Ayu Renti ini adalah koki terbaik tim kami. Terbaik karena hanya dia yang mau masak untuk dua orang laki-laki pemalas. Bukan pemalas sebenernya, tapi memang pada dasarnya tidak bisa memasak. Masak air saja terkadang gosong.

Setiap hari Ayu Renti memasak untuk keperluan tim, untuk sarapan, untuk bekal di lapangan dan malam kalau belum capek sepulang dari survei. Olahan favoritnya tentu saja sambal merah. Bukan orang Sumatera namanya kalau makan tidak pedas, katanya.

Ayu Renti ini adalah seorang pengantun baru. Baru beberapa minggu menikah udah LDRan. Apalagi suaminya bekerja sebagai mandor proyek. Makin jauh saja LDRannya.

Tapi terkadang seminggu sekali dia minta ijin pulang, atau suaminya yang datang menjenguk. “Udah gak tahan aku, gi,” ungkapnya.

Entah ‘gak tahan’ apa, aku juga belum terlalu berpengalaman soal ini.

Aku dengan Samosir sengaja sering bikin suaminya cemburu. Apalagi posisi kami bertiga yang tidur sekamar. Pernah mereka ribut karena kami.

“Kamu ini lebih mentingin dua temen kamu itu dari pada suami mu,” hardik suami di balik Hp sana. Aku dan Samosir tertawa puas.

Sudah dua kali suaminya datang menjenguk. Kalau sudah begitu, mereka berdua pindah ke kamar samping. Kamar yang horor pun terpaksa mereka tempati. Tapi orang yang lagi kasmaran itu suka lupa akan sekelilingnya. Di kuburan saja banyak orang pacaran.

Ayu Renti itu teman yang baik tiada terperi, seorang istri yang luar biasa pula, rajin dan cekatan, sensitif terhadap segala hal, supel, tidak gengsian dan rajin curhat. Terutama suka cerita tentang suaminya yang cemburuan. Hal wajar bagi pengantun baru. Tapi, secara umum, suaminya sangat baik sama kita.

Pernah suatu ketika di malam hari, ketika dia sedang teleponan dengan suaminya, seperti biasa aku kadang suka meregangkan otot-otot kalau sudah berjam-jam duduk input data di laptop. Loncat-loncat, pinggul diputar sana sini. Tiba-tiba celanaku melorot.

“Eh, itu celana mu Gi, melorot!” ucapnya dengan keras dan Hp yang masih tersambung.

Ah, sial! Aku lupa benerin kancing celana yang rusak. Untung aku pake luaran sarung. Aku pun melanjutkan melemaskan otot di luar.

Terdengar suara cek-cok dari dalam kamar. Berantem lagi, berantem rindu, dan kami pun tertawa terbahak-bahak setelahnya.
Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu