Dia adalah temanku saat masih jadi pekerja EO di Bengkulu dulu. Aku masuk ke sebuah mobil mewah.

“Mau kemana kita” tanyaku.
“Kita ke kedai kopi,” jawabnya.

Mobil pun berhenti di depan sebuah kedai bertuliskan Coffee Lab. Posisinya pas di samping Benteng Marlborough.

“Jadi gimana petualangannya, Aku sering baca-baca cerita abang. Seru banget keliatannya,” tanyanya.

Seorang datang mengantarkan pesanan. Alif memesan Kopi Medan dan aku memesan Moccalatte.

“Kenalin ini temanku dari Subang, Jawa Barat. Dia sudah keliling Indonesia,” Alif mengenalkanku ke pelayan dan beberapa orang di sana. Salah satunya pemilik Kedai ini. Sepertinya dia sudah akrab dengan orang-orang di sini. Ekpresi mereka mendadak kagum. Dan aku garuk-garuk kepala, salah tingkah. Segelas Moccalate pun habis.

“Pesan kopi lah, bang!” tawar Alif.

Aku ragu dengan lambungku yang sekarang sudah sangat sensitif. Sudah dua kali aku masuk UGD gara-gara kopi, tapi itu Kopi Instan. Aku dengar kopi asli tidak membuat asam lambung naik.

“Bos, biasa, pesan kopi andalan satu,” teriak Alif.

Katanya itu kopi terenak di Sumatera..Segelas kecil kopi sudah ada di hadapan. Aku ragu mencicipinya, tapi sudah tertelan.

“Bismillah!!!”

“Kenapa tidak dibuat buku aja bang, Nanti saya borong bukunya,” sesi ngobrol masih berlanjut.

Dia memang seorang pengusaha muda. Umurnya jauh di bawahku, tapi usahanya di bidang Property dan EO terbilang sukses. Aku menyeruput kopi lagi, menahannya sebentar di dalam mulut. Sensasi ini sudah lama sekali hilang. Beberapa tahun lalu aku memang memutuskan pensiun ngopi setelah di cap maag kronis.
Perihal tulisan, aku masih belajar bikin catatan. Untuk di bukukan, belum ada bayangan. Sekarang aku masih menulis untuk diri sendiri. Jika orang lain suka, itu bonus. Dan terima kasih sudah suka.’

Malam pun larut. Aku harus balik ke hotel. Alif membayar semua pesanan. Malam yang menyenangkan. Terlebih segelas kopi pahit yang aku minum. Malam ini, segelas kopi ini, harus dimuat di catatan absurd milikku. Biar aku tahu kalau aku pernah minum kopi (mahal). 60 ribu segelas.
Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu