PedomanBengkulu.com, Jakarta – Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD), Agus Jabo Priyono menyampaikan melalui sosial medianya bahwa ada 4 cara Imperialisme menancapkan kekuasaan berdasarkan Pidato Bung Karno di depan Pengadilan Kolonial tahun 1930, Jumat (21/6/2019).

Pertama, sistem imperialisme melahirkan politik divide et impera, yakni politik pecah-belah.

Kedua, membuat Indonesia menjadi bangsa terbelakang, terutama dalam hal pengetahuan dan kebudayaannya. Caranya, salah satunya, adalah penghancuran fikiran-fikiran (akal budi) rakyat.

Ketiga, menanamkan mentalitas inferior (inferiority complex) alias mental inlander di kalangan rakyat, agar rakyat kehilangan kepercayaan diri dan takluk terhadap penjajah. Dimanapun imperialisme selalu berusaha menutupi maksudnya, bahkan menciptakan teori manis untuk mencapai tujuan mereka.

Keempat, imperialisme selalu berusaha menyakinkan rakyat jajahan bahwa ada persamaan kepentingan antara mereka dan rakyat jajahan. Dan untuk mengikat hati rakyat jajahan, mereka biasanya menyerukan perlunya “asosiasi politik”.

Menurut Agus Jabo, di lapangan ekonomi, kaum imperialis selalu berpropaganda bahwa kehadiran mereka membawa keuntungan, seperti adanya industrialisasi, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.

“Kaum imperialis selalu berpropaganda bahwa kehadiran mereka membawa keuntungan,” kata Agus Jabo.

Selain itu, kata Agus Jabo, mereka juga berproganda bahwa penanaman modal asing, yang notabene satu bentuk imperialisme modern, sangat menguntungkan negara jajahan. Sebab, penanaman modal asing menghasilkan pembangunan, pembukaan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya.

“Mereka juga berproganda bahwa penanaman modal asing, yang notabene satu bentuk imperialisme modern, sangat menguntungkan negara jajahan,” kata Agus Jabo.

Itulah cara propaganda Imperialisme. Menurut Agus Jabo untuk mengatasi hal tersebut harus kembali pada cita cita pendiri bangsa yang berbasiskan masyarakat adil dan makmur. Untuk mencapai itu, Indonesia harus berdiri tegak berdasarkan Trisakti: kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kebudayaan yang berkepribadian Nasional. [Medi Muamar/Berdikari Online]