PedomanBengkulu.com, Seluma – Tradisi unik di malam 1 Syawal 1440 H sejumlah masyarakat Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Sukaraja kembali menggelar tradisi adat Sekujang khas suku Serawai berupa sosok wajah yang menyeramkan dengan memakai berbagai kostum dari ijuk dan daun pisang. Uniknya tradisi turun temurun ini dilakukan pada malam hari selepas shalat Isya’. Hanya saja dalam peringatan sekujang kali ini, tari Barong khas Bali juga turut meramaikan pagelaran tersebut yang digelar pada Rabu malam (5/6) pukul 20.00WIB.

“Sekujang ini merupakan tradisi secara turun temurun yang kami lakukan setiap tahun pada malam pertama hari raya Idul Fitri, selain dilakukan setiap tahunnya, sekujang ini sengaja menampilkan wujud seram hampir menyerupai mahluk halus, namun tradisi unik ini juga mempunyai nilai-nilai leluhur yang masih dipertahankan,” ujar Suharman (56) Ketua Sekujang RT 6 Kelurahan Sukaraja, Kamis (6/6/2019).

Dijelaskannya, Sekujang merupakan upaya mendoakan orang yang sudah meninggal walau tanpa adanya tali ikatan darah. Selain itu, sekujang juga merujuk pada arwah yang kuburannya tidak dikunjungi atau diziarahi oleh sanak saudaranya sehingga arwah tersebut datang kembali saat malam lebaran pertama.

“Siapapun yang meninggal walau tidak kenal orangnya wajib kita lakukan, misalnya terdapat salah satu jasad yang meninggal karena tenggelam. Sedangkan setiap rumah yang dihampiri oleh sekujang dengan cara bernyanyi sembari berpantun atau membaca doa dapat memberikan keselamatan kemudian Sekujang ini akan menerima sedekah berupa makanan atau minuman dari tuan rumah,” jelas Suharman.

Lanjutnya, pemberian makanan atau minuman tersebut kemudian dibawa ke masjid guna dilakukan doa bersama oleh imam. Sedangkan tarian Barong khas Bali yang sempat mewarnai dalam sekujang kali ini dinilai memberikan nilai positif bagi masyarakat.

“Untuk anggota sekujang kali ini sebanyak 17 termasuk dari tari Barong merupakan nilai toleransi antar umat beragama yang saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat kami,” tambah Suharman.

Di samping itu, Andry (20) warga Desa Cahaya Negeri mengatakan sudah tiga tahun ini selalu menyaksikan tradisi sekujang.

“Baru tiga tahun saya nonton ini bang, awalnya takut, tapi ini tradisi yang sangat baik. Harapan saya semoga tradisi ini tetap berjalan dan tidak termakan oleh zaman,” terang Andry.

Sementara itu, aksi sekujang juga menarik perhatian sejumlah pengendara yang melintas dan banyak dari mereka mengabadikan momen tersebut melalui ponsel gengam.[Wahyu]