Pukul 07.00WIB pagi hari, akhirnya kami pun berangkat menuju Desa Lebong Tandai. Sebuah desa yang katanya berada di tengah-tengah hutan.

Jauh di pelosok Bengkulu, dan hanya satu cara untuk bisa sampai di sana. Yaitu dengan menggunakan Molek, begitu orang sini menyebutnya. Molek (Motor Lori Ekspres) atau Mobil Jelek, sebuah transportasi unik berjenis lori atau kereta mini.

Kami tiba di Stasiun Napal Putih. Ini bukan stasiun kereta seperti di kebanyakan daerah. Tapi ini adalah stasiun khusus molek. Stasiun yang hanya untuk mengangkut penumpang yang akan menuju Desa Lebong Tandai atau sebaliknya.

Beberapa orang terlihat sedang mengecek mesin molek. Molek bergerak dengan menggunakan mesin disel biasa berbahan bakar solar. Roda molek hanya berjumlah 4 buah roda besi yang dipasang di tengah-tengah molek. Rodanya hampir sama seperti roda kereta. Hanya saja ukurannya lebih kecil.

Bodi molek terbuat dari bahan kayu yang disusun seperti kereta mini. Molek terdiri dari dua gerbong. Gerbong depan atau gerbong utama untuk penumpang yang bisa diisi 9 sampai 12 orang saja. Sedangkan gerbong belakang yang tanpa atap diperuntukan untuk angkut barang-barang. Kadang ada juga penumpang yang duduk di gerbong belakang.

Molek ini hanya beroperasi satu hari sekali (pulang-pergi). Karena rel hanya satu jalur. Untuk sampai ke Lebong Tandai atau sebaliknya, molek bisa memakan waktu 4-5 jam perjalanan.

Molek melaju dengan menyusuri sebuah rel. Berbeda dengan rel pada umumnya, rel molek ini sangat kecil. Sekilas rel ini tampak tidak terurus, ada beberapa rel yang terlihat bengkok dan copot, ada yang sudah rata dengan tanah, bahkan ada yang sudah diganti dengan kayu.

Rel molek ini adalah bekas peninggalan jaman belanda, sulit mendapat penggantinya dan perawatannya. Mungkin kalo aku tidak sengaja menemukan perlintasan rel ini di jalan sana, pasti udah dicongkel untik dijual ke tukang rongsokan, karena menyangka kalau rel ini sudah tidak terpakai lagi. Dan beberapa hari kemudian aku pasti sudah digebukin warga.

Dan inilah cerita kami menuju desa terpencil di Bengkulu. Ini kisah kami pertama kali menaiki Molek!
Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu