Ilustrasi

Belakangan ini kesusastraan mengalami kemunduran di lingkup masyarakat Bengkulu. Saya kira banyak faktor yang melatarbelakangi masalah ini. Mungkin bisa saya uraikan sebagai berikut. Pertama, kurangnya minat baca terhadap karya sastra itu sendiri.

Karya-karya sastra seperti Puisi, Prosa (Novel, Roman, dan Cerpen), serta Naskah Drama masih menjadi suatu bacaan yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai bacaan yang sulit dipahami. Sehingga, kalau boleh meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma bahwa Karya Sastra sekarang menjadi bahan bacaan yang bikin “alergi”.

Sebenarnya di beberapa daerah –bahkan dalam cakupan lebih luas, segala upaya sudah dilakukan oleh para pelaku sastra itu sendiri. Seperti kegiatan apresiasi karya, membaca puisi di ruang-ruang publik, mementaskan naskah drama, membaca cerpen-cerpen menarik yang berisi nilai-nilai kehidupan, dan sebagainya.

Disiplin seni lain pun juga turut serta mengangkat “derajat” sastra ke khalayak ramai. Katakanlah mengalihwahanakan novel dalam wujud film dan sukses menjadi cerita visual yang menarik oleh tangan para Sineas Indonesia. Bahkan setelah menonton, beberapa orang berhasrat pergi ke toko buku untuk mencari buku yang diadaptasi ke film tersebut.

Hingar-bingar mengangkat kisah-kisah novel mahakarya atau best seller ke layar lebar dewasa ini adalah salah satu wujud memasyarakatkan sastra meskipun dalam bentuk alih wahana ke disiplin seni yang berbeda.

Menyoal sukses atau tidaknya cerita novel yang difilmkan saya kira itu kerja kritikus film. Paling tidak lewat usaha yang sudah dijalankan tersebut, kedepannya bisa lebih mendekatkan sastra dengan masyarakat. Serta menarik minat untuk mencari dan membaca buku-buku sastra.

Novel atau Roman yang ditulis oleh para Sastrawan maestro –Indonesia, dalam proses kreatif kepenulisannya tidaklah gampang. Apalagi mereka hidup pada zaman yang serba dengan keterbatasan. Seorang Chairil Anwar pun yang dipuji oleh HB Jassin karena puisi-puisinya, acapkali merasa kurang puas dengan karyanya sendiri.

Beberapa puisi yang dirasa sudah bagus dianggap oleh Chairil belum selesai dan belum layak dipublikasi. Lain halnya di era sekarang segala sesuatu menjadi mudah untuk memperoleh informasi, menyebarluaskan tulisan, dan sudah merasa sangat pantas puisinya dinikmati.

Ini berkaitan dengan faktor kedua, penyebab kemunduran kesusastraan di Bengkulu menurut saya. Pelaku sastra di Bengkulu saya kira sudah produktif untuk urusan kekaryaan. Puluhan puisi diterbitkan, cerpen, pun novel tak luput dari euforia lahirnya karya sastra di Bengkulu.

Namun rasanya kurang lengkap jika tidak ada semacam bedah karya atau diskusi yang dibalut dalam kegiatan launching buku sastra tersebut. Tentu ini adalah wujud apresiasi terhadap kualitas karya itu sendiri, bukan semata-mata menulis lalu menerbitkannya tanpa ada keterlibatan dari para pelaku sastra lain atau kritikus sastra untuk mengapresiasi karya tersebut. Maka kemudian karya sastra tersebut hanya sebatas tulisan yang dibukukan setelah itu selesai, habislah perkara.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan para penulis sastra di Bengkulu, apalagi sekarang saya sangat senang banyak penulis muda yang begitu semangat untuk menulis. Saya sependapat, tidak ada karya yang gagal atau karya buruk dalam sastra, tak ada puisi jelek atau puisi sampah (pengecualian bagi politisi yang menulis puisi).

Tapi sekali lagi. Demi mewujudkan sastra yang berkualitas dan berterima di masyarakat umum, sehingga suatu saat nanti orang-orang menjadi akrab dengan puisi atau cerita-cerita pendek yang menarik dan karya sastra lainnya, kita perlu memikirkan tentang kualitas bukan hanya produktivitas semata.

I. Upaya Menumbuhkan Minat Baca (Buku Sastra)
Indonesia adalah Negara darurat literasi. Alasan saya mengatakan dengan istilah demikian bukanlah mengada-ada, karena ini merupakan masalah klasik. Mengutip dari detik.com berdasarkan survei oleh World’s Most Literate Nations dari Central Connecticut State University (CCSU) 2016, Indonesia berada di ranking 60 dari 61 negara. Bahkan kita kalah dari Negara tetangga terdekat Malaysia yang berada di peringkat 53.

Belakangan ini pemerintah dan juga komunitas-komunitas peduli literasi semakin giat melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menumbuhkan minat baca di masyarakat. Mulai dari upaya menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini hingga dewasa, dari sekolah dasar sampai ke sekolah tingkat atas. Pemerintah juga sudah menjalankan perpustakaan keliling sebagai bentuk usaha jika memang perpustakaan sulit dijangkau atau menyiasati rasa malas masyarakat untuk berkunjung. Kita selalu berusaha, dan semoga semua bentuk usaha itu; yang sudah maupun yang akan dilakukan memperoleh hasil yang maksimal.
Buku-buku sastra adalah buku yang menarik untuk dibaca.

Kata “Sastra” mungkin saat ini masih menjadi sesuatu yang kalau bisa, dihindari untuk dibaca apalagi sampai kepada untuk dibahas. Tapi ada banyak cara untuk menghilangkan anggapan demikian. Salah satunya adalah menghilangkan rasa “takut” akan memahami karya sastra itu sendiri. Dengan cara membuat acara yang sifatnya kontinu dan tersistematis. Misalnya apresiasi puisi di tempat-tempat umum seperti di cafe-cafe tongkrongan anak muda atau kegiatan bedah buku di tempat yang biasanya ramai dikunjungi oleh masyarakat luas seperti kedai kopi, taman kota, dan sebagainya.

Lain daripada itu, buku-buku sastra juga bisa diperkenalkan ke khalayak ramai lewat lapak baca gratis di kegiatan-kegiatan akhir pekan. Seperti saat kegiatan olahraga pagi atau sore di pusat-pusat fasilitas umum kebugaran.

Perihal upaya yang saya anjurkan tersebut hanyalah sebagian kecil dari semua bentuk usaha lainnya yang mungkin pernah terpikirkan oleh para pelaku sastra di Bengkulu. Ada yang sudah memulai namun lambat-laun tenggelam dan hilang, namun ada juga yang hanya sebatas ide tanpa memulai. Semuanya bukan serta-merta kegagalan atau pun kesalahan para pelaku sastra di Bengkulu, tapi menurut saya ada yang salah dari mekanisme pelaksanaannya maupun sumberdaya-sumberdaya yang terlibat di dalamnya.

Lain daripada itu lembaga-lembaga atau instansi terkait dalam pemerintahan saya rasa juga perlu untuk ikut terlibat dan berkolaborasi dengan para pelaku sastra yang berkompeten sesuai dengan track record kekaryaannya.

Maksud saya di sini adalah penyair, cerpenis, atau pegiat sastra yang karyanya diakui, dikurasi, serta dinikmati oleh para penikmat dan pelaku kesusastraan dalam skala nasional. Tak kalah penting juga keterlibatan kaum muda pecinta sastra di Bengkulu. Mereka adalah, –kalau boleh saya sematkan gelar sebagai masa depan sastra di Bengkulu.

Semakin sering mereka terlibat, semakin banyak pengalaman dan pembelajaran yang didapat. Jadi, bukan hanya sekadar burung dalam sangkar yang acapkali bingung mencari ruang menuju langit. Mengangkasa.

Semoga lewat kegiatan-kegiatan yang bersifat mendekatkan sastra lebih dekat lagi ke ruang publik akan bisa secara langsung menumbuhkan minat baca buku-buku sastra. Mempelajari sastra, memahami, serta tidak menutup kemungkinan melahirkan penulis-penulis baru yang memiliki karya monumental dan berterima dalam skala nasional.

II. Pertanggungjawaban Karya Penulis Sastra Bengkulu
Bengkulu tak sepi Penyair, tak kekurangan Cerpenis, tak habis para penulis Lakon, serta Seniman-Seniman Sastra yang berkualitas. Tapi menurut hemat saya masalahnya ada pada ketergesa-gesaan dalam memunculkan karya tanpa ada “kerja keras”. Maksud saya di sini adalah kerja keras dalam menulis suatu karya sastra. Mengutip perkataan seorang Haruki Murakami “Saya pekerja keras.

Saya selalu berkonsentrasi dalam mengerjakan tulisan saya” , Novelis asal Jepang itu bahkan butuh waktu sampai enam bulan untuk menulis draft pertama novelnya. Kemudian tujuh sampai delapan bulan lamanya ia habiskan kegiatan hanya untuk revisi. Menulis adalah petualangan seperti kata Ernest Hemingway, mungkin disini bisa saya artikan sebagai perwujudan adventure di dunia kepala seorang penulis itu sendiri.

Bukan hanya konsentrasi, dalam kegiatan menulis seseorang juga harus punya perbekalan pengetahuan dari pengalaman-pengalaman membaca karya-karya terdahulu. Sehingga bisa mengolah kata demi kata dengan baik. Penyair-penyair besar pun bisa menyimpan puisinya sampai berpuluh-puluh tahun sampai ia sendiri merasa puas.

Kemudian barulah ia mampu hadirkan puisi tersebut ke meja para pembaca. Itu pun ada saja yang masih kurang setelah ditelaah oleh para kritikus sastra.

Sebelumnya sudah saya katakan di atas, bahwasanya saya sangat senang banyak penulis muda di Bengkulu yang cukup berani menerbitkan karya dan produktif. Bahkan ada yang dalam kurun waktu berdekatan melakukan penerbitan buku baru dari penerbitan buku sebelumnya.

Saya tidak menggugat jika demikian yang dimaksud adalah suatu semangat produktivitas dalam menulis. Tapi alangkah baiknya jika tidak ingin karya tersebut hanya sebatas halaman-halaman kertas, maka lewatilah proses kreatif menulis yang baik dengan kerja keras.

Diskusikan manuskrip tulisan, lakukan riset bila perlu, dan yang paling penting bekali diri dengan banyak membaca. Sederhananya, jika ingin menjadi penyair maka perbanyaklah membaca buku-buku puisi dari penulis ternama, jika ingin menjadi seorang prosais bacalah cerpen atau novel yang dahsyat. Itu saja, namun masih sulit untuk kita lakukan.

Bila dikaitkan dengan faktor pertama tadi, bagaimana mungkin kita ingin menumbuhkan minat baca karya sastra di Bengkulu jika para penulisnya sendiri pun masih kurang kaya akan bahan bacaan. Sehingga memunculkan karya yang masih “lemah” kemudian dihidangkan untuk jadi konsumsi masyarakat.

Penulis-penulis sastra yang hebat kelahiran Bengkulu sebenarnya lumayan banyak, hanya saja mereka sudah tidak berdomisili di Bengkulu lagi. Sehingga untuk belajar dari mereka kita dibatasi oleh jarak fisik. Katakanlah kalau boleh saya sebutkan nama seperti Yetti A.KA seorang Prosais, Willy Ana seorang Penyair, Iwan Kurniawan, dan nama-nama lain yang mungkin belum kita ketahui. Tapi ada satu nama yang masih bisa kita jangkau sebenarnya.

Emong Soewandi seorang Sastrawan dan Budayawan yang saat ini berdomisili di Kepahiang, terakhir ia diundang diskusi dengan Komunitas Kutub Yogyakarta dengan tajuk “Sastra Kampung Halaman”.

Beberapa nama yang saya sebut di atas tentu sudah melewati proses kreatif kepenulisan dengan cara kerja keras. Kita bisa belajar dari mereka dan pengalamannya, meskipun ada beberapa nama yang tidak tinggal di Bengkulu lagi. Namun pada era saat ini –sekali lagi saya tekankan, bahwasanya informasi dan teknologi memudahkan segala sesuatunya. Kita bisa belajar dari banyak hal, masih bisa berkomunikasi walau berjauhan.

Saya ingin sampaikan rasa terima kasih untuk kawan-kawan penulis sastra di Bengkulu. Karena setidaknya berkat mereka saya percaya kesusastraan di Bengkulu tidak betul-betul mati. Ia ada tapi masih kanak-kanak untuk bermain ke luar rumah. Untuk itu masih ada waktu bersama-sama merubah atmosfir kesusastraan di Bengkulu agar lebih berkualitas lagi. Sebelumnya sudah saya katakan tidak ada sastra jelek dan gagal tapi bagaimana sastra itu menjadi makanan yang enak bukan hanya untuk kita sendiri, komunitas sastra itu sendiri, tapi juga untuk masyarakat luas.

III. Harapan akan Kesusastraan di Bengkulu
Saya ingin kita tidak menjadikan sastra sebagai suatu pekerjaan yang menghasilkan pundi. Jika ingin kaya materi maka carilah kegiatan atau pekerjaan lain, jangan sekali-sekali menulis. Apalagi jika sampai sastra dipolitisasi demi kepentingan-kepentingan oknum tertentu (saya sangat mengutuk hal ini).

Kita menulis puisi karena memang kita percaya sastra punya tempat dalam perjalanan kemerdekaan bangsa ini. Cerita dalam Prosa ditulis berdasarkan gambaran suatu zaman, Naskah dari sebuah Lakon yang dipentaskan adalah gugatan atas kegelisahan peristiwa-peristiwa kemanusiaan.

Saya juga masih terus belajar, belumlah pantas kiranya menyebut saya seorang Penyair atau Sastrawan. Tapi saya mencintai dunia kepenulisan sastra, sangat menyayangi puisi, dan yang paling mutlak saya masih perlu banyak membaca buku.

Semoga apa yang menjadi doa kita semua sebagai pelaku dan pegiat sastra untuk kesusastraan di Bengkulu selama ini akan terus didengar oleh Tuhan. Sila kawan-kawan Bengkulu mengamini. Salam kangen dari saya.

Penulis: Gansu Karangnio, Memiliki nama asli Ganda Sucipta, lahir di Talang Leak, Lebong 16 September 1992. Menamatkan pendidikan tahun 2014 di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Bengkulu. Puisinya yang bertajuk “Laki-laki Yang Bersajak Lupa” menjadi puisi pilihan dalam antologi puisi “Di Ujung Benang” Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII), Belistra, Jakarta, 2013. Lima puisinya juga tergabung dalam antologi “Kado Puisi untuk Bengkulu”, Oksana, Sidoarjo, 2014. Menulis esai “Anak Muda dan Semangat Bersastra” yang dimuat Harian Rakyat Bengkulu, 2014. Karya tunggal pertamanya “Akrostik Dari Balik Jendela” Komunitas Titik Awal, Palembang, 2014. Tahun 2016 lalu menerbitkan buku antologi puisi empat penyair muda Bengkulu “Melihat Kabut”, Ganding Pustaka, Yogyakarta. Pada tahun 2018 puisinya yang berjudul “Jelajah” terpilih untuk masuk dalam antologi puisi “Bulu Waktu” hasil kurasi 10 Tahun Sastra Reboan, Jakarta. Selain menulis puisi untuk beberapa terbitan buku, ia juga menulis di beberapa media internet, terakhir puisinya dimuat dalam media daring haripuisi.info yang berjudul “Tubuh Daratan”. Pertengahan tahun 2019 akan segera menerbitkan buku antologi puisi keduanya yang diberi tajuk “Stabik (Sehimpun Puisi Untuk Rejang), Sublim Pustaka Aksara, Palembang. 

Karena urusan pekerjaan, saat ini ia berdomisili di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berkirim kabar di gandasucipta02@gmail.com