PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) serta elemen tokoh agama Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan MUI menggelar konferensi pers untuk mengajak semua pihak proposional dan konstitusional dalam menyikapi pemilu 2019 ini.

Ketua KPU Provinsi Bengkulu, Irwan saputra menyampaikan pemilu kali ini sudah dikatakan berhasil dengan tingkat partisipasi pemilu yang melebihi target, yakni 77,5 persen.

“Untuk saat ini target telah tercapai tapi masih menunggu rekapitulasi resmi dan saat ini baru terlihat dari jumlah suara yang masuk sudah 1 juta dan tetap kita meminta dukungan seluruh elemen karena rangkaian kegiatannya belum selesai hingga 20 Oktober 2019,” kata Irwan.

Selanjutnya, atas nama KPU pihaknya juga mengucapkan turut berbelasungkawa atas banyak penyelenggara pemilu yang meninggal dunia.

“Semoga yang meninggal mendapatkan balasan terbaik disisiNYA,” ungkap Irwan.

Irwan berharap keberadaan KPU bukan hanya sebagai rutinitas dalam mekanisme pergantian kepala negara saja tapi KPU bisa dipercaya oleh masyarakat melalui prinsip transparasinya dalam setiap pola kegiatannya.

Menurutnya pemilu ini merupakan satu satunya pemilu di dunia yang melaksanakan pemilihan terbanyak dalam waktu 1 hari dan sampai saat ini masih dalam tahap rekapitulasi karena baru ada 1 kabupaten RL yang dokumen rekapitulasi sudah diterima oleh KPU.

Maka dari itu Irwan pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama bersikap proposional dalam menghadapi pemilu yang belum tuntas dan bersama mengawalnya.

Sementara itu Ketua Bawaslu Provinsi Bengkulu, Parsadan Harahap juga mengatakan sisa proses pemilu sedang berjalan, sehingga pemilu harus dilaksanakan dengan Proporsional dan Konstitusiunal sesuai aturan yang berlaku.

“Partisipasi dan kontestasi. Kontes!itu ada yang kalah dan menang. Oleh karena itu kita harus pahami hasil pemilu dengan proporsional sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang memicu kekacauan,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak perlu bereaksi berlebihan karena semua proses belum selesai dan di Bengkulu sendiri masih 7 Kabupaten yang belum selesai.

“Masyarakat harus diberitahu bahwa pemilu adalah proses pencerdasan dan cara edukasi tentang konstitusional. Karena pemilu itu sudah memiliki jadwal yang detail,” terangnya.

Lanjutnya, cara Konstitusional harus diwujudkan dengan pelaporan bukti dan jangan menggiring opini karena dikhawatirkan akan memprovokasi masyarakat yang menyebabkan lembaga penyelenggara pemilu tidak dipercaya padahal sudah sesuai konstitusi.

“Kalau tidak proporsional, akan terjadi problem. Pada pemilu ini ada beberapa yang menjadi korban, karenanya harus disikapi secara serius,” tuturnya.

Ia pun menghimbau masyarakat dan pers yang memegang peran penting untuk mengawal pemilu dan mengedukasi bahwa pemilu belum selesai, sehingga jangan merusak pemilu dengan hal-hal yang tidak konstitusional.

Selain itu menurut Waketum Muhammadiyah, Fajrul Hamidi menyampaikan bahwa Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa Indonesia mengapresiasi penyelenggara pemilu KPU dan Bawaslu yang sampai saat ini pemilu Bengkulu walaupun banyak permasalahan yang terjadi tetap menjaga kondusifitas pemilu dengan baik.

Ia pun mengungkapkan bahwa Muhammadiyah merasa ikut prihatin karena banyak penyelenggara Pemilu yang menjadi korban pesta demokrasi ini dan tentunya mereka yang gugur adalah sosok yang berjihad di medan perang.

“Banyak tragedi yang terjadi baik nasional maupun lokal korban pemilu ini seperti adanya petugas KPPS yang meninggal dan semoga yang meninggal berjihad di medan perang,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat Bengkulu. “Mari menciptakan pemilu yang damai dengan mendukung pelaksanaan yang sesuai dengan konstitusi dan pelaksanaanya diharapkan bisa melaksanakan Pemilu dengan baik sesuai dengan aturan,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh ketua NU Zulkarnain Dali berharap kepada KPU dan Bawaslu untuk tetap melaksanakan pemilu sesuai konstitusi.

NU siap membela jika benar dan siap mengkritik jika salah. Bangun pola pikir yang menyeluruh, jangan hanya melihat dari satu sisi saja serta Pers harus menenangkan suasana dan saling mengevaluasi untuk menangkal hoaks medsos

Dan disesi akhir ditutup dengan statemen ketua MUI Prof. Rohimin bahwa Pelaksanaan pemilu sejauh ini aman dan lancar meskipun masih ada permasalahan yang kecil namun masih dalam hal wajar.

“Pemilu belum selesai, harus disikapi secara proporsional konstitusional dan jangan ditafsirkan masing-masing,” ungkapnya.

Sambungnya, Karena Partisipasi di Bengkulu cukup tinggi yang berarti kesadaran masyarakat untuk keberjalanan bangsa ini juga semakin tinggi dan banyak respon terhadap pemilu, tapi itulah bagian dari sebuah kompetisi serta MUI terus mengedukasi kepada masyarakat untuk mendampingi dan mengawasi pelaksanaan pemilu.

Ia pun menghimbau bahwa Insya Allah tanggal 6 akan memasuki bulan suci Ramadhan sehingga semoga respon negatif terhadap pemilu ini juga bisa mereda karena masing-masing orang akan menghormati Bulan Ramadhan.

Ia berpesan Pemilu harus disikapi secara proporsional, konstitusional, dan bijak dalam menyikapi gejolak yang timbul serta peran Pers berperan dalam mengedukasi kepada masyarakat untuk memberikan dukungan kepada bawaslu dan KPU.

Tak hanya itu. Ormas Agama juga harus menjelaskan kepada masyarakat tentang Pemilu karena dalam konsep agama bahwa pemimpin itu perlu.

MUI juga berharap agar masyarakat bisa menyikapi dan sadar bahwa KPU dan Bawaslu sudah mempersiapkan Pemilu sejak 18 bulan lamanya sebagai bentuk profesional.

“Jangan sampai perbedaan pilihan membuat perpecahan di masyarakat. Semoga KPU dan Bawaslu tetap diberikan kesehatan dalam pelaksanaan Pemilu ini,” tutupnya. [Asep Setiawan]