Seperti biasa, jalan jelek tak terperi, hutan sawit dan karet tak berujung, debu-debu ulah monster mobil tambang berkali-kali menghantam muka yang makin hari makin perihatin.

Kali ini tujuan survei kami adalah Napal Putih, sebuah kecamatan di pojok Bengkulu Utara. Sebenarnya tugas survei tim kami sudah selesai. Namun, aku dan Samosir pergi ke Napal Putih untuk berkunjung ke tim lain. Lebih tepatnya membantu mereka menyelesaikan survei.

“Tim kami masih belum selesai, Bu. Karena desa-desa survei kami aksesnya susah, hujan terus, jalan hancur, motor pun kesulitan menembus lumpur. Anggota kami sampai minum imfusan,” curhat Tim 1 di saat survei tim lain sudah tuntas.

Dan hanya dibalas dengan, “Semangat kaka!” jawab tim lain.

“Yang tabah ya, buat tim 1,” lanjut tim lainnya.

“Jaga kesehatan, ya!” balas tim lain.

“Ih, aku turut berduka dengan tim kalian,” timpal yang lain berbela sungkawa.

Ini yang memancing tim kami untuk sukarela membantu Tim 1. Tapi kalau boleh jujur, bukan itu alasan utamaku pribadi membantu mereka jauh-jauh, berjam-jam perjalanan, dan bersengsara ria di sana. Alasan utamaku adalah Petualangan.

Ada sebuah desa yang membuatku penasaran. Desa terpencil di tengah hutan namun memiliki kekayaan yang luar biasa. Desa yang hanya bisa diakses sebuah transportasi kuno berbentuk lori atau Motor Lori Ekspres yang biasa disebut warga sekitar ‘Molek’. Tidak ada jalur untuk kendaraan lain kecuali terjun dari pesawat.

Hermawan dan kawan-kawan menyambut kedatanganku dan Samosir. Mereka nampak senang melihat bala bantuan datang. Kami langsung melakukan persiapan untuk esok pergi. Mengumpulkan peralatan dan membuat makanan, karena katanya biaya hidup disana jauh di atas rata-rata.

Semua nampak ceria. Kami bercanda satu sama lain, padahal tempat yang lebih prihatin siap menyambut. Kami melupakan kesusahan di depan nanti. Tapi berbeda denganku, karena sudah tidak sabar dengan petualangan besok. Karena aku pergi ke Bengkulu itu untuk berburu petualangan bukan berburu kenyamanan.

Ah, aku sudah mencium aroma-aroma petualangan di sana. Lebong Tandai, im coming!
Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu