Wali Kota Bengkulu H Helmi Hasan (paling kanan) saat menggunakan tongkat di Sentul, Bogor, baru-baru ini.

Peristiwa unik penggunaan tongkat oleh Wali Kota Bengkulu, H Helmi Hasan, dalam kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke–XIV tahun 2019 di Kota Semarang, Selasa (2/7/2019) malam, cukup menyita perhatian.

Dengan tongkat itu, Helmi Hasan yang usia sebenarnya relatif masih muda, tampak tua dan renta. Jenggot lebat memperkuat persepsi tersebut. Makanya tak sedikit orang yang cemas ketika Helmi melepaskan tongkatnya. Padahal, Helmi menggunakan tongkat, juga memelihara jenggot, demi menghidupkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan karena sudah tua renta atau sakit.

Para ulama memang telah bersepakat tongkat sangat dianjurkan untuk dipakai ketika usia telah menginjak 40 tahun agar seseorang dapat ingat akan akhirat. Imam Syafie rahmatullah ‘alaih saat menginjak usia 40 tahun juga menggunakan tongkat sebagai pengingat bahwa perjalanan hidupnya sudah hampir tamat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, sunah adalah aturan agama yang didasarkan atas segala apa yang dinukilkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menghidupkan sunah di kalangan pesantren atau masyarakat umum mungkin akan menjadi satu hal yang lumrah. Namun ketika sunah itu dihidupkan oleh seorang kepala daerah, ini menjadi hal baru yang perlu didorong maju.

Alangkah baiknya ketika kekuasaan menjadi sarana untuk menghidupkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan birokrasi dan rakyat. Sebab, seperti kata seorang cendikiawan besar muslim, Ibnu Khaldun, peradaban Islam yang dahulu gilang gemilang runtuh sejak orang-orang meninggalkan sunah.

Akibat meninggalkan sunah orang-orang terjebak pada gaya hidup malas, korup, zalim, kejam, amoral, menipu, mencuri, berbohong, bahkan gemar memakan riba. Ketika sunah ditinggalkan, orang-orang menjadi tak lagi tertarik untuk mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan agar bisa membawa manfaat untuk kemanusiaan, melainkan untuk tujuan komersil dan memperkaya diri.

Ibnu Khaldun bahkan secara keras menyebutkan, “Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan.”

Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan betapa besar faedah yang didapat oleh setiap orang ketika ia menghidupkan sunah dalam hidupnya, baik dari yang terkecil adab sehari-hari seperti makan, minum, tidur, memakai peci, hingga hal-hal besar seperti cara pergaulan hidup antar manusia dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan.

Untuk itulah, usaha mendorong kebangkitan sunah menjadi relevan dalam zaman yang penuh dengan kebohongan, fitnah, gibah, hedon, cabul, dan imprealistik saat ini.

Sunah menuntun manusia untuk taat kepada Allah subhahu wa ta’ala dengan tidak merusak bumi, menumpuk-numpuk kekayaan, berbuat zalim, dan berlebih-lebihan dalam segala hal yang semua sifat itu hanya dapat dicapai ketika manusia melaksanakan salat, menunaikan zakat, puasa, haji dan sebagainya.

Ribuan sunah juga mengajarkan manusia untuk menjaga kebersihan, sopan santun, hormat kepada yang lebih tua, mengayomi anak muda, mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri, menyayangi anak yatim, fakir miskin, mengembangkan ilmu pengetahuan, membebaskan orang lain dari belenggu ketertindasan, kebodohan dan sebagainya.

Menghidupkan sunah berarti berusaha menggerakkan manusia menghancurkan berhala-berhala modern yang dihasilkan oleh peradaban duniawi dalam bentuk kapitalisme atau imprealisme, menata cara hidup manusia dari sistem jahiliah kepada sistem yang adil dan makmur dalam bentuk sosialisme atau komunalisme.

Terpenting, usaha mendorong kebangkitan sunah ini tidak bisa disandarkan kepada perseorangan, meskipun ia adalah orang berkuasa. Dibutuhkan banyak individu yang sadar, rela, tulus, ikhlas dan bertanggungjawab untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar bersedia untuk bersama-sama berada di jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah subhanahu wa ta’ala.