Era tahun 70 sampai akhir tahun 2000-an umumnya banyak warga yang mengenal Zairin. Apalagi di kalangan pedagang di kampungku Muaradua, sebuah kota kecil yang sekarang jadi Ibu Kota Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan.

Posturnya khas dan unik dengan kulit agak gelap, perawakan pendek gemuk dan wajah dipenuhi jambang. Berasal dari suku Kisam (salah satu suku di daerahku, selain suku haji, ranau, daya, mekakau). Zairin menikah dengan perempuan ningrat Palembang yang bergelar Nyimas.

Zairin pernah kuliah di UGM tahun 60-an. Tahun 70-an Zairin pernah bisnis kuda Sumbawa, 1 (satu) kapal kuda Sumbawa pernah didatangkannya untuk dijual ke daerah Ranau, Kisam, Muaraenim, Lahat dan sekitarnya.

Maklum saat itu kuda menjadi alat angkut andalan untuk mengangkut hasil bumi khususnya kopi yang apalagi kendaraan seperti mobil dan motor belum banyak. Infrastruktur jalan kebanyakan masih tanah belum banyak yang beraspal.

Zairin dikenal sebagai pemilik hotel Sederhana, hotel itu besar sekitar 25 kamar, tapi sesuai dengan namanya HOTEL SEDERHANA hotel itu hanya beratap seng dan berdinding papan bercat hijau. Tarifnya murah sekali. Banyak orang dari kampung-kampung yang berbelanja ke Muaradua menginap di hotel itu.

Zairin juga adalah pelopor bisnis kopi bubuk di daerahku, dengan menggunakan mobil jip wilys yang dibelakangnya ada gandengan berisi bubuk kopi Zairin keliling ke pasar-pasar yang buka seminggu sekali. Di pasar-pasar itu Zairin membuka tenda dan menjual kopi bubuknya dengan pengeras suara layaknya tukang obat keliling.

Pernah juga Zairin membuka rumah makan di sebelah hotelnya dengan nama MENGAN SEBETONGAN (bahasa suku daya yang artinya makan sampai kenyang).

Ketika hotel-hotel di Muaradua mulai bermunculan tahun 2000-an. Zairin mengubah hotelnya menjadi pasar pagi. Bagian dinding depan dilepas,hanya tersisa dinding samping kiri- kanan dan belakang. Lalu bagian tengah dipetak-petak layaknya pasar sayur. Banyak pedagang yang tidak tertampung berjualan dipasar inpres Muaradua pindah ke pasar swasta milik Zairin.

Suatu malam bapakku lewat di seberang rumah makan Sejoli Muaradua. Seorang tukang kacang rebus memanggil bapakku.

Karena penerangan gerobak hanya ada lampu semprong berbahan bakar minyak tanah maka wajah orang itu tidak begitu jelas. Setelah dekat bapakku terkejut, penjual kacang rebus itu adalah Zairin.

Betapa Zairin tekun dan gigih dalam berusaha batin bapakku. Bayangkan seorang alumni UGM, pemilik hotel walaupun hanya hotel sederhana, pernah bisnis kuda Sumbawa,dll tapi masih mau tanpa canggung berjualan kacang rebus di pinggir jalan.

Sebelum pulang bapakku mendapat nasehat dari Zairin:
“Kalaulah kekayaan harta itu kita dapatkan murni karena kerja keras kita sendiri maka saya pasti jadi orang kaya. Tapi soal rezeki tetap Allah yang mengatur. Kita hanya berusaha pada akhirnya Allah yang menentukan.” sebuah nasehat bijak dari seorang entrepreneur sejati.

Penulis:

Agustam Rachman, Yogyakarta