PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Korban meninggal dunia dalam peristiwa bencana alam banjir dan longsor yang terjadi di delapan Kabupaten/Kota wilayah Provinsi Bengkulu beberapa hari lalu terus bertambah. Teranyar, berdasarkan catatan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu, Rabu tanggal 1 Mei 2019 tercatat korban meninggal dunia mencapai 30 orang dan korban meninggal dunia tertinggi teridentifikasi dari Kabupaten Bengkulu Tengah dengan jumlah 24 orang, sedangkan korban lainnya yaitu berasal dari Kabupaten Kepahiang sebanyak 3 orang, Kota Bengkulu sebanyak 3 orang.

Tidak menutup kemungkinan jumlah korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut
akan terus bertambah. Pasalnya, hingga sampai saat ini masih ada 6 orang yang dinyatakan menghilang dan sedang dalam proses pencarian.

Puluhan korban tersebut berasal dari berbagai daerah Provinsi Bengkulu yaitu, dari Kabupaten Bengkulu Tengah korban meninggal sebanyak 24 orang, Kabupaten Kepahiang korban meninggal sebanyak 3 orang, Kota Bengkulu korban meninggal sebanyak 3 orang, dan 5 orang lainnya masih hilang.

Bencana alam tersebut juga menyebabkan 2 orang korban mengalami luka berat dan 2 orang mengalami luka ringan dan saat ini telah mendapatkan perawatan intensif dari pihak kesehatan. Selain menelan puluhan nyawa, banjir bandang yang menerjang Bengkulu juga memakan korban hewan ternak mencapai 211 ekor terdiri dari 106 sapi, kerbau 4 ekor dan kambing 101 ekor mati.

Banjir dan longsor juga mengakibatkan kerusakan di beberapa sektor seperti pemukiman, pendidikan, perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan dan infrastruktur publik. Sementara ini, sejumlah 554 unit rumah rusak berat, 160 rusak sedang, 511 rusak ringan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan
Tim SAR gabungan yang dikoordinir oleh Basarnas memfokuskan pencarian korban hilang di Desa Talang Boseng, Susup dan Kelindang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu mengidentifikasi korban hilang yaitu, Tumini Heri Hartanto, Halidin, Kanelo, Yananan dan seorang anak.

“BPBD Provinsi Bengkulu masih melakukan upaya penanganan darurat seperti pelayanan kesehatan dan distribusi logistik, seperti ke Desa Taba Penyengat, Susup dan Kelindang. BPBD provinsi melaporkan pengungsian di Kecamatan Air Napal sejumlah 200 jiwa dan Kecamatan Bang Haji di Desa Genting dengan 417 jiwa. BPBD dan dinas terkait terus memberikan pelayanan pengungsi di kecamatan tersebut,” Sutopo Purwo Nugroho.

Dijelaskan, Sutopo Purwo Nugroho, Fasilitas pendidikan di seluruh wilayah Bengkulu, 7 unit rusak berat dan 1 rusak ringan serta 7 terendam lumpur. Kerusakan fasilitas pendidikan terbanyak berada di Kabupaten Bengkulu Tengah, 4 rusak berat, 1 rusak ringan dan 4 terendam, sedangkan Kaur, 3 rusak berat dan Kota Bengkulu 3 terendam. Pada sektor peternakan sejumlah ternak mati seperti sapi, kerbau, kambing, domba, ayam dan itik dengan jumlah total 857 ekor. Wilayah paling terdampak untuk sektor peternakan berada di Bengkulu Utara dengan total ternak 320 ekor.

Selain itu, sekitar 3.000 hektar lahan pertanian mengalami kerusakan. Rincian kerusakan lahan sebagai berikut sawah 2.648,06 ha, jagung 221,59 ha, kacang hijau tanah 8,25 ha, dan kacang hijau 3,25 ha. Sedangkan sektor perkebunan, sejumlah 775 batang sawit terdampak.

Sementara itu, di sektor infrastruktur, jaringan listrik masih dilakukan perbaikan dengan perkembangan pemulihan mencapai 74,28% pada 30 April lalu. BPBD melaporkan gardu distribusi sejumlah 42 unit masih padam dan 2.496 jaringan listrik pelanggan belum menyala.

“Total kerugian sementara hingga hari ini senilai Rp 144 milyar. Namun jumlah akan terus bertambah karena perkiraan kerugian tersebut menggunakan data sementara. Mengingat luas banjir dan skala dampak yang ditumbulkan maka jumlah kerugian akan banyak bertambah. BPBD masih melakukan pendataan kerusakan akibat banjir dan longsor yang dipicu hujan deras di seluruh wilayah Bengkulu beberapa hari lalu. BNPB masih terus mengirimkan bantuan ke Bengkulu seperti tenda, makanan siap saji, dan logistik lainnya. Saat ini sebagian besar banjir sudah surut dan daerah dapat dijangkau. Sampah, lumpur dan material yang dihanyutkan banjir banyak menutup jalan dan permukiman sehingga perlu dibersihkan,” ungkap Sutopo Purwo Nugroho.[Ardiyanto]