PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Provinsi Bengkulu menjadi tuan rumah diselenggarakannya Rapat Koordinasi (Rakor) Gubernur se-Sumatera 2019 dengan tema “Peningkatan Peran Pulau Sumatera Dalam Percepatan Pembangunan Ekonomi Nasional”. Rakor ini akan dilaksanakan tanggal 8-10 Juli 2019 mendatang.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan, ada beberapa isu strategis yang akan dibahas nanti, diantaranya konektivitas pulau Sumatera dan penguatan Komoditas pulau Sumatera yang diangkat dalam Rakor Gubernur se-Sumatera tahun 2019.

Dijelaskan Rohidin, untuk isu konektivitas, yang pertama tentu kita tetap mendorong bersama seluruh Gubernur yang ada di Sumatera untuk menyambungkan atau mengoneksivitaskan antara Pulau Jawa dan Sumatera yaitu dengan membangun jembatan Selat Sunda.

Kemudian yang kedua, dalam kesempatan nantinya kita juga akan mendorong untuk mewujudkan konektivitas Tol laut di kawasan barat Pulau Sumatera, Samudra Hindia ini betul-betul menjadi solusi terhadap alur logistik dikawasan Sumatera, sehingga bisa mengendalikan inflasi menjadi lebih baik. Sehingga nanti rute jalur maritim yang dilalui Tol laut yang menghubungkan antara pelabuhan Tanjung Priuk kemudian panjang di lampung, Pulau Baai di Bengkulu,Teluk Bayur di Sumatera Barat kemudian Belawan di Sumatera Utara, dan berahir di Pelabuhan Sabang. yang sekarang sedang di rancang oleh pemerintah menjadi Pelabuhan besar di paling barat Pulau Sumatera.

“Jadi Tol laut ini harus kita dorong menjadi sebuah penggerak dan pengendali Inflasi yang efektif dikawasan Barat Pulau Sumatera,” papar Rohidin, Sabtu (6/7/2019).

Kemudian yang ketiga, lanjutnya, tentunya seluruh kepala daerah di Sumatera ingin bagimana pertumbuhan Ekonomi di Sumatera itu lebih berkontibusi secara produktif bagi pertumbuhan Ekonomi Nasional dengan cara bagaimana memacu pertumbuhan kawasan-kawasan ekonomi baru sehingga bagaimana mengoneksivitaskan antara kawasan Selat Malaka atau kawasan timur Pulau Sumatera dengan kawasan barat Pulau Sumatera.

“Maka kita harapkan bagaimana koneksivitas dari Bangka Belitung, kemudian kota Palembang, Prabumulih, kemudian Kota Bengkulu dan keluar di Pelabuhan Pulau Baai itu untu dikasawan paling selatan,” tutur Rohidin.

Kemudian, tambahnya, dikawasan tengah Pulau Sumatera, tentunya daerah Riau itu akan dikeluarkan ke arah Sumatera Barat sehingga keluar di Teluk Bayur kemudian dikawasan paling utara tentu dari Kawasan Timur Selat Malaka itu dihubungkan sehingga keluar di Belawan.

“Nah tiga potongan pertiga Pulau Sumatera ini yang akan menghubungkan Tol timur lintas Sumatera dari Lampung ke Sumatera Utara itu juga akan mebuat pertumbuhan kawasan ekonomi baru di samping juga akan menggerakan akselerasi ekonomi masyarakat agar menjadi lebih cepat,” jelas Rohidin.

“Kemudian yang keempat, kita ingin bagaimana Komoditas unggulan Sumatera itu betul-betul punya posisi tawar dan punya nilai ekonomi yang lebih besar, yang pertama Kopi, dimana Sumatera terkenal dengan kawasan Selatan yaitu Segitiga Kopi Sumatera, Lampung , Palembang dan Bengkulu dan sebagian besar juga ada Sumatera Utara dan Aceh maka kita bagaimana menyepakati antar Gubernur se-Sumatera agar membuat namanya Sumatera Kopi Treding House,” sampainya.

“Sehingga nanti ada pusat perdagangan kopi, sehingga punya pusat perdagangan Kopi yang terkoordinasi, sehingga Sumatera Kopi Treding House yang kita pusatkan bisa jadi di Bengkulu, sehingga dekat dengan kawasan Pulau Baai untuk pelabuhan besar, sehingga Kopi Sumatera betul-betul punya posisi tawar maupun posisi daya saing yang lebih besar dalam kancah Kopi nasional bahkan kopi dunia,” tambah Rohidin.

“Kemudian juga dengan CPO, kita tau persis bahwa perkebunan kelapa sawit itu salah satu terbesar di Sumatera, maka bagimana kita mendorong agar Undang-undang tentang perkelapasawitan agar dapat segera disahkan oleh pemerintah , karena agar bisa memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” ungkap Rohidin.

“Dimana lahan kita yang diperuntukan bagi perkebunan besar di Provinsi –provinsi Pulau di Sumatera itu begitu banyak bahkan ratusan ribu, namun kontibusi terhadap pendapatan dan kesejahteraan masyarakat itu masing sangat sangat minim, atau Undang-undang perkelapasawitan terkait dengan bagi hasil pendapatan negara terkait yang dari sektor ini perkelapasawitan ini juga perlu kita dorong,” tukas Rohidin.

“Kemudian yang kelima, tentu kerjasama antar Provinsi terkait dengan kebutuhan –kebutuhan maupun arus logistik barang, sehingga betul –betul dinamika ekonomi dikawasan Sumatera itu akan bisa tumbuh menjadi lebih baik, nah kira-kira itu isu penting yang akan kita angkat pada waktu Rakor untuk di Pulau Sumatera yang kita pusatkan di Bengkulu, yang mungkin nanti akan kita sebut dengan namanya memang Roundown Out Rafflesia, yang akan kita tandatangani bersama seluruh Gubernur di Pulau Sumatera,” cakapnya.

“Kita harapkan sekali lagi ini akan bisa berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Nasional, disamping untuk meningkatkan kesejahteraan kawasan masyarakat di Pulau Sumatera,” tutup Rohidin. [Medi Muamar/Rilis]