Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi luar biasa besar dan menjadikannya pantas untuk duduk dalam barisan peringkat 10 besar negara industri dunia.

Sumber Daya Alam (SDA) hingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia melimpah dan sangat potensial. Bahkan Pemerintah menargetkan Indonesia mampu menjadi negara industri tangguh pada tahun 2035 mendatang. Untuk memuluskan terwujudnya target tersebut, sebanyak 14 perusahaan yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) meneken note kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) jelang akhir tahun 2018 lalu. Berbagai rencana strategis telah diagendakan oleh perusahaan pelat merah dengan berbagai institusi.

Termasuk di antaranya yaitu PT Krakatau Steel (KS) yang merupakan salah satu BUMN yang bergerak dibidang produksi baja. Perusahaan yang beroperasi di Cilegon, Banten ini awalnya dibangun sebagai wujud pelaksanaan Proyek Baja Trikora yang digagas oleh Presiden Sukarno pada tahun 1960 agar Indonesia memiliki pabrik baja yang mampu mendukung perkembangan industri nasional yang mandiri, bernilai tambah tinggi dan berpengaruh bagi pembangunan ekonomi nasional. Para tokoh pendiri bangsa berharap banyak dari Krakatau Steel ini saat berdiri, terutama dalam menyokong kebutuhan produksi baja domestik.

Namun, alih-alih menjadi solusi pertahanan dan efisiensi anggaran nasional untuk jangka waktu panjang, PT KS sebagai pabrik baja terbesar di Asia Tenggara kini tengah dihantui kebangkrutan. Tertulis dalam Surat Keputusan Nomor 73/Dir.sdm-ks/2019 perihal Restrukturiasi Organisasi PT KS (Persero) Tbk. bahwa hingga Maret 2019, jumlah posisi di PT KS sebanyak 6.264 posisi dengan jumlah pegawai sebanyak 4.453 orang. Hingga tahun 2022 mendatang, KS akan melakukan perampingan posisi menjadi 4.352 posisi dengan pengurangan pegawai berkisar di angka 1.300 orang.

Jika ditelisik, angka impor produk baja ke Indonesia naik tajam sepanjang 2018. Sebaliknya, impor baja ke negara-negara Asia Tenggara secara pertumbuhan justru negatif. Serbuan baja-baja impor yang mayoritas datang dari China juga didorong oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja. Awalnya, Permendag tersebut diberlakukan untuk mengurangi waktu bongkar muat di pelabuhan (dwelling time). Tapi aturan ini justru menjadi celah pengimpor yang ingin mendapatkan bea masuk yang murah dengan mengubah jenis baja impornya.

Lemahnya Visi Politik
Alasan mengapa Dunia Islam saat ini mengalami de-industrialisasi adalah lemahnya visi politik. Para pemimpin umat Muslim telah meletakkan negaranya sebagai pasaran bagi perusahaan multinasional Barat. Konsep perdagangan bebas dan pasaran bebas selalu menjadi alasan bagi dunia berkembang untuk menghambat industrialisasi di negara lain, dan mengubah mereka menjadi tempat industri untuk kegunaan Barat. Ketika tujuan politik telah timbul maka ada perkembangan yang muncul di Dunia Islam; Mesir mengembangkan program nuklear pada tahun 1950-an, tetapi mereka menghentikan program tersebut setelah kalah pada 1967 dengan Israel. Pakistan meneruskan dan mengembangkan sebuah program nuklear yang berjaya.

Untuk Negara Khilafah yang baru muncul, salah satu dasar kunci adalah mempersatukan masyarakat dalam satu visi politiknya. Jika hal tersebut tercapai maka masyarakat pasti akan bekerja untuk mencapai target tersebut, kemudian hal itu akan diperkenalkan di kawasan Muslim lainnya, dan ketika mereka boleh memahami arahnya mereka akan berpaling dan menjalankan visi tersebut. Salah satu masalah terbesar di wilayah umat Islam adalah kurangnya setiap dasar yang dapat mengangkat darjat bangsanya sendiri. Khilafah perlu mencari orang yang paling pakar dan membuat mereka melaksanakan visi tersebut dan memberikan rasa percaya diri pada masyarakat.

Hal tersebut memerlukan pengembangan kemampuan militer untuk membela diri dan menghentikan semua serbuan dan penyerang yang berpotensi. Pemikiran ini pasti akan membawa kita pada perkembangan teknologi yang tidak ada dalam Dunia Islam, dengan tujuan membawa militer pada tahap yang sama dengan standard global moden. Untuk mencapainya, suatu negara mesti berindustrialisasi. Untuk berindustrialisasi anda perlu memiliki kepakaran teknikal dan bahan mentah, dimana sebuah strategi perlu dikembangkan.

Contoh hal tersebut adalah seperti yang terjadi pada Kesatuan Soviet. Para pengikut komunis menghabiskan lima tahun perencanaan yang dimulai pada tahun 1928, yang bertujuan untuk membangun sebuah asas perindustrian berat tanpa menunggu bertahun-tahun untuk mengumpulkan dana melalui perluasan industri pengguna dan tanpa bergantung pada dana dari luar. Rencana Lima Tahun (The Five-Year Plan) adalah sebuah senarai sasaran perekonomian yang telah direncanakan untuk memperkuatkan perekonomian Kesatuan Soviet antara tahun 1928 sampai 1932, menjadikan negara tersebut dapat menampung keperluan militer dan industrinya sendiri.

Perencanaan lima tahun tersebut dimaksudkan untuk memanfaatkan semua aktiviti ekonomi dalam pembangunan industri berat yang sistematik, sehingga mengubah Kesatuan Soviet dari negara pertanian yang sederhana menjadi sebuah kekuatan yang mapan secara industri dan militer. Dalam menjalankan rencananya, rejim Stalin membahagi sumberdaya ke dalam produksi arang batu, besi, keluli, kelengkapan jalan kereta api, peralatan mesin. Semua kota-kota baru, seperti Magnitogorsk di pegunungan Ural, dibangun dengan penyertaan semangat para pekerja dan intelektual muda. Rencana bercita-cita tinggi ini menggambarkan sebuah aroma tugas dan membantu menggerakkan dukungan untuk rejim tersebut.

Semua hal di atas memperlihatkan pembahasan sebelumnya tentang sumber daya dan bagaimana hal tersebut diubah menjadi produk-produk yang berguna, maka diperlukan tujuan politik yang nantinya akan memberikan arah.

Abainya Rezim dalam Membangun Industry
Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahawa jika ada kemahuan maka semua negara mampu melakukan indutrialisasi dan sanggup membela diri mereka sendiri, sementara itu, tanpa industrialisasi mereka akan terus jatuh dalam pengaruh kekuasaan asing. Akan tetapi, ada perbezaan penting yang harus dicatat. Banyak contoh negara-negara yang berindustrialisasi hanya bertujuan untuk menaklukkan dan menjajah kawasan lain atau menyandang status sebagai penguasa dunia.

Umat Islam yang sedang menuju industrialisasi dan perkembangan teknologi harus dibangun di atas kekuatan akidah Islam dan motivasi yang terus berjalan. Selalu berpegang teguh pada tuntunan Allah Swt dan utusan-Nya yang mulia Nabi Muhammad saw.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya ketika ia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberikanmu kehidupan. Dan ketahuilah bahawa sesungguhnnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya engkau dikumpulkan”. (TQS. al-Anfal [8]: 24)

Mesi Tri Jayanti, Mahasiswi Universitas Bengkulu