Berada di sini sudah seperti berada di Jawa tempo dulu. Logat-logat Jawa berseliweran di telingaku.

Rasanya seperti dibawa kembali ke daerah Jawa pada masa peradaban 20 tahun silam. Jalan buruk, listrik terbatas, hutan dan kebun dimana-mana, suara anak kecil bermain riang beralaskan tanah. Tapi ini di Sumatera, tepatnya di Bengkulu Utara.

Nafasku berderu-deru, cuaca siang ini benar-benar panas. Ditambah lagi kami harus berjalan jauh karena lokasi antar rumah sampel lumayan berjauhan.

“Istirahat dulu mas e!” Tawar seorang pemuda dengan logat Jawa dari bawah pohon rindang. Setumpuk rumput tergeletak di sampingnya.

Semua tidak seperti yang aku bayangkan. Bengkulu Utara, tepatnya di daerah Ketahun dan sekitarnya didominasi para transmigran dari tanah Jawa. Mereka dikirim sewaktu jaman Soeharto sejak tahun 80’an.

Tinggal di sini, sudah tidak seperti di Sumatera saja. Masing-masing transmigran diberi sebidang tanah dan kebun kosong untuk digarap. Sawit dan karet pun jadi pilihan utama perkebunan. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya pohon sawit dan karet saja.

Kalau saja aku dibuang di tengah hutan sawit dan karet ini, aku tidak tahu apa aku masih bisa pulang apa tidak.

“Aku belum pernah ke Jawa, mas e!” cerita seorang pemuda yang tengah beristirahat mencari rumput. Mungkin umurnya sekitar 20’an tahun. Tapi dia hafal dengan nama daerah tanah leluhurnya.

“Saya asli Salatiga, pengen ke sana tapi ora punya duit toh mas e,” lanjutnya dengan dialeg Jawa yang kental.

Orang-orang di sini memang pintar berbahasa Jawa. Tapi tidak seorang pun dari mereka pernah pulang ke tanah asalnya, tanah Jawa. Pujakesuma, begitu mereka menyebutnya. Singkatan dari Putera-puteri Jawa Kelahiran Sumatera.

Pemuda itu pun ijin pamit pulang. Setumpuk penuh rerumputan ia bawa dengan memanggulnya di atas. Ya, mungkin inilah Sumatera Rasa Jawa.
Bersambung…

Yogie Agusubarnas, Kontributor Pedoman Bengkulu