirim melalui pos. Dengan demikian hasil Exit Poll tidak dapat dianggap mewakili semua populasi –paling tidak– di luar cara pemungutan suara langsung di TPS.

Sementara hasil exit poll yang ramai jadi pembicaraan di media sosial pun tidak menjangkau 130 negara. Hanya kurang dari 20 negara saja. Dengan demikian, hasil exit poll belum dapat dianggap mewakili semua pemilih di 130 negara dengan tiga cara pemungutan suara.

Atau anggaplah semua atau 130 negara itu sudah menampakan hasilnya lewat exit poll, apakah sudah cukup memberi gambaran tentang hasil Pemilu? Belum.

Untuk diketahui 130 negara atau wilayah luar negeri, masuk dalam Daerah Pemilihan Jakarta II. Para warga negara Indonesia di 130 negara itu, akan menerima dua surat suara: Calon Presiden dan anggota DPR RI. Dan anggota DPR RI yang dimaksud adalah Partai dan caleg dari Dapil Jakarta II. Di Dapil Jakarta II, selain luar negeri masuk juga Kotamadya Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan dengan kuota 7 kursi DPR RI.

Bila demikian hasil exit poll di luar negeri belum bisa diambil kesimpulan karena Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan belum melaksanakan pemungutan suara.

Dari survei Charta Politica bulan Januari 2019, memang benar Ketua DPP PSI Tsamara Amany cukup populer, selain Wakil Ketua Majlis Syura PKS Hidayat Nur Wahid dan Eriko Sutarduga (PDI Perjuangan). Hasilnya tidak jauh berbeda seperti hasil Exit Poll di luar negeri, dimana PSI, PDI Perjuangan dan PKS menempati suara tertinggi. Tetapi apakah hasil itu telah bisa ditarik kesimpulan bahwa partai-partai itu dapat memperoleh kursi? Seperti saya katakan di atas: Belum !. Karena Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan belum dilaksanakan pemungutan suara. Dari survei Charta Politica, justru tersebut nama Biem Benyamin (Gerindra) di Dapil Jakarta II.

Atau taruhlah PSI bisa mendapat satu kursi (Tsamara Amany) dari Dapil Jakarta II, apakah PSI lolos dari ambang batas parlemen 4%. Jika hanya menang di 1 Dapil, bagaimana dengan 79 Dapil lain seluruh Indonesia. Atau dapatkan PSI minimal mendapat 23 kursi DPR dari 80 Dapil seluruh Indonesia. Hampir semua survei menyatakan bahwa PSI tidak lolos ambang batas 4%.

Ini pendapatku. Bagaimana pendapatmu.

Oleh: Hendra Budiman