Belum selesai polemik film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ yang diboikot oleh sejumlah pemerintah Kota beberapa waktu lalu, kini muncul film ‘Dua Garis Biru’ yang telah ditayangkan di bioskop sejak 11 Juli 2019 lalu.

Sebelum muncul di permukaan publik, film yang disutradarai oleh Gina S. Noer ini cukup mencuri perhatian bahkan berhasil meraup satu juta penonton setelah enam hari tayang. Mengusung isu yang kerap kali menuai kontroversi diawal kemunculannya, pasalnya film ‘Dua Garis Biru’ ini dianggap film yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh khalayak umum. Karena adanya adegan-adegan dewasa yang dipertontonkan serta menggambarkan kehidupan para remaja dengan pergaulan bebasnya.

Lahirnya petisi yang digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org sebagai penolakan atas tayangnya film tersebut. Mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas. Menurut mereka, tontonan tersebut dapat memengaruhi masyarakat khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di dalam film. Maka sangat disayangkan jika film semacam ini tayang di Bioskop dan lolos oleh Lembaga Sensor di Indonesia.

Liberalisme, Pangkal Permasalahan

Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, hal ini tidak lepas dari sistem liberal yang menghiasi sistem di negeri ini yang mengagung-agungkan kebebasan. Penayangan film-film yang sangat menarik perhatian kaum remaja dengan melanggar aturan pemenuhan naluri individu tanpa mereka pikirkan akan berdampak pada tingkah laku mereka nantinya.

Liberalisme yang menghancurkan generasi, melemahkan mereka melalui nilai-nilai barat yang merusak melalui film dan hiburan. Kemudian merusak pemikiran mereka dengan gaya hidup serba boleh dan menipu dengan slogan-slogan yang mendukung kebebasan dalam berperilaku. Berbagai kampanye sex aman bertanggunjawab melaui film justru menjadikan generasi kita menjadi pelaku utama free sex dan aborsi. Hingga tanpa sadar, generasi terus terjerumus jauh dalam kehidupan sex yang hina hingga mereka turut menjadi komoditas sex.

Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan akidah yang shahih. Industri film harusnya mampu memberikan edukasi pada masyarakat namun justru menjerumuskan generasi pada pergaulan bebas dan menjauhkannya dari identitas seorang Muslim yang beradab.

Dunia perfilman yang harusnya menjadi salah satu sarana dalam mewujudkan rahmat bagi seuruh alam, akan tetapi dalam kendali sistem yang berasaskan sekularisme dimaknai sebagai sarana untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Produksi film yang bernilai bisnis yang menguntungkan, selama ada yang berminat dan menjanjikan keuntungan maka film akan dibuat dengan judul dan trailer yang ‘Menjual’ meskipun membawa kerusakan.

Arus liberalisasi yang semakin deras ditambah lagi dengan tidak adanya regulasi yang jelas dan tegas dalam membatasi dunia perfilman yang diproduksi saat ini. Justru sebaiknya, sangat didukung oleh pemerintah karena dipandang sebagai Industri kreatif yang menggiurkan. Padahal pemerintah sebagai penyelenggara urusan pemerintahan harusnya bersikap tegas dalam membuat aturan yang memberikan efek jera agar produksi film-film serupa tidak terus terulang.

Kemajuan teknologi yang hanya dimanfaatkan sebagai sumber emas pada negara kapitalis dalam mengendalikan bisnis ini, membuktikan bahwa rezim saat ini tidak berdaya menangani arus liberalisasi yang jelas menghancurkan generasi melalui perfilman. Masyarakat yang tidak dibangun dengan pondasi iman pun dibiarkan untuk berperang menghadapi nilai-nilai yang merusak dan berbagai sajian-sajian media yang secara intensif dan massif terus mendorong masyarakat pada kemaksiatan. Fakta telah menunjukkan, jumlah anak-anak Indonesia yang tereksploitasi seksual mencapai 40.000 sampai dengan 70.000 tersebar di 75.106 tempat (data dari kemenpppa.go.id).

Islam Sebagai Solusi

Islam telah memberikan solusi atas setiap persoalan yang dialami oleh manusia dengan penyelesaian yang selalu memuaskan akal, menenteramkan hati dan sesuai dengan fitrah. Dalam hal ini, termasuk persoalan generasi yang kewalahan dalam mengendalikan naluri seksualnya (gharizatun-nau’). Generasi Islam dimasa mudanya haruslah mencontoh para pejuang-pejuang yang terdahulu dalam keteguhannya mempertahankan Islam, bukan justru terjangkit virus-virus gaya hidup hedonis dan liberal layaknya orang-orang barat.

Dalam Islam, ketika menggunakan media massa seperti film harus dibarengi dengan pembinaan generasi sesuai dengan tujuan pembentukan kepribadian Islam dalam diri generasi. Media massa merupakan sarana komunikasi yang berfungsi untuk menciptakan sebuah opini public yang menjadi opini umum. Negara harus menjadi tameng dalam menutup semua pintu-pintu kemaksiatan baik itu dari media onine, televisi maupun media cetak yang menyuguhkan konten tidak mendidik.

Film dalam Islam sejatinya adalah dalam rangka dakwah dan edukasi untuk rakyat, khususnya generasi. Berisi konten-konten yang mendidik, hal-hal yang menabah ketakwaan, memberi gambaran bagaimana kehidupan bernegara yang baik dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, negara mempunyai peran utama dalam mengendalikan produksi film dan tidak boleh berlepas tangan. Ini hanya akan terwujud jika negara berepas diri dari liberalisme dan menjadikan keimanan sebagai pondasi dalam pemerintahannya. Negara seperti iniah yang dinamakan dengan Khilafah. Wallahua’lam.

Mesi Tri Jayanti Mahasiswi Universitas Bengkulu