Hari ini hujan turun begitu deras. Ini hujan pertama ketika aku di Bengkulu Utara. Kami terjebak di rumah makan di pinggir jalan lintas Argamakmur. Rumah makan yang indah menurutku.

Hijau sawah mengelilingi keberadaan rumah makan ini.Situasi ini membuat kami terjebak. Pun denganku, beribu-ribu kenangan ikut hadir bersama rintik hujan. Memaksaku untuk terjebak di masa lalu. Entah sudah berapa kali aku patah hati, tapi juga tidak banyak-banyak amat. Beberapa diantaranya hadir diantar oleh rintik hujan. Aih, kenapa jadi baper begini!.

Pertama kali aku pacaran yaitu pada saat masa putih biru. Masa-masa dimana orang bilang itu adalah cinta monyet. Tapi, hubungan kami kala itu berlangsung selama hampir lima tahun. Akhirnya aku mesti patah hati karena ditinggal Nikah.

Patah hati ke dua ketika aku ditinggal selingkuh. Patah hati ke tiga ketika ditinggal mimpi. Ya, sebuah percintaan yang kandas karena mimpi. Bagaimana dia meninggalkanku di dalam mimpi. Absurd memang, tapi tak beberapa lama semua jadi kenyataan. Dan terakhir, patah hati yang sangat membuat aku terpukul, yaitu ketika aku harus ditinggal mati. Hari itu pun sirna terpisah ruang dan waktu. Hujan pun berhenti.

“Yuk, lah, kita pulang. Sebelum hujan lagi,” ajakan si Ratih membuyarkan kenanganku, membebaskanku dari masa lalu.

Kami bergegas kembali ke basecamp sebelum hujan kembali turun. Sebelum kembali terjebak pada kenangan. Ya, tapi kini aku bersyukur dengan itu semua. Beruntung aku masih punya Allah SWT yang selalu membuatku kuat setelah terpuruk. Entah bagaimana jika Allah SWT tidak ada bersamaku waktu di masa-masa suram itu Mungkin aku sudah ganti kelamin. Terima kasih, Tuhan!

Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu