Ilustrasi Kekeringan

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan, meski belum ada data resmi adanya sawah tadah hujan yang kekeringan, namun menurutnya potensi tersebut berkemungkinan juga terjadi.

“Kita secara resmi belum mendapat data dari kabupaten dan kota soal luasan sawah tadah hujan yang mengalami kekeringan di sejumlah daerah di Bengkulu,” kata Ricky, Sabtu (6/7/2019).

Maka dari itu, Ricky mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten dan Kota untuk mendapatkan gambaran luas sawah tadah hujan yang mengalami kekeringan.

“Kami akan berkoordinasi dulu dengan dengan Distan, untuk mendapatkan data resmi, daerah mana saja yang mengalami kekeringan,” lanjut Ricky.

Ricky juga mengatakan pihaknya sudah menghimbau agar masyarakat untuk memaksimalkan air irigasi agar dapat menghemat air, karena menurut Ricky sudah satu bulan tidak turun hujan.

“Akibat hujan tidak turun satu bulan, debit air sejumlah irigasi mulai berkurang. Kita sudah mengimbau petani agar berhemat menggunakan air irigasi dalam menyirami tanaman padi,” Lanjut Ricky.

Selain itu, Ricky mengatakan juga sudah mengimbau petani agar mengembang tanaman yang tidak membutuhkan air banyak, seperti palawija, jagung dan kedelai.

“Sebaiknya jangan menanam tanaman yang memerlukan air banyak, seperti jagung, kedelai, dan tanaman lainnya,” imbau Ricky.

Kemudian, Ricky mengatakan pihaknya sudah menyiapkan pompa air statis di Dinas TPHP untuk petani yang mebutuhkan bantuan, saat misim kemarau mendatang. Karena kata Ricky, menjadi masalah dasar, petani saat ini masih menggunakan curah hujan sebagai sumber pengairan. Maka dari itu pihaknya sudah mengajukan ke pemerintah pusat

“Kami ada tiga stock pompa air stastis yang bisa dipindah pindah, untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” tutup Ricky.

Diketahui, Luas Lahan pertanian persawahan yang ada di Provinsi Bengkulu adalah 86.000 hektare dengan 50 persen lahan irigasi teknis dan 50 persen lahan tadah hujan.

Dari luas lahan persawahan tersebut, dapat menghasilkan sekitar 700.000 gabah kering giling (GKG) setiap tahunnya. Beras yang dihasilkan dari gabah tersebut, selain untuk konsumsi masyarakat Bengkulu juga dipasarkan keluar daerah. [Medi Muamar]