Teringat waktu pertama kali datang ke Bengkulu, tepatnya di Curup, Rejang Lebong, aku melihat suatu pertunjukan yang sangat familiar. Kesenian itu dipertunjukan di depan rumah panggung di sebuah desa.

Semua orang berkumpul menyaksikan. Tapi kenapa kesenian khas Jawa itu bisa ada di Bengkulu. Kesenian itu adalah Kuda Lumping.

Kesenian tradisional yang terkenal di Pulau Jawa. Kuda Lumping adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok prajurit penunggang kuda. Kuda yang digunakan dalam tarian ini bukanlah kuda sungguhan, namun kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam dan dibentuk dan dihias menyerupai kuda. Tarian ini menjadi sangat menarik di masyarakat Jawa karena ada unsur magic di dalamnya.

Dan pertanyaan aku tentang kuda lumping itu terjawab sudah lima tahun berselang. Dialah orang Jawa yang membawa kesenian itu sampai ke Bengkulu. Program transmigrasi puluhan tahun lalu menjadi jalan masuknya kesenian ini.

“Masyarakat transmigrasi yang rindu akan pertunjukan asalnya. Jadi mereka coba lestarikan kembali agar rasa rindu itu terobati,” jelas pak Trisno.

Ada rasa miris ketika aku melihat beberapa alat berserakan, terbengkalai tak terurus, bertumpukan dengan barang-barang bekas lainnya.

“Minat anak muda sekarang sudah lain. Kesenian bagi anak sekarang dianggap kuno,” keluh Pak Trisno.

“Aku pun sudah banyak tuntutan. Anak ku sudah banyak dan harus disekolahkan. Jadi aku mesti cari ladang pekerjaan yang lebih menjanjikan,” tambahnya.

Ya, di Sumatera ini, terutama daerah transmigrasi, banyak masyarakatnya yang menggantungkan hidupnya di perkebunan sawit dan karet.

Kesenian tradisional yang tergerus oleh jaman. Tapi tidak semua kesenian kuda lumping berhenti menari di Provinsi Bengkulu ini. Di desa lain di sudut Bengkulu masih ada yang menjaga eksistensi kesenian ini. Dan ada pula orang pribumi Bengkulu yang ingin membantu melestarikan dengan menjadi pemain Kuda Lumping.

Ya, kesenian tradisional kuda lumping atau lainnya bukan hanya milik orang Jawa atau suku-suku tertentu, tapi milik bangsa Indonesia. Milik kita bersama dan sudah semestinya harus dilestarikan bersama-sama.
Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu