Panas terik menyambut kedatanganku di bandara mungil Bengkulu. Aku rasa kota ini semakin panas saja, apalagi ajakan supir-supir taksi bandara bikin suasana makin gerah.

Kali ini aku tidak datang sendirian, ada seorang wanita dari Bekasi yang juga bekerja di tempat yang sama denganku, sebut saja Erni.

Beruntungnya temannya sudah menunggu kami di bandara, jadi aku tidak perlu gerah-gerahan berurusan dengan supir taksi bandara. Kami tiba di sebuah hotel mewah di Bengkulu Kota. Di hotel inilah kami akan melakukan training sebelum bekerja nanti, aku datang terlalu awal.

Terlihat lobi hotel masih terlihat sepi, padahal katanya pesertanya mencapai ratusan lebih. Semakin lama semakin penuh ruangan lobi hotel oleh para peserta training. Tiap orang membawa koper dan tas dari ukuran sedang sampe ukuran kulkas dua pintu. Secara, seminggu lebih kami akan ditatar disini.

Dari sekian banyak orang, tidak ada yang aku kenal satu pun. Si Erni saja baru ku kenal sewaktu di bandara. Alhasil aku cuma cengo ngedengerin orang-orang berbicara pake bahasa yang tidak aku pahami. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan suasana ramai seperti ini, baik itu di alam bebas apalagi di perkotaan, sangat membosankan. Apalagi dengan pakaian yang serba resmi; kemeja, celana bahan, sepatu keren, ahk, pokoknya bikin gatal-gatal. Pengen rasanya aku ganti pakai baju flanel, celana jeans belel, topi dekil, dan sendal gunung.

Ngomongin style, ada seorang cowok yang menarik perhatianku, dengan topi ala seniman, celana kodorai, kulit putih, terlihat sederhana dan unik di mataku. Aku harap ini bukan pertanda benih-benih cinta….f####.

Sebelumnya, aku berpapasan beberapa kali dengannya, termasuk di masjid belakang hotel, aku memintanya jadi imam sholat Ashar. Dia pun pasrah. Dari situ hubungan kami mulai akrab. Mungkin karena frekuensi kami terlihat sama. Dialah orang pertama yang jadi temanku diperjalanan ini. Dan sampe tulisan ini dibuatpun kami masih sering bertegur sapa.

“Aku Rendi, dari Bengkulu Selatan!” ucapnya. [Yogie Agusubarnas]

Bersambung …