Pengakuan Tsk Bapak Setubuhi Dua Putri Kandungnya

MENYANDANG status duda sejak tahun 2013 ternyata semakin membuat hati nurani SA tertutup rapat hingga nekat mengumbar nafsunya secara membabi buta. Pria berusia 60 tahun Warga Kecamatan Curup Selatan ini dengan tega menyetubuhi dua putri kandungnya sendiri hanya untuk melampiaskan nafsu bejatnya sejak pertengahan tahun 2016 lalu hingga akhirnya berakhir di jeruji besi Juli 2019. Mengatasnamakan keterpurukan ekonomi dan berdalih tidak mampu mengendalikan nafsunya, pria yang memiliki 11 anak dari dua istri tersebut ternyata telah melakukan pelecehan seksual terhadap Korban sejak Korban masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) saat mendiang istri keduanya masih hidup. Berikut petikan pengakuan tersangka saat di wawancara secara ekslusif oleh PedomanBengkulu.com di Mapolres Rejang Lebong, Jumat (12/7).

IFAN SALIANTO, REJANG LEBONG

MENGGUNAKAN kemeja lengan pendek bewarna biru dan celana pendek, SA digiring petugas Sat Reskrim Polres Rejang Lebong dari sel tahanan ke ruang unit Pidana Umum (Pidum) Sat Reskrim Polres Rejang Lebong. Kepada PedomanBengkulu.com, SA menceritakan seluruh perbuatan bejatnya terhadap kedua putri kandungnya tersebut.

Diawali saat mendiang istri keduanya masih hidup, SA mengaku kerap melakukan pelecehan seksual terhadap putrinya untuk membangkitkan nafsunya sesaat akan melakukan hubungan intim dengan mendiang istrinya. Mirisnya, perbuatan itu justru direstui dan dilakukan dihadapan mendiang istrinya sendiri.

“Jarak usia saya dan mendiang istri saya memang sangat jauh Pak. Saya menikah dengan mendiang istri kedua saya itu saat mendiang istri saya masih duduk dibangku kelas dua SMA sederajat. Setiap kali akan melakukan hubungan intim dengan istri saya, saya selalu berusaha untuk melakukan berbagai cara agar nafsu saya bangkit dan bisa melakukan hubungan intim dengan mendiang istri saya. Salah satunya ya melakukan pelecehan seksual terhadap anak saya dengan cara memegang dan memainkan kemaluan putri saya Pak. Istri saya tahu dan merestuinya pak, malah selalu saya lakukan dihadapan istri saya saat anak saya sedang tidur. Nah kalau kemaluan saya sudah ‘bangkit’ barulah saya menggauli istri saya pak,” cerita SA tanpa rasa bersalah.

Dilanjutkan SA, Dirinya telah menikah sebanyak dua kali. Dari buah perkawinannya yang pertama, SA memiliki 5 orang putra. Setelah bercerai, SA kembali menikah dengan istri keduanya dan memiliki 6 orang anak dengan rincian dua orang putri dan 4 orang putra.

“Sehari hari saya bekerja sebagai pedagang dengan penghasilan yang sangat minim Pak. Seharian berjualan hanya bisa mendapatkan pengahasilan kotor senilai rp 140 ribu. Sangat pas pasan untuk membiayai kebutuhan 6 anak saya dan membayar sewa rumah yang saya tempati. Apalagi yang bekerja hanya saya sendiri sejak istri saya meninggal. Jadi sangat tidak memungkinkan bagi saya menyisihkan uang untuk hal hal yang lain, ” ujarnya.

Diakui SA, kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh Dirinya untuk melakukan perbuatan bejat terhadap kedua putrinya. SA mengaku, sejak pertama kali menyetubuhi putrinya SA selalu memaksa dan mengancam putrinya akan bunuh diri jika putrinya tidak mau melayani keinginan SA melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri. Korban yang ketakutan hanya bisa pasrah saat SA dengan leluasa membuka celana dirinya dan menggauli dirinya didalam kamar tidur rumah. kontrakan tersebut.

“Sejak istri kedua saya meninggal dunia akibat kanker rahim, saya tidak pernah lagi berhubungan intim dengan wanita lain Pak. Awalnya Saya mulai menyetubuhi anak saya karena saya terangsang melihat anak saya yang sedang tidur menggunakan setelan pakaian tidur yang tipis Pak. Malam itu, sekitar pertengahan tahun 2016 lalu, saya kembali melihat anak saya tidur di kamar bersama dengan adik adiknya yang masih kecil. Saat itu, anak saya baru lulus smp pak. Saat melihat dia (anaknya, red) tidur, nafsu saya bangkit memuncak Pak. Setelah saya memastikan anak anak saya yang lain sudah tidur, saya langsung menghampiri anak saya yang sedang tidur itu. Saya langsung pegang tangannya dan saya paksa untuk melakukan hubungan intim. Pertama kali anak saya kaget dan berontak menolak, akhirnya saya ancam jika saya akan bunuh diri jika dia (korban, red) tidak mau melayani sembari saya mengatakan jika saya mati maka tidak ada lagi orang yang mau menafkahi dan memenuhi kebutuhan adik adiknya nanti pak. Akhirnya dia diam dan pasrah saat saya mulai menggaulinya pak. Biasanya saya hanya membuka celananya saja, lalu saya mainkan kemaluannya. jika sudah basah barulah saya setubuhi dia pak. Saat akan ejakuasi langsung saya cabut dan keluarkan diluar kemaluannya Pak. Setiap kali saya main tidak lama kok pak, cuma 3 menit,” ujar SA.

Selang waktu peristiwa tersebut telah berlangsung selama setahun, sambung SA, putrinya tersebut sudah mulai membangkang dan sering tidak berada dirumah, bahkan sering menginap dirumah teman temannya. Karena kondisi itulah, SA akhirnya berinisiatif untuk menyetubuhi putrinya yang lain.

“Sama seperti putri pertama saya Pak. Putri saya yang kedua ini juga saya ancam dengan cara yang sama pak. Saya terpaksa karena anak saya itu sudah mulai melawan saat saya ajak berhubungan intim, makanya saya lalu menyetubuhi adiknya juga pak. Saat menggauli mereka tidak pernah bareng pak. Seminggu hanya 1 kali dan saya melakukannya selalu saat pada malam hari Pak. Saat menggauli, hanya ada nafsu saja yang ada di fikiran saya pak. Entah sudah berapa kali Pak. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali,” ujar SA tanpa terbersit rasa bersalah sedikitpun.

Sementara itu, Kapolres Rejang Lebong, AKBP Jeki Rahmat Mustika, SIK melalui Kasat Reskrim Polres Rejang Lebong, AKP Andi Kadesma didampingi Kanit PPA, Aiptu Deasy Oktavianty berharap dengan terungkapnya serta dipublikasikannya kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi Warga Rejang Lebong agar tidak coba – coba melakukan glhal yang serupa.

Sebab, hal tersebut melanggar hukum dan bisa dipidanakan. Dirinya juga berharap, dengan terungkapnya kasus asusila ini, Warga Rejang Lebong yang ternyata saat ini mengalami hal serupa dapat memberanikan diri melapor dan mengungkapnya sehingg bisa ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Saya pastikan pelakunya akan ditindak tegas. Atas perbuatannya, pelaku yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka ini kita jerat dengan Pasal 76d jo pasal 81 ayat 1 dan 2 UU perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara ditambah sepertiga hukuman menjadi 20 tahun penjara, sebab pelaku merupakan orang terdekat para korban,” tegasnya. (***)