Ilustrasi

Dua pekan lalu, publik Bengkulu heboh setelah tim dari Divisi Keimigrasian dan Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Bengkulu melakukan razia terhadap Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara, Teluk Sepang, Pulau Baai.

Ketika tim yang terdiri dari tim Bidang Inteldakim Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah (Kanwil) Bengkulu bersama Kakanim dan Tim Inteldakim Kanim Kelas I TPI Bengkulu datang di lokasi PLTU Pulau Baai didapati 9 orang TKA terdiri dari 6 orang TKA yang bekerja di PT Indofundong dan 3 orang TKA bekerja di PT MIC melarikan diri dan bersembunyi di hutan sekitar pinggir pantai untuk menghindari petugas.

Dari catatan petugas, TKA yang bekerja di proyek PLTU Batubara Teluk Sepang tersebut sebanyak 402 orang.

Hingga akhir tahun 2018, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia mengeluarkan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) sebanyak 95.335 pekerja. Jumlah ini jauh lebih rendah dibanding dengan jumlah TKA di negara lain seperti Saudi Arabia yang mencapai 8,1 juta pekerja atau Malaysia dengan 2,3 pekerja.

Di Indonesia, TKA China cukup dominan. Dari total 95.335 TKA sebanyak 33,7 persen merupakan orang China, lalu menyusul Jepang, Korea Selatan, India, Malaysia, Filipina, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Singapura dan lain sebagainya.

Kehadiran TKA pantas dirisaukan di tengah kegagalan negara dalam menciptakan lapangan kerja, menciptakan tenaga kerja terampil berpengetahuan dan membangun industri yang mandiri untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Munculnya sentimen anti-China seiring kehadiran TKA yang tak mampu berbahasa Indonesia itu juga seakan-akan melupakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia juga mengirimkan jutaan tenaga kerjanya menuju negara-negara di Timur Tengah, termasuk ke China, dengan kualifikasi keahlian rendah dan dengan perlindungan seadanya.

Padahal, Indonesia sangat kaya alamnya. Di laut, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor ikan terbesar di dunia. Di darat, Indonesia menghasilkan banyak bahan baku, penghasil sawit terbesar, memiliki perkebunan karet terluas, kekayaan hutan terbanyak di dunia selain Brazil. Indonesia punya emas, batubara, nikel, besi, baja, dan sebagainya, namun kenapa seakan Indonesia menjadi bangsa kuli di antara bangsa-bangsa lainnya?

Ketika ada sebuah bangsa yang begitu kaya namun rakyatnya sengsara, pemudanya tidak bekerja, tak mampu mengelola dengan baik alamnya, artinya jelas ada yang salah dengan sistem ekonomi politik yang sedang diadopsi oleh negara tersebut. Munculnya kerisauan akan TKA adalah bukti bahwa Trisakti dan Nawacita hanyalah tipuan rezim yang ingin berkuasa dengan membodohi rakyatnya.

Kesimpulannya, caci maki rasis atas para pekerja asing hendaknya disudahi. Sebab masalahnya bukan di situ. Masalah sebenarnya ada pada sebuah rezim yang membangun Indonesia dengan cara hidup kapitalisme, terbungkus dengan kebijakan-kebijakan neoliberalisme.

Untuk membenahinya, rezim di Indonesia hendaknya mengembalikan cara hidup negara ini kepada Pancasila, atau nama lain dari Sosialisme Indonesia.

Hanya sosialisme yang cocok dengan jati diri bangsa Indonesia sebagaimana pernah dipraktekkan Presiden Sukarno di akhir-akhir kekuasaannya sebelum digulingkan oleh imprealisme Amerika Serikat nan bersekutu dengan bandit-bandit dalam negeri pimpinan Suharto, yang menjadi presiden berikutnya.

Sosialisme merupakan satu-satunya cara hidup dalam bidang ekonomi, politik, budaya dan sosial yang telah terbukti mampu mengubah negara-negara miskin dan terbelakang menjadi negara-negara mandiri dan tangguh seperti Kuba, Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, Bolivia, dan banyak negara lainnya.

Agar terwujud, sosialisme itu mesti terus dikhotbahkan oleh para pemuka agama, karena sejatinya perjuangan seluruh nabi-nabi adalah perjuangan menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Sosialisme adalah jalan lurus sebuah bangsa untuk mencetak banyak lapangan kerja, mencerdaskan kehidupan bangsa serta membangun industri yang mandiri untuk kemakmuran dan kesejahteraan sehingga dapat hidup damai dan tentram bersama seluruh umat manusia di dunia.