Di salah satu hotel di Kota Bengkulu, aku dapat kamar tidur di lantai 4, dari jendela kamar beberapa sudut Kota Bengkulu terlihat jelas dari sini. Apalagi ketika malam, tempat ini sangat romantis, tapi sayangnya aku saat ini masih menjadi seorang jomblo kronis.

Di kamar hotel, aku tinggal bersama dua orang laki-laki tanggung, anak kecil bukan, dewasa juga masih jauh, absurd pokoknya. Mereka ditugaskan di Bengkulu Tengah.

Seharusnya aku itu ditempatkan sekamar dengan orang-orang yang bertugas di Bengkulu Utara juga, tapi entah kenapa aku bisa dimutasi ke sini dan tidur sama dua mahluk ini.

Sebenarnya untuk acara Riskesdas ini menggunakan 3 hotel besar di Bengkulu, karena pesertanya sangat banyak. Tapi pelatihan tetap berpusat di Hotel Santika. Hotel seperti Amaris dan Garage hanya sebagai tempat tidur saja.

Sebelumnya, aku memang sudah dikelompokan satu hotel dengan temen-teman Bengkulu Utara yaitu di Hotel Garage. Pas sudah sampai di Garage tiba-tiba aku disuruh balik lagi ke Santika. Padahal jarak dari Santika ke Garage itu jauh banget. Bayangkan saja, sudah bawa tas cariel plus nenteng-nenteng tas kiri kanan malam-malam sampai dilihatin emak-emak, taunya disuruh pindah. Udah gitu hujan pula. Kenapa aku tidak dibuang saja ke rawa-rawa.

Akhirnya di Santika aku bisa sekamar sama dua sejoli ini. Tian dan Rio. Dan baru beberapa hari, mereka udah bikin ulah. Kartu hotel hilang. Satu kamar diobrak-abrik cari kartu. Damn! Kalau tidak ada kartu itu kami gak bisa masuk kamar hotel. Aku juga sudah mencoba minta kartu cadangan ke bagian recepsionis dengan alasan kartu itu dibawa oleh mereka yang berbeda ruang pelatihan denganku. Aku mana mungkin berani terus terang perihal hilangnya kartu. Tapi kartu cadangan tidak juga dikasih. Recepsionis itu cuma nganter aku ke depan kamar dan ngebukain pintu kamar terus pergi tanpa ninggalin kartu. Sial!

Alhasil, selama pelatihan di Santika kami bertiga mesti gantian ngadepin resepsionis dengan alasan yang berbeda setiap hari. Pas aku yang bagian minta, alasanku kunci dibawa mereka. Pas mereka yang minta kunci, alasannya kartu dibawa sama aku. Sampai resepsionisnya hafal dengan muka kita. Dan pernah ketika aku minta kunci dengan alasan kunci dibawa sama mereka. Lalu si mbak-mbak resepsionisnya bilang, ‘katanya kartunya dibawa sama mas!’.Ahk, sial ! [Yogie Agusubarnas]
Bersambung…